Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mengobati


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Gane masih terus menahan rasa sakitnya pada bagian lengan.


"Bos, mau pulang kemana?" tanya Ciko.


"Pulang ke rumahku saja." Jawabnya sambil memegangi tangan yang sebelah.


"Tapi Bos, apa tidak dicurigai oleh istrinya Bos sendiri?"


"Aku rasa tidak akan curiga, aku bisa beralasan dengannya. Kalau aku ikut pulang bersama mu, kasihan istriku." Jawab Gane yang tidak ingin membuat istrinya cemas dan merasa dibohongi oleh dirinya.


'Istriku? jangan-jangan Bos Gane sudah tergoda nih sama Nona Nanney, baguslah kalau begitu.' Batin Ciko sambil senyum senyum tidak jelas.


"Senyum-senyum, lagi. Tidak ada yang lucu, ngerti."


"Eh Bos Gane, aku sedang membayangkan sesuatu tadi."


"Terserah kamu saja, yang jelas aku tidak akan ikut kamu. Satu lagi, dalam seminggu ini kita libur dulu demi keselamatan kita." Ucap Gane dan memberi perintah pada Ciko.


"Kita tidak punya pemasukan dong, Bos." Kata Ciko.


"Makanya cari pekerjaan sampingan, biar kamu tidak bertambah miskin dan malas." Ucap Gane sambil menahan rasa sakit.


"Ah ya, ya. Benar sekali yang diucapkan Bos Gane, saran yang bijak dan juga baik." Kata Ciko dibarengi anggukan.


Tidak lama kemudian, Gane telah sampai didepan rumahnya. Segera ia turun dari mobil.


"Ingat pesanku yang tadi, libur satu minggu." Ucap Gane yang tidak lupa untuk memberi pesan pada Ciko.


"Ya, Bos. Tenang saja, kita tidak akan beroperasi selama waktu yang ditentukan oleh Bos Gane." Jawab Ciko, sedangkan Gane segera balik badan dan menuju pintu rumahnya.


Nanney yang mendengar ketukan pintu, ia pun kaget dibuatnya. Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Nanney membuka pintunya.


"Kak Gane, tangan Kakak kenapa? kok diikat kain?" tanya Nanney dengan terkejut saat mendapati suaminya seperti terluka, pikirnya.

__ADS_1


"Kau tutup dan kunci pintunya, cepat." Perintah Gane tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Ya, ya ya." Jawab Nanney dan segera menutup serta mengunci pintunya. Kemudian ia mengejar langkah kaki suaminya, Gane sendiri langsung masuk ke kamar dan duduk di sofa.


"Cepat kau ambilkan kotak obatnya, bantu aku untuk mengobati luka pada tanganku ini." Perintah Gane sambil menunjuk pada kotak obat, Nanney segera mengambilnya.


"Bantu aku, jangan menghindar."


"I-iya, aku aka membantu Kakak untuk mengobati lukanya." Jawab Nanney sambil membuka kota obatnya.


"Kakak dari mana? kenapa bisa terluka seperti ini?" tanya sang istri sambil melepaskan ikatan pada bagian lengan yang terluka.


Saat tidak ada kain yang menempel di badan sang suaminya, Nanney benar-benar terkejut ketika melihat lukanya.


"Kak, ini harus dibawa ke Dokter."


"Ini sudah larut malam, tidak ada waktu untuk pergi ke Dokter. Cepat kau bantu aku untuk mengobati lukaku ini, jangan banyak bicara." Jawab Gane sambil menatap pada istrinya dengan tatapan yang tajam.


Nanney yang tidak ingin sang suami bertambah murka, ia memilih untuk mengobati lukanya. Meski ada rasa takut dan ngilu saat melihat luka itu, sebisa mungkin untuk tetap tenang.


"Kau kenapa? kelihatannya kamu mencurigai ku? ayo jawab." Tanya Gane yang seolah olah dapat membaca ekspresi sang istri maupun membaca pikirannya.


"Tidak, aku tidak mencurigai Kakak. Aku hanya merasa bingung saja, kenapa Kak Gane bisa terluka seperti ini? serius, hanya itu yang mengganjal didalam pikiranku." Jawab Nanney sambil membalut lukanya.


"Tentu saja bisa, namanya juga musibah." Kata Gane beralasan sambil memperhatikan sang istri tengah menutup kembali kotak obatnya.


"Ya, aku tahu jika musibah bisa datang kapan saja. Bahkan, tidak melihat tanggal merah sekalipun." Ucap Nanney, kemudian ia mengembalikan kotak obatnya di tempat semula.


"Mau aku buatkan minuman, kopi, susu, atau teh?"


"Tidak perlu, aku tidak menginginkan minuman apapun. Sudah lewat larut malam, sebaiknya kita tidur saja." Jawab Gane, kemudian ia melepas celana panjangnya dan menyisakan celana kolornya saja.


Kemudian, Gane masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, gosok gigi, serta buang air kecil. Setelah itu, Gane menuju tempat tidur.

__ADS_1


Sedangkan Nanney sudah berada di tempat tidur dengan posisi miring ke kanan dan berbalut selimut tebal. Diam, tenang, tetapi tidak untuk memejamkan kedua matanya. Berbeda dengan Gane, ia tidur dengan posisi berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.


Sekilas, Gane menoleh pada sang istri dan menggeser posisinya dan jarak keduanya sangatlah dekat. Gane mencoba memeriksa istrinya, apakah sudah tidur ataukah belum? pikirnya.


Nanney yang merasakan sesuatu ada yang mendekat, ia memejamkan kedua matanya. Berharap, apa yang dilihat sang suami benar adanya jika dirinya sudah tertidur pulas.


Gane tersenyum, meski sebenarnya ia tahu jika sang istri masih terjaga dengan kesadarannya. Terdengar begitu jelas dengan hembusan napasnya itu, Gane segera mencari ide untuk membuat istrinya terbangun dari tidurnya.


Pelan-pelan, Gane mendaratkan ciumannya tepat pada pipi kiri milik istrinya. Saat itu juga, dengan reflek Nanney langsung menoleh dan tanpa disengaja, bibir mereka berdua saling menempel dan membulatkan bola matanya masing-masing.


Gane langsung membenarkan posisinya dan memilih untuk bersandar dengan kaki kiri terangkat. Sedangkan Nanney memilih untuk kembali ke posisi semula sambil meringkuk.


Naas, Gane menarik tubuh istrinya hingga duduk bersebelahan dan merangkul tubuh istrinya.


"Kak, lepaskan tangannya. Aku sangat mengantuk, aku ingin tidur." Ucap Nanney berusaha untuk lepas dari rangkulan sang suami.


Bukannya melepaskan, justru Gane mempererat hingga Nanney terasa sulit untuk bernapas dengan leluasa dan membuatnya menjadi batuk.


"Kenapa kamu masih belum juga tidur?"


"Aku kangen kampung halaman, eh." Jawab Nanney keceplosan, saat itu juga langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Kamu kan, bisa menghubunginya. Bisa lewat video, bisa suara, dan lewat pesan." Kata Gane yang mulai merenggangkan rangkulannya.


"Aku ingin bertemu dengan keluarga ku, tapi aku tidak bisa untuk memaksakan diriku ini." Jawab Nanney dengan lesu.


"Apakah Kakak mau mengantarkan aku pulang ke kampung halamanku?" tanya Nanney yang akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang atas permintaannya itu.


"Aku sedang tidak ada waktu, bukan berarti aku tidak mau. Apa kamu tidak lihat dengan kondisi ku yang sekarang ini? jadi bersabarlah jika kamu ingin pulang ke kampung halaman kamu." Jawab Gane masih dengan posisinya.


"Ya, aku mengerti. Aku pun tidak akan memaksa Kakak untuk mengantarkan aku. Kalau diizinkan, aku bisa kok pulang sendirian." Kata Nanney dengan entengnya.


Gane yang mendengarkan nya pun, ia langsung menatap sang istri dengan tajam dan mendekatkan wajahnya pada istrinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah mengizinkan mu pergi sendirian, kemanapun itu." Ucapnya


__ADS_2