Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Teringat dengan mimpinya


__ADS_3

Gane yang masih bersikukuh dengan apa yang sudah menjadi tekadnya, ia akhirnya duduk disebelah istrinya.


"Kakak mau ngapain?" tanya Nanney sedikit menggeser tempat tidurnya. Entah ada angin apa, Gane tiba-tiba tersenyum padanya dan membuat seorang Nanney bergidik ngeri dibuatnya.


"Mau menemani mu tidur disini, kenapa?"


"Tidak apa-apa, eh maksudnya bukan begitu. Kak Gane tidur aja di kamar, biarkan aku tidur di sini." Kata Nanney yang takut dengan sesuatu hal yang sulit untuk ia cerna.


Gane yang malas berucap, ia langsung menggendong istrinya dengan paksa. Saat itu juga, Nanney terkejut ketika dirinya digendong suaminya.


"Kak, lepaskan aku. Turunkan aku sekarang juga, aku bisa jalan sendiri." Rengek Nanney sambil melepaskan diri, sedangkan tenaga Gane jauh lebih kuat darinya.


"Jangan banyak bicara, atau kita akan melakukannya malam ini juga." Ancam Gane dengan menakuti istrinya, Nanney yang mendengarkannya pun, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Diamlah, jangan banyak bicara. Aku lelaki normal, ingat itu." Kata Gane yang terus memberi ancaman kepada istrinya. Nanney yang takut terjatuh begitu saja, akhirnya melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami.


'Suamiku sedang bercanda, 'kan? bagaimana ini, jika suamiku nekat melakukannya denganku. Apa yang harus aku lakukan demi menyelamatkan harga diriku ini.' Batin Nanney dengan perasaan yang takut.


Sampainya di dalam kamar, dengan pelan-pelan Gane menurunkan sang istri diatas tempat tidur. Keduanya saling menatap satu sama lainnya, kedua netranya saling bertemu.


Ditambah lagi dengan suara petir yang semakin menggelegar untuk didengar, bahkan hujan pun ikut kedengaran sangat deras. Nanney yang sedari kecil takut akan suara petir, ia langsung memeluk suaminya saat cahaya kilat masuk kedalam celah ventilasi pada kamar.


Gane langsung membalas pelukan dari istrinya dan kedua memilih untuk duduk sambil berpelukan.


"Aku takut, aku sangat takut. Suara itu, suara itu, aku takut." Ucap Nanney dengan gemetaran sambil memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


"Tenanglah, kamu tidak perlu takut. Ada aku yang akan menjagamu, tenangkan pikiranmu. Kita akan baik-baik saja." Ucap Gane mencoba untuk menenangkan istrinya yang ketakutan.


'Ada apa dengan dirinya? kenapa begitu ketakutan saat mendengar hujan deras dan dibarengi petir yang menggelegar.' Batin Gane merasa bingung ketika melihat istrinya yang begitu ketakutan.


Masih gemetaran, Nanney terus mengigau tidak jelas seperti orang ketakutan. Sedangkan Gane sendiri semakin bingung dibuatnya, ia memilih untuk mengeratkan pelukannya pada sang istri sambil mengusap punggungnya berulang kali.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku." Ucap Nanney masih gemetaran.

__ADS_1


Karena tidak ingin istrinya semakin ketakutan, Gane menggenggam tangannya dengan erat. Berharap, ketakutan nya akan mereda.


Hujan yang mulai reda, membuat Nanney sedikit tenang dan tidak seperti semula yang benar-benar merasa ketakutan.


"Sudah sudah, hujannya sudah reda. Kamu jangan takut, ada aku bersama mu." Ucap Gane, kemudian mencoba melepaskan pelukannya.


Setelah itu, Gane menatap istrinya sambil menyelipkan rambutnya dibalik telinganya.


"Bagaimana perasaan kamu? apakah sudah mendingan?" tanya Gane sambil menyelipkan kembali rambut milik istrinya ke bagian belakang telinga sebelah kiri.


"Maaf, aku sudah merepotkan mu." Ucap Nanney yang tersadar siapa yang ada dihadapannya itu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku, karena kamu tidak bersalah. Lebih baik kamu istirahat, agar pikiranmu akan jauh lebih tenang lagi."


"Aku tidak bisa tidur, aku masih terbayang dengan mimpi buruk ku."


"Kamu itu aneh dan sangat bandel. Tidur saja juga belum, sudah menyimpulkan bahwa kamu bermimpi buruk." Kata Gane yang merasa aneh dengan ucapan istrinya.


"Kamu terlalu berharap dengan mimpimu itu, makanya kamu menjadi ketakutan." Kata Gane dengan pendapatnya mengenai apa yang dikatakan istrinya.


"Benarkah? lalu, apa yang harus aku lakukan agar aku tidak teringat dengan mimpi burukku itu? ayo jawab."


"Lupakan, kamu harus bisa melupakannya.


"Aku tahu itu, tapi bagaimana caranya?"


"Caranya adalah, kamu tidak perlu mengingatnya lagi."


"Apa bedanya dengan melupakan, hanya berbeda ucapannya saja." Kata Nanney dedikit frustasi.


"Sudah lewat larut malam, lebih baik kamu istirahat sekarang juga."


"Aku tidak bisa tidur." Ucap Nanney sambil menatap suaminya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, aku ngantuk dan aku ingin tidur." Kata Gane yang memilih untuk tidur lebih awal dari istrinya.


"Ya, silakan." Jawab Nanney, kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar pikirannya tidak terlalu penat.


Sedangkan Gane yang hendak tidur, ia kembali teringat dengan istrinya saat ketakutan karena suara petir yang menggelegar.


Malas untuk memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak penting, Gane memilih untuk beristirahat. Ditambah lagi besok pagi harus bersiap siap untuk menerima hadiah pernikahannya dari sang Paman.


Saat Nanney sudah keluar dari kamar mandi, ia mendapati suaminya tertidur pulas. Tidak mempunyai pilihan lain, Nanney akhirnya memilih untuk tidur di sofa yang menurutnya lebih nyaman untuk menghindari sesuatu yang tidak tidak, pikirnya.


Ketika sepasang matanya begitu sulit untuk ia pejamkan, Nanney memaksakan diri untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, dia dapat melupakan mimpi-mimpi buruknya yang selalu menghantui di setiap ada kejadian yang membuatnya trauma.


Lambat laun rasa kantuk pun datang, Nanney tidak sadarkan diri jika dirinya terlelap dari tidurnya.


Cukup lama diantara keduanya tertidur dengan pulas, tiba-tiba Gane terbangun dari tidurnya. Sambil meraba disekitarnya, pelan pelan ia menyempurnakan pandangannya menuju pada sofa.


Dilihatnya sang istri yang tengah tertidur pulas tanpa selimut, Gane merasa kasihan melihatnya.


"Dasar, bandel." Gumam Gane, kemudian ia segera mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Tidak lupa juga, Gane menyelimuti tubuh istrinya yang tengah tertidur pulas setelah mengalami ketakutan pada sebuah mimpi buruknya.


****


Setelah melewati banyak drama dimalam hari, tidak terasa sudah pagi.


Nanney yang terbangun dari tidurnya, pelan-pelan ia membuka kedua matanya dan menyempurnakan pandangannya. Dilihatnya sang suami yang masih tertidur dengan lelapnya, Nanney tidak berani untuk membangunkan sang suami.


Karena tidak ingin mengganggu suaminya yang tengah tidur, Nanney langsung bangkit dari posisinya dan segera mencuci muka dan yang lainnya. Setelah itu, Nanney keluar dari kamar menuju dapur.


Perut yang mulai terasa keroncongan, Nanney membuka kulkas untuk mengambil beberapa bahan yang bisa diolah untuk dijadikan sarapan pagi.


Karena harus bersiap siap untuk berangkat liburan, Nanney memilih untuk membuat sarapan pagi yang sekiranya mudah untuk diolah.


"Roti tawar, telor, daging satu iris, dan ditambah susu satu gelas, sepertinya sudah bisa mengganjal perut." Gumamnya sambil menyiapkan teflon untuk menggoreng telur.

__ADS_1


__ADS_2