
Danu masih sangat terkejut tatkala melihat banyak foto dirinya yang begitu banyak di ponsel kakak iparnya. Bahkan, ada foto pernikahan yang cukup mewah.
Danu terus mencoba sebisa mungkin untuk mengingatnya kembali. Mana tahu jika dirinya bisa ingat dengan foto tersebut, tetap saja tak dirinya masih tak mampu untuk mengembalikan ingatannya.
Semakin banyak berpikir, semakin serasa sakit kepalanya. Danu memijat bagian pelipisnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sebenarnya, foto siapa ini? pantas saja sangat terkejut melihatku. Karena diriku begitu mirip dengan lelaki yang ada di foto ini, tentu saja akan shock." Gumamnya lirih.
Saat itu juga, Henny datang menghampirinya.
"Mas Danu kok belum berangkat?" tanya Henny memergoki.
Cepat kilat bak petir menyambar, suami Henny langsung mengembalikan ke layar depan dan langsung menekan tombol pada ponselnya agar tidak menyala.
"Ini ponselnya, rupanya hanya nge blank saja. Jadi, tidak perlu diperbaiki." Jawab Danu dan menyodorkan ponselnya.
"Serius?"
Henny mencoba untuk memastikan.
"Ya, aku serius. Kalau tidak percaya, coba nyalakan layarnya." Kata Danu dan mengangguk.
"Ah ya, benar. Terimakasih banyak ya Mas. Kak Nanney pasti sangat senang, soalnya mau menghubungi suaminya." Ucap Henny yang tak lupa untuk tersenyum.
Saat istrinya kembali ke belakang, Danu terus mencoba untuk mengembalikan ingatannya. Namun, tetap saja tidak bisa mengingat walau hanya namanya sendiri.
"Aku harus meminta penjelasan dengannya, apapun itu." Gumamnya dengan rasa penasaran.
__ADS_1
Sedangkan di dapur, Henny menghampiri kakaknya.
"Kak Nanney," panggil Henny sambil berjalan mendekati sang kakak.
"Ya Hen, ada apa?" sahutnya dan bertanya.
"Ini ponselnya Kakak sudah jadi." Jawab Henny dan menyodorkan ponsel milik kakaknya.
"Sudah jadi, yang bener Hen?"
"Ya Kak, aku serius. Nih, coba Kakak nyalakan sendiri layar ponselnya."
"Awas ya, kalau kamu mengerjai Kakak." Ucap Nanney sambil menerima ponsel miliknya.
"Tenang saja, Kakak tidak perlu mengerjai aku. Yang ada Kakak akan sibuk dengan ponsel kakak sendiri." Jawab Henny dan tertawa kecil, sang kakak pun tersenyum dan mencoba untuk memastikan yang dikatakan adiknya adalah benar.
Betapa terkejutnya saat melihat ponsel milik sendiri benar-benar dapat dinyalakan kembali. Saat itu juga ia mencoba untuk membuka galeri, dan muncul lah foto pengantin , yakni foto dirinya bersama Regar suaminya yang pertama.
'Jangan-jangan ....' Batin Nanney menerka-nerka.
"Kak Nanney, Kakak kenapa?"
"Kamu, ngagetin Kakak saja. Jangan khawatir, tidak ada apa-apa dengan Kak Nanney. Oh ya, bilangin ke suami kamu kalau Kakak sangat berterimakasih banyak atas perbaikan ponselnya." Jawab Nanney berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaan pada adiknya.
"Ya Kak, nanti. Sekarang Nanney mau menyiapkan sarapan pagi terlebih dahulu, baru deh menyampaikannya pada Mas Danu." Kata Henny yang tak lepas dengan senyumnya.
"Ada apa dengan kalian berdua? perasaan dari tadi sibuk membicarakan sesuatu." Tanya Nenek Aruma ikut menimpali.
__ADS_1
"Ini Nek, ponselnya Kak Nanney sudah bisa diperbaiki oleh Mas Danu." Jawab Henny berterus terang.
"Oh, kirain Nenek ada apa. Syukurlah kalau ponselnya Nanney sudah diperbaiki, kamu bisa menghubungi suami kamu." Ucap sang Nenek Aruma, Nanney mengangguk dan tersenyum.
"Ya Nek, nanti mau mencoba menghubungi suami Nanney, semoga saja bisa dihubungi." Jawabnya untuk meyakinkan.
Tidak peduli jika harus berbohong, Nanney tak mempunyai pilihan lain selain menyembunyikan kebenaran. Takut, Nenek Aruma akan murka jika mendengar suaminya adalah seorang nara pidana. Tentu saja, perpisahan adalah saran yang terbaik, pikir Nanney dengan ketakutannya.
"Semoga saja suami kamu sedang tidak sibuk. Jadi, bisa menerima panggilan darimu." Ucap Nenek Aruma dan mengusap punggung milik Nanney.
"Kalau terus mengobrol, kapan selesainya." Sindir Henny dan melanjutkan kesibukannya di dapur, yakni memasak sayur dan menggoreng lauk.
"Ah ya, kamu benar. Nek, kita berdua mau lanjut masak dulu. Takutnya nanti kesiangan, keburu laper, Nek." Timpal Nanney.
"Yang kamu katakan itu memang benar, bukankah kamu ini paling tidak bisa menahan lapar?"
Saat itu juga, Nanney teringat pada Gane suaminya. Yang mana dirinya selalu merengek untuk mencari makanan karena tidak bisa menahan rasa lapar. Kenangan yang terkadang sangat menyakitkan, dan kini berubah menjadi sebuah kerinduan.
Rasa yang sudah tidak sabar, ingin rasanya segera menghubungi suaminya dan menanyakan keadaan suami yang berada dibalik jeruji besi. Tapi, ia sadar tidak akan bisa menghubungi suaminya karena keadaan.
Hanya melalui anak buahnya lah, Nanney meminta tolong. Tapi, itupun juga sangat sulit, pikir Nanney dengan dilema.
Satu sisi sosok yang mirip suaminya, satu sisi lagi ada suami yang tengah menjalani hukuman. Mana yang benar dan mana yang salah, benar-benar belum dapat ia temukan jawabannya.
"Nanney, kamu kenapa terus melamun?"
"Nenek, tadi lagi bayangin suami Nanney kalau sudah sampai di rumah Nenek, pasti jadi rame ya, Nek." Jawab Nanney yang tak pernah lepas dari alasan.
__ADS_1
"Kamu ini bisa saja, ya sudah kalau melanjutkan masaknya. Nenek mau kasih pakan ayam, dan menyapu belakang rumah." Kata Nenek.
"Ya Nek." Jawab Nanney dan melanjutkan membantu adik perempuannya yang tengah memasak.