
Dengan rasa lega yang tidak ada lagi sesuatu mengganjal pikirannya itu, yakni selama berada dalam genggaman dari seorang kakak ipar, Nanney merasa jauh lebih tenang dan tidak lagi tegang.
"Kak Ciko," panggil Nanney dan tanpa malu malu ia langsung duduk disebelah Ciko.
"Nona, jangan duduk di dekat saya. Nanti Bos Gane bisa marah besar terhadap saya, bahkan terhadap Nona sendiri." Ucap Ciko yang sebenarnya ada rasa takut jika Gane mendapati Nanney yang tengah duduk didekatnya.
"Tenang saja, bukankah Kak Gane akan menikah. Jadi, tentu saja tidak ada yang perlu dimarahin." Jawab Nanney yang tetap bersikukuh atas pendiriannya itu.
"Nona, saya tahu kalau Bos Gane mau menikah. Pasalnya, wanita yang akan dinikahi Bos Gane itu Nona Nanney." Kata Ciko.
Saat itu juga, Nanney sangat terkejut mendengar penuturan dari Ciko. Seketika, ingatannya terkumpul menjadi satu dan tidak lupa pula membulatkan kedua bola matanya.
"Apa! menikah denganku? oh! apakah yang diucapkan Kak Ciko itu benar? tidak, tidak mungkin." Ucap Nanney dengan reflek, kemudian ia memukul kepalanya berulang ulang untuk menyadarkan ingatannya sendiri.
"Bukankah Bos Gane sudah mengatakannya langsung pada Nona? coba diingat ingat lagi, Nona. Takutnya di antara Nona dan Bos Gane ada yang amnesia dadakan, maaf." Kata Ciko mengingatkan.
"Ah ya, kenapa Kak Ciko tidak bilang dari tadi sih. Seharusnya Kak Ciko itu berkata jujur padaku, Kak Ciko payah." Ucap Nanney dibuat cemberut.
"Kok saya yang disalahin. Kan, tadi saya sudah bilang sama Nona, kalau Bos Gane itu mau menikah. Bukankah Bos Gane sudah bilang sendiri sama Nona? kalau Bos Gane mau menikahi Nona setelah melewati empat puluh harinya Tuan Regar." Ucap Ciko kembali membenarkan ucapannya.
Nanney yang sudah sadar dan mengingat semuanya, dirinya hanya bisa menggaruk kepalanya berulang ulang.
"Nona, sebaiknya Nona duduk disebelah sana. Takutnya Bos Gane akan berprasangka buruk terhadap saya, dan reputasi saya akan hancur. Tentu saja saya akan didepak dari pekerjaan yang sedang saya tekuni ini, dan saya minta untuk menyingkir lah." Ucap Ciko sembari mengusir Nanney yang masih dengan posisinya duduk disebelahnya.
Nanney yang juga tidak ingin menghancurkan pekerjaan Ciko yang satu satunya, akhirnya ia memilih untuk berpindah posisi.
Tidak lama kemudian, Gane keluar dari kamarnya dengan penampilan yang terlihat cukup memulai siapapun yang melihatnya. Sekilas Nanney memperhatikan penampilan kakak iparnya.
'Dih! kenapa ABG tua itu terlihat keren, ya. Aduh aduh Nanney, sadar dikit kenapa. Itu ABG yang sangat kejam, tidak punya hati nurani. Ingat Nanney, bentar lagi juga bakal nyiksa kamu.' Batinnya setengah kagum dan juga berdecak kesal padanya.
"Kalian berdua sedang ngapain? serius sekali kalian berdua ini." Tanya Gane dengan segala tuduhannya.
__ADS_1
Tidak ingin menjadi tersangka, Nanney langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Kita berdua ini sedang menunggu Kak Gane, serius. Habisnya lama banget, mandi aja sudah seperti berendam nya kaum perempuan." Jawab Nanney tanpa malu dan takut.
"Banyak alasan saja kau ini, cepat kau ambilkan sarapan paginya untukku." Perintah Gane, seorang Nanney hanya bisa mengangguk dan segera menuju ruang makan untuk melayani kakak iparnya.
"Cik, ayo kita sarapan terlebih dahulu. Setelah sarapan, kita akan langsung berangkat." Ajak Gane, tidak lupa juga untuk memberi perintah pada Ciko.
"Ya, Bos." Jawabnya singkat, kemudian ia langsung mematikan laptopnya dan bangkit dari posisinya menuju ruang makan.
"Duduklah di sampingku." Perintah Gane sambil menepuk kursi yang ada disebelahnya.
"Aku." Jawab Nanney sambil menunjuk pada diri sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ya, kamu. Memangnya siapa lagi di rumah ini kalau bukan kamu orangnya, cepat." Kata Gane diakhiri dengan nada yang cukup tinggi.
Ciko hanya bisa memperhatikan, namun tidak mampu untuk melerainya.
"Maaf, ada apa ya Kak?" tanya Nanney ingin tahu.
"Duduklah." Perintah Gane sambil menepuk kursi yang ada disebelahnya.
Nanney mengarahkan pandangannya pada Ciko, seakan dirinya tengah meminta pendapat darinya. Ciko yang tidak ingin Nanney akan mendapatkan masalah jika menolak, akhirnya ia menganggukkan kepalanya serasa memberi kode untuk Nanney.
Karena tidak ingin bertambah panjang urus urusannya, dengan terpaksa Nanney duduk di sebelah kanan kakak iparnya.
"Suapin aku," perintahnya tanpa menoleh pada Nanney.
Seketika, Nanney maupun Ciko terkejut mendengarkan permintaan dari Gane yang terbilang tidak masuk akal itu.
"Menyuapi Kakak?" tanya Nanney untuk memastikan, tentu saja ia seperti tidak percaya mendengar perintah dari Gane.
__ADS_1
Saat itu juga, Gane menoleh padanya dan menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Ya, cepat kau suapi aku. Jangan banyak tanya, apa lagi protes." Ucapnya, Nanney sendiri mengiyakan dan segera menyuapi kakak iparnya bak suami sendiri yang tengah sakit.
'Dih! udah tua juga, ada ada saja tingkah anehnya. Makanya buruan menikah, gini nih kalau udah kadaluarsa. Makan aja minta disuapin. Ini mah bukan ABG tua lagi, tapi bayi tua.' Batin Nanney sambil memberi satu suapan pada kakak iparnya.
Ciko yang melihatnya serasa bergidik ngeri saat mendapati sikap Bosnya yang mendadak aneh.
'Bos Gane sedang tidak ada gangguan, 'kan? apa karena tidak kunjung menikah? terus efeknya jadi kek gini. Ngeri sekali kau ini, Bos. Aku pun sama tuanya kek kamu, tapi aku masih waras.' Batin Ciko sambil menyuapi dirinya sendiri dan mengunyah makanan hasil masakan dari Nanney.
Sedangkan Gane masih menikmati sarapan paginya dari suapan ke suapan selanjutnya dan tidak sadarkan diri sudah menghabiskan satu mangkok bubur dan juga sup udang.
"Cukup, aku sudah kenyang." Ucap Gane sambil menyetop suapan yang sudah didepan mulutnya.
Dengan kesal, Nanney langsung memasukkan satu suapan tersebut pada mulutnya sendiri.
"Sangat bagus, kau harus terbiasa memakan bekas dariku." Ucapnya dengan enteng, lalu bangkit dari posisi duduknya.
"Cepat kau habiskan makananmu itu, waktu kita tidak banyak." Ucap Gane yang tidak menyukai sesuatu yang lambat.
"Ya Bos, ya." Jawab Ciko dan segera minum untuk mencuci mulutnya sehabis sarapan.
Kini, tinggal Nanney yang masih di ruang makan. Bukan karena kesal, justru ia merasa bebas ketika mendengar kakak iparnya mengajak anak buahnya untuk pergi keluar.
"Yes! aku bakal bebas di rumah ini. Secara, ABG tua itu mau pergi dari rumah terkutuk ini." Gumamnya dibarengi dengan senyumnya yang mengembang.
Karena perut sudah terasa keroncongan, Nanney segera menikmati sarapan paginya.
"Jangan harap kau bisa bebas di rumah ini, lihat itu." Ucap Gane mengagetkan serta menunjuk pada sebuah CCTV yang terpajang pada setiap sudut ruangan.
Seketika, Nanney hanya bisa nyengir kuda ketika kakak iparnya menunjuk pada sesuatu yang sudah ditakutinya.
__ADS_1