
"Nanney, kamu yang sabar ya, Nak. Percayalah sama Tante, semua akan segera terselesaikan dengan baik. Sekarang yang harus kamu pikirkan yaitu, kesehatan kamu dan calon buah hatimu." Ucap Bunda Sere memberi semangat untuk istri keponakannya.
Nanney masih terus melamun, tak tahu harus berkata apa dan menjawab apa. Haruskah untuk menangis? haruskah untuk bersedih? Nanney benar-benar tidak tahu apa yang harus ia pikirkan.
Bunda Sere yang mengerti dengan kondisi Nanney, Beliau terus menghiburnya.
"Tante," panggil Nanney yang akhirnya membuka suara.
"Ya Nak, ada apa?" tanya Bunda Sere masih duduk pada posisinya sambil memegangi tangan keponakannya.
"Bagaimana keadaan Kak Gane?" tanya Nanney tanpa menoleh pada Bunda Sere, justru pandangannya lurus ke depan.
"Tante belum mendapatkan kabar dari ayahnya David, mungkin sedang mengatasi permasalahan suami kamu. Berdoalah, semoga suami kamu baik-baik saja dan segera dibebaskan." Jawab Bunda Sere mencoba untuk meyakinkannya.
"Aku ingin bertemu dengan Kak Gane, aku ingin memberinya kabar ...." Tiba-tiba Nanney tak sanggup untuk meneruskan kalimatnya.
"Kenapa berhenti? kabar kehamilan kamu maksudnya? sampaikan saja kabar bahagianya pada suami kamu. Tante yakin jika Gane akan berusaha memperjuangkan untuk bisa bebas dari tahanan."
Nanney terdiam, sejenak mencoba untuk kembali berpikir.
'Aku sendiri tidak tahu, apakah kehamilanku ini adalah kabar bahagia untuknya? atau ... justru kabar buruk untuknya. Bukankah tujuan Kak Gane hanya ingin membalaskan dendamnya padaku? lantas, untuk apa aku memberi kabar kehamilanku ini kepada dirinya.' Batin Nanney dengan kecemasannya.
"Ada apa lagi, Nak? ayo ceritakan saja sama Tante."
"Tidak ada yang ingin Nanney ceritakan, Tante." Jawabnya setenang mungkin, berharap tidak akan ada yang mencurigainya.
"Oh ya, mulai nanti kamu tinggal saja di rumah utama. Lagi pula, kamu sendirian. Tidak baik seorang wanita hamil di rumah sendirian."
"Nanney tidak tahu, Tante. Nanney butuh waktu, lagi pula Nanney masih mempunyai keluarga di Kampung." Jawabnya beralasan, meski yang sebenarnya sangat malu jika dirinya harus pulang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sedangkan di tempat tahanan, Gane tengah berhadapan dengan Tuan Pras selaku Paman keduanya.
__ADS_1
"Gane, maafkan Paman yang tidak bisa membantumu untuk membebaskan kamu dari sel ini. Kasus yang kamu lakukan cukup berat, dan juga tidak ada bukti akurat mengenai siapa dalang dibalik pekerjaan mu itu." Ucap Tuan Pras dengan berat untuk mengatakannya.
"Tidak apa-apa, Paman. Sudah sudi menjenguk ku saja sudah senan, Paman." Jawab Gane setengah menunduk.
"Kamu tidak perlu khawatir, Paman akan bertanggung jawab atas istrimu. Kalau boleh diizinkan, Paman akan meminta sama kamu untuk mengizinkan istrimu tinggal di rumah utama." Kata Tuan Pras yang tidak lupa untuk meminta izin sama keponakannya.
Sejenak Gane terdiam untuk berpikir, sebab dan akibatnya ia kembali pikirkan. Takut, jika terjadi sesuatu pada istrinya kapanpun.
"Maaf, Paman. Aku serahkan semuanya pada istriku, dia berhak untuk memilih tempat tinggal nya." Jawab Gane yang kini tidak ingin memberi banyak aturan pada istrinya.
"Baiklah, jika memang sudah menjadi keputusan kamu. Kalau begitu Paman mau pamit pulang, lain waktu Paman datang kemari. Paman aku terus berusaha untuk membebaskan kamu dari sel tahanan ini." Ucap Tuan Pras, Gane mengangguk.
Setelah Tuan Pras berpamitan, Beliau segera pulang menuju rumah sakit.
Gane nampak frustrasi dan penuh penyesalan, dirinya tak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali untuk menepis pikiran buruknya, Gane mengusap wajahnya dengan kasar.
Kemudian, Gane kembali masuk dalam ruang tahanan dan kumpul dengan tahanan yang lainnya.
"Perkenalkan, namaku Iswan. Siapa nama kamu?" Tanyanya yang sudah berada di dekat Gane.
"Ganenta, salam kenal."
"Kenapa Lu, keinget bini?" tanya salah satu tahanan yang paling lama didalam sel tahanan tersebut. Gane menoleh padanya dan mengangguk.
"Ya, istriku di rumah sendirian. Sejak tadi malam, aku tinggalkan untuk beroperasi. Naas, aku harus mendapatkan sial." Jawab Gane sambil duduk dan bersandar pada tembok.
"Menyesal pun, sudah tiada guna. Aku hanya bisa menyemangati kamu, semoga kasus mu segera di proses." Ucapnya, Gane mengangguk pelan.
"Terimakasih, sebaliknya juga. Semoga anda segera dibebaskan dari tempat terkutuk ini." Jawab Gane, Iswan hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku tidak begitu berharap untuk bebas dari lapas ini, karena bagiku percuma saja jika aku dibebaskan." Kata Iswan sambil memainkan tangannya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gane penasaran.
"Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, aku seorang diri. Aku yang gagal menjadi seorang ayah dan juga suami." Jawabnya, kemudian langsung menundukkan kepalanya.
Saat itu juga, hati Gane seakan tersentuh dengan ucapan dari Iswan. Bayang-bayang istrinya pun, kini tengah masuk dalam ingatannya.
"Memangnya anak dan istrimu, kemana?" tanya Gane memberanikan diri karena rasa penasarannya.
"Anak dan istriku sudah meninggal akibat kesalahanku. Aku begitu mengabaikan keberadaan mereka berdua, hingga aku terjerumus dalam lembah penuh dosa." Jawabnya yang tidak berani menatap wajah Gane.
"Meninggal? meninggal karena apa? kamu tidak membunuhnya, 'kan?" lagi-lagi Gane terus bertanya. Iswan menggelengkan kepalanya pelan.
Karena tidak ingin bertanya lebih dalam dan takut menyakiti hatinya, Gane memilih untuk menyudahi memberi pertanyaan untuk Iswan.
Sedangkan di tempat lain, Ciko tengah berhadapan dengan Doin. Keduanya terlihat begitu serius saat membicarakan sesuatu.
"Aku tidak mungkin menemui istrinya Bos Gane. Jadi, aku minta sama kamu untuk menemui Nona Nanney di rumahnya." Ucap Ciko memberi perintah kepada Doin.
"Baiklah, aku akan segera mendatangi rumah Tuan Gane. Tapi, alasan apa lagi jika tidak mempercayai ku." Jawab Doin.
"Alasan apa saja, yang terpenting alasan kamu itu masuk di akal." Kata Ciko yang tidak bisa memberi alasan untuk Doin.
"Ya sudah, aku berangkat sekarang saja." Jawab Doin dan segera bersiap-siap untuk berangkat menemui istri Tuannya.
"Pergilah, biar aku yang akan mengurus semuanya. Kamu cukup lakukan sesuai perintah ku. Karena setelah menemui istri Bos Gane, kamu harus pergi menjenguknya ke lapas." Ucap Ciko sembari mengingatkan, Doin mengangguk dan pergi dari rumahnya.
Kini, tinggallah Ciko yang sendirian tengah sibuk dengan laptopnya. Karena tidak bebas untuk pergi keluar dalam beberapa waktu, Ciko memilih Doin untuk menggantikan nya.
Sampainya di depan rumah Gane yang ditempati bersama sang istri, Doin segera turun dari mobilnya. Dilihatnya rumah tersebut sudah ada pembatas polisi yang mengitari rumah milik Gane.
Tentu saja, semua warga dibuatnya heboh. Doin yang penasaran dan kepikiran sosok Nanney, ia mencoba untuk bertanya dengan warga sekitar. Berharap akan mendapatkan jawabannya.
__ADS_1
"Kemana perginya Nona Nanney? aku harus menghubungi Ciko terlebih dahulu, karena ini jauh lebih penting dari apapun." Gumam Doin yang terus memikirkan keberadaan istri Tuannya.