
"Tidak apa-apa Kak, aku hanya kecapekan aja. Oh ya, suami Kakak, mana? sepertinya aku tidak melihatnya."
"Suami Kakak belum bisa ikut, ada sesuatu yang harus dikerjakan. Jadi, nunggu ada waktu luang untuk datang ke sini." Jawabnya dan berusaha untuk tersenyum, meski senyumnya itu terasa sangat menyakitkan.
Bagaimana tidak menyakitkan, suami yang dulu kini sudah berada di hadapannya. Sedangkan suami yang kedua berada dalam jeruji besi, dan juga dirinya telah hamil anaknya. Sungguh sangat berat beban yang harus dipikul nya.
Ingin marah, kepada siapa harus marah. Diam, bagaikan patung tak ada gunanya. Nanney hanya bisa menahannya, walaupun rasa itu begitu sakit untuk diterima.
"Ah ya, sepertinya sudah sore. Aku mau masak dulu untuk makan malam, Kakak duduk aja. Aku tidak ingin Kakak kecapekan, Kakak harus dikurangi aktivitasnya. Aku ingin memanjakan Kakak, karena aku yakin jika Kak Nanney akan kembali lagi ke Kota. Jadi, biarkan aku untuk menjadikan Kakak sebagai Tuan Putri. Selama ini Kakak selalu memenuhi segala kebutuhan ku walaupun Kakak tidak bisa pulang."
"Kamu ini ngomong apa sih, tidak ada yang menjadi Tuan Putri. Kita Kakak beradik, meski kita hadirnya kita dengan waktu yang berbeda. Kamu tetap bagian saudara Kakak, apapun itu. Ah sudahlah, ayo kita masak bareng-bareng." Kata Nanney dan meraih tangan Henny dan mengajaknya keluar dari kamar.
Nenek Aruma yang melihat keduanya akrab, hatinya terasa adem dan tentram.
Nanney masih terus kepikiran sosok yang bernama Danu, lelaki yang sama persis seperti suaminya.
"Kakak kenapa? sepertinya Kakak butuh istirahat deh, Kakak keringat dingin. Jangan-jangan Kak Nanney masuk angin ya? Henny bantu Kakak untuk mengobati ya?" tanya Henny dengan cemas saat melihat Nanney seperti ada yang ditahan.
"Tidak usah, Mungkin cuacanya berbeda. Jadi, Kakak harus membiasakan lagi dengan lingkungan." Jawab Nanney beralasan, demi menutupi apa yang sedang ia pikirkan.
"Beneran? kakak sedang tidak bohong, 'kan?" lagi-lagi Henny kembali memastikan jika Kakaknya tidak sedang ada masalah pada kesehatan maupun yang lainnya.
Henny khawatir akan berpengaruh dengan janin yang sedang dikandungnya. Ditambah lagi dengan usia kandungan yang masih sangat muda, sungguh membuat Henny penuh kekhawatiran. Lebih-lebih sang Kakak tidak ada suami disampingnya, tentu saja ada rasa ingin bersikap manja, pikir Henny dengan segala pikirannya.
"Kapan sih Kakak bohong, hem. Sudahlah, ayo kita lanjutkan masaknya. Entah kenapa, Kakak ingin memasak sesuatu. Kakak ingin masak sup ayam, sepertinya cocok untuk temani makan malam. Kamu, masak yang lainnya."
__ADS_1
"Ya Kak, Henny akan memasak sayur tumis lainnya." Sahut Henny sambil mengupas bawang dan bumbu lainnya.
Sedangkan Nenek Aruma menyibukkan dengan kesibukan lainnya, tentu saja membereskan barang bawaan Henny dari kebon. Yang tidak lain ada berbagai macam buah-buahan.
Berbeda dengan Danu, dirinya tengah duduk santai setelah dibuatkan minuman kopi panas oleh istrinya. Tidak ada keanehan apapun pada diri Danu, tetap dingin dan sulit untuk banyak bicara.
Nenek Aruma sendiri tidak mempermasalahkan dengan sikap dari Danu, karena Nenek Aruma sendiri yakin jika Danu akan jatuh cinta dengan Henny, yang sudah dianggapnya anak sekaligus cucunya.
Karena tidak ada aktivitas apapun, Nenek Aruma ikutan duduk di ruang tamu bersama Danu.
"Nak Danu, bagaimana hasil kebunnya? tidak ada yang rusak parah, 'kan?" tanya Nenek Aruma membuka suara.
"Hasilnya sangat memuaskan, Nek. Kalau untuk kerusakan pun tidak ada. Semua benar-benar normal pertumbuhannya. Sampai lupa, sekitar dua minggu lagi akan ada penanaman buah baru. Nenek Aruma diminta untuk datang ke lokasi, agar kerja samanya lebih jelas lagi." Jawabnya sekaligus menjelaskan.
"Nenek sudah tidak ingin terjun ke Kebun lagi, semua kamu dan istri kamu yang akan mengurusnya. Nenek ingin istirahat, sudah waktunya kamu untuk sukses. Lagian juga itu kebun untuk siapa kalau bukan untuk istri kamu dan Nanney. Sedangkan Nanney hidupnya di Kota, suaminya tidak akan mau mengurusnya. Jadi, bekerja keraslah untuk masa depan kamu bersama istrimu. Tentu saja untuk anakmu kelak." Ucap Nenek Aruma menjelaskan panjang lebar.
"Itu hak kamu, karena demi kebaikan dan agar kamu bisa tinggal di sini, hanya dengan cara menikah untuk menutupi kebenaran kepada warga."
"Ya Nek, terimakasih banyak sudah sudi menerima saya untuk tinggal di rumah Nenek."
"Sudah, sudah. Nenek mau kebelakang, mau mandi. Jika kamu capek, istirahat saja. Biar nanti dibangunkan oleh Henny saat waktunya makan malam."
"Ya Nek, terimakasih." Jawabnya disertai anggukan.
Sedangkan Nanney yang tengah memasak sup ayam, sebisa mungkin untuk bisa menepis pikiran buruknya agar tidak terus menerus memikirkan nya.
__ADS_1
Dilain tempat, yakni di rumah Gane. Ciko dan Doin telah sampai di depan rumah dan segera turun dari mobil. Kemudian, keduanya segera masuk ke dalam untuk mencarikan barang milik istri Bosnya.
"Cik, cepetan buka kuncinya."
"Sabar dikit kenapa, nih kuncinya saja tidak cukup satu." Jawab Ciko sambil membuka kuncinya satu persatu.
Setelah berakhir di kunci terakhir, Ciko maupun Doin merasa begitu lega saat pintunya dapat terbuka dengan mudahnya.
Ketika sudah berada didalam rumah, Ciko dan Doin segera membuka pintu kamarnya.
"Akhirnya, kita sudah berada di dalam kamar." Ucap Ciko dengan perasaan lega, tak lupa juga membuang napasnya dengan kasar.
"Laci, ya! laci. Kamu coba cari di laci sebelah sana, aku disini." Ucap Ciko dan memberi perintah untuk Doin.
Ciko yang tidak sabar ingin menemukan barang berharga milik istri Bosnya, segera mencarinya sampai ditemukan barang tersebut.
"Tidak ada loh Cik, lacinya aja kosong. Nih, cuma ada pena doang."
Ciko tidak meresponnya, ia terus mencarinya hingga semua barang dikeluarkan dari dalam laci. Saat itu juga, alangkah terkejutnya saat melihat benda yang dimaksudkan.
Ciko tersenyum berbinar ketika apa yang ia cari dapat ditemukan. Kemudian, tak lupa untuk mengusap dadanya karena berhasil menemukan sesuatu yang dicarinya.
"Cik, sudah ketemu atau belum? dari tadi diajak bicara tidak menjawab."
"Aku sudah menemukannya, Doin. Aku berhasil mendapatkan barang yang dimaksudkan oleh Nona Nanney, kita harus mengabarinya. Aku tidak ingin Nona Nanney akan bersedih dan banyak pikiran, tentu saja tidak baik untuk kesehatan perempuan hamil jika banyak pikiran." Jawab Ciko sambil mengusap kotak tersebut berulang-ulang.
__ADS_1
Doin yang mendengar jawaban dari Ciko, segera ia mendekatinya dan memastikan apa benar yang dikatakan Ciko, pikirnya."