Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Ancaman


__ADS_3

"Tidak, Nona. Tidak sopan jika saya memanggil Nona hanya sebutan nama saja, mau bagaimanapun Nona adalah istri dari Tuan Muda Regar." Ucapnya, Nanney hanya tersenyum tipis pada asisten kepercayaan keluarga Huttama.


"Baiklah, terserah mbak Lina saja. Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih atas kebaikan mbak Lina terhadap saya, yang sudah menemani saya selama di rumah sakit." Ucap Nanney berterimakasih kepada asisten rumah suaminya.


"Semua itu sudah menjadi tugas saya, Nona." Ucapnya setengah membusungkan badannya.


"Mbak Lina," panggil Nanney sambil mengambil remot televisi.


"Ya, Nona."


"Temani saya ya, Mbak. Saya sendirian, tidak apa apa, 'kan? kalau mbak Lina takut, mbak Lina bisa kembali melanjutkan kerjanya." Pinta Nanney dengan hati hati.


"Nyonya Sere tadi sudah memberi perintah kepada saya untuk menemani Nona, tidak ada yang perlu Nona takutkan." Jawabnya memperjelas ucapannya.


"Bener nih Mbak? takutnya mbak Lina bohong, lagi. Saya takut jika mbak Lina dipecat gara gara saya." Ucap Nanney sedikit takut, pasalnya dirinya pendatang baru di kediaman keluarga suaminya.


"Mbak Lina duduk saja disini, jangan di lantai."


"Tidak, Nona. Tidak sopan, saya akan membereskan kamar ini sambil menemani Nons." Kata mbak Lina sedikit canggung, Nanney tersenyum mendengarnya.


"Mbak Lina kenapa harus malu, kita ini sama. Saya juga bukan siapa-siapa lagi, Mbak." Ucap Nanney dengan suara lembut.


"Nona, biarkan saya untuk beresin kamar Nona. Saya minta untuk tidak mengajak mengobrol, lebih baik Nona istirahat saja seperti yang diminta oleh Nyonya Sere." Kata mbak Lina.

__ADS_1


"Ya sudah kalau maunya mbak Lina ingin beresin kamar, saya tidak memaksanya ya Mbak." Ucap Nanney, mbak Lina mengangguk dan tersenyum. Setelah itu segera membereskan kamar milik Regar.


Nanney yang tidak tahu harus berbuat apa, dirinya bagaikan rumah tanpa penyangga. Tidak dapat untuk berdiri, hanya bisa tertunduk sedih dan lebih banyak untuk melamun.


Pandangannya memang pada televisi, tetapi pikirannya entah kemana. Ingin berteriak sekencang mungkin, itupun tidak akan bisa dilakukan oleh Nanney. Hanya bisa pasrah dan pasrah atas takdir yang sudah digariskan untuk dirinya.


Karena merasa bosan duduk dengan posisi menghadap televisi, akhirnya Nanney memilih untuk pindah tempat. Nanney memilih ke balkon, serasa leluasa untuk menatap luar.


Benar, apa yang ada dalam bayangan Nanney memang benar adanya. Sepasang matanya benar benar dapat melihat sesuai angannya, pandangan yang cukup luas tertuju pada langit biru dengan cuaca yang sangat cerah.


Entah ada angin apa, Nanney merentangkan kedua tangannya sambil mendongak dan memejamkan kedua matanya perlahan lahan.


Disaat itu juga, dari bawah ada yang memperhatikan Nanney yang terlihat seperti orang yang ingin menyudahi hidupnya. Cepat cepat segera masuk ke dalam rumah untuk menghentikan aksi dari Nanney yang konyol itu, pikirnya.


"Aaaaa!!!" teriak Nanney dengan kaget dan tentunya hampir saja keduanya terjatuh di lantai bersamaan. Dengan sigap, Gane langsung menangkap tubuh Nanney. Keduanya saling beradu pandang satu sama lain, bahkan napas Gane menyembur dengan hangat. Seketika, detak jantung milik Nanney bergemuruh tidak karuan.


Disaat itu juga, Gane langsung melepaskan tangannya yang tengah menahan berat badan adik iparnya.


Nanney yang mendapati bentakan dari sang kakak ipar, ia benar benar merasa ketakutan. Seumur hidupnya ia tidak pernah mendapatkan bentakan dari seorang laki laki. Bahkan dari suaminya sendiri sekalipun.


"Maaf, Kak. Aku benar benar tidak ada maksud untuk bunuh diri. Aku hanya ingin menghiruo udara saja, selama hampir satu minggu aku berada di rumah sakit. Aku baru pulang kemarin sore, Kak. Maafkan aku yang sudah membuat salah arti, sekali lagi maafkan aku." Ucap Nanney sebaik mungkin, berharap ucapannya dapat dimengerti oleh kakak iparnya.


"Minta maaf Kau bilang, apa Kau sudah lupa dengan musibah yang sudah terjadi? ha! enak saja hanya bilang minta maaf." Kata Gane dengan sinis, bahkan tatapannya terlihat sangat menakutkan.

__ADS_1


Nanney yang tidak mampu ketika menatap kakak iparnya, dirinya memilih untuk menundukkan kepalanya. Gane yang tidak menyukai hal tersebut, ia langsung menyentuh dagu milik adik iparnya dan mendongakkan pandangannya tepat di hadapannya.


"Aku peringatkan sekali lagi sama kamu. Ingat baik baik, bahwa kamu harus membayar nyawa adikku yang tidak ditemukan." Ancam Gane sambil menatap tajam pada adik iparnya.


Nanney yang mendapatkan tatapan tajam dari kakak iparnya, tiba tiba detak jantungnya berdegup sangat kencang. Bukan karena jatuh cinta, tetapi rasa takut yang begitu sulit untuk ia kendalikan.


"Maafkan aku, Kak. Aku benar benar tidak tahu jika akan terjadi musibah seperti ini. Andai aku tahu, maka aku tidak akan menerima ajakan Regar untuk liburan ke pulau itu, Kak." Ucap Nanney apa adanya, Gane sendiri tersenyum menyeringai.


"Ini semua gara gara menikah denganmu, adikku harus menjadi korban. Kenapa bukan kamu saja yang mati tenggelam dan dimakan binatang buas, paham." Ucap Gane, kemudian ia mendorong kuat tubuh Nanney hingga terpental dan terbentur pada dinding kamar.


BRUG


Nanney tidak bersuara, dirinya hanya meringis kesakitan. Tentunya tidak lepas dengan bitiran air mata yang membasahi kedua pipinya.


Gane sendiri masih memperhatikan Nanney dengan tatapan kebencian, bahkan ingin rasanya menghabisi perempuan yang menjadi adik iparnya.


Gane berjalan mendekat, kemudian ia jongkok dihadapan Nanney. Kemudian ia kembali memegangi dagunya, dan menghadapkan wajahnya Nanney di hadapannya.


"Bagaimana rasanya? tidak sakit, 'kan? tadi iti tidak seberapa dengan nyawa yang sudah melayang karena mu. Ingat, aku tidak akan pernah melepaskan kamu dari genggamanku. Aku akan terus menyiksa mu sampai aku puas, sampai terbalaskan dendamku atas kepergian adik kesayanganku." Ucap Gane yang tidak lupa dengan seringainya.


Nanney yang tidak berdaya, dirinya hanya bisa diam membisu. Pikirannya begitu sulit untuk berpikir, ditambah lagi dengan sikap kakak iparnya yang begitu kasar.


"Asal kamu tahu, aku susah payah untuk membuatnya bahagia, bahkan nyawaku sendiri yang harus menjadi taruhannya untuk membesarkan adik kesayanganku. Dan kini, dengan mudahnya kamu menghilangkan nyawanya begitu saja." Ucap Gane penuh dengan kebenciannya terhadap Nanney.

__ADS_1


"Aku mohon, maafkan aku. Bila aku harus dipenjara, laporkan saja aku. Aku siap menerima tuduhan dari mu, Kak Gane. Tapi aku mohon, jangan siksa aku." Jawab Nanney dengan gemetaran, sebisa mungkin untuk tidak menatap kakak iparnya.


"Enak saja laporin ke polisi, sia sia aku tidak bisa menghukum kamu. Ingat, aku akan memenjarakan kamu di rumah ini. Kamu harus membayar nyawa adikku, apapun itu. Aku akan mengurung mu di rumah ini, tentunya status kamu tidak jauh dari pelayan." Ucap Gane, kemudian ia tertawa.


__ADS_2