Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kabar baik dan sedih


__ADS_3

Masih didalam rumah, Nanney belum juga bisa memejamkan kedua matanya saat terbangun dari tidurnya. Sedari tadi hanya mondar-mandir bak setrikaan ke sana kemari.


"Kenapa sampai sekarang Kak Gane belum juga pulang? kemanakah perginya? apa benar, Kak Gane mempunyai istri baru?" gumam Nanney bertanya-tanya mengenai kabar dari suaminya yang belum juga kembali pulang.


"Ah ya, kenapa aku tidak menghubungi Kak Ciko saja kalau gitu. Bukankah mereka berdua bekerja sama? setidaknya aku bisa mengetahui kabar dari Kak Gane." Gumamnya bercampur kegelisahan.


Karena tidak ingin membuang-buang waktu, Nanney segera menghubungi Ciko untuk mengetahui kebenarannya.


"Kak Ciko, ayo dong diangkat telponnya." Gumamnya sambil menunggu adanya jawaban dari Ciko.


Berulang kali Nanney mencoba untuk menghubungi Ciko, tetap saja tidak ada jawaban apapun darinya. Nanney semakin khawatir dan juga gelisah, bahkan sedari tadi terus mondar-mandir dengan frustrasi.


Tak sadarkan diri, rupanya pagi telah menyambutnya. Nanney masih terjaga dengan siaga menunggu kepulangan sang suami ke rumah.


Rasa penasaran, Nanney segera membuka pintu rumahnya. Kemudian, ia menghirup udara segar dan tetap tidak ada tanda-tanda jika suaminya pulang ke rumah.


Sedih, itu sudah pasti. Meski tidak ada kata cinta dari sang suami, perhatian darinya cukup dapat dipahami, jika suaminya tidak sejahat yang dibayangkannya selama ini.


Tidak ada tanda-tanda sang suami pulang, Nanney memilih untuk ke dapur menyiapkan sarapan pagi. Berharap, ketika dirinya selesai menyiapkan sarapan pagi, sang suami pulang ke rumah.


"Mungkin saja ada kendala dalam perjalanan, bisa jadi membuat Kak Gane dan Kak Ciko pulang terlambat." Gumamnya untuk berpikiran yang positif mengenai suaminya yang tak kunjung pulang.


Biasanya ia dikejutkan kehadiran suaminya, kini bagai kehilangan sayap-sayap patahnya. Dingin, kaku,keras kepala, mengesalkan, tetap saja Nanney merasa kesepian dan kehilangan. Meski hanya semalam, rasa gundah seakan terasa satu bulan lamanya.


Karena yang ditunggu tidak kunjung pulang, Nanney segera memilih untuk menikmati sarapan pagi dengan sendirian tanpa ada seorang yang menemaninya.


Selesai menikmati sarapan pagi, terdengar jelas suara ketukan pintu utama masuk. Nanney terperanjat saat dikagetkan dengan suara yang dinanti-nantikan nya, siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri.


Dengan rasa ketidaksabarannya, Nanney bergegas untuk membuka pintunya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya saat mendapati adanya seseorang yang datang ke rumah di pagi hari bagai kilat yang menyambar. Tubuhnya mendadak seakan tidak mampu untuk menopang berat badannya.


"Selamat malam, Nona." Menyapa Nanney dengan ramah.


"Pak Polisi. Maaf, ada apa ya?" tanya Nanney dengan penuh kekhawatiran dengan datangnya beberapa anggota polisi.


"Apakah pemilik rumah ini adalah Gane Huttama?" tanya Pak Polisi dengan menyelidik.


Nanney yang mendapatkan pertanyaan dari Pak Polisi, sejenak dirinya terdiam. Berkali-kali mencoba untuk mencerna, perasaan nya semakin khawatir jika terjadi sesuatu pada suaminya.


"Maaf, Nona. Jika kedatangan kami ini telah mengganggu Nona di pagi hari. Sebelumnya kami meminta maaf serta meminta izin untuk memeriksa isi rumah ini pada setiap sudutnya." Jawab Pak Polisi, kemudian mengangguk pelan.


"Untuk apa Bapak memeriksa isi rumah ini? maaf, saya hanya ingin kejelasan dari Bapak Polisi." Kata Nanney mencoba untuk meluruskan nya.


"Ini, bacalah." Jawab Pak Polisi sembari menyodorkan selembaran kertas pada Nanney.


Dengan gemetaran, Nanney menerimanya dengan penuh khawatir dan juga ketakutan jika terjadi sesuatu pada suaminya.


Begitu terkejutnya setelah membacanya sampai selesai dengan tangan yang gemetaran dan merambat hingga sekujur tubuhnya.


"Perda-ga-ngan sen-jata api dan lainnya secara ilegal?" gumamnya sambil memegangi selembaran kertas tersebut.


Bagai tersambar petir, Nanney merasa tidak sanggup untuk menerima kabar yang sangat buruk untuk diterimanya. Benar-benar diluar dugaannya.


Saat itu juga, Nanney terjatuh dan dapat di tangkap oleh salah satu anggota Polisi dengan sigapnya. Karena takut terjadi sesuatu pada Nanney, segera ia dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan.


Sedangkan Ciko yang yang mendapatkan pesan dari anak buahnya, segera ia menggunakan topengnya untuk menyusul Nanney yang sudah dibawa ke rumah sakit dengan penampilan palsunya.


Namun, tiba-tiba niatnya diurungkan. Ciko tidak mungkin menampakkan diri dari hadapan Nanney, sebab dirinya tidak akan mungkin menemui Nanney di khalayak umum.

__ADS_1


Ciko yang tersadar jika dirinya sedang menjadi buronan, niatnya segera ia urungkan dan menggantikan suasana agar lebih berbeda lagi.


Berbeda dengan Gane, dirinya sedang dalam proses penahanan atas perbuatan yang sudah sekian lama dijalaninya bersama orang-orang kepercayaan nya.


Di rumah sakit, Nanney masih berbaring di atas ranjang pasien dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Bunda Sere yang kini tengah menunggu serta menemani istri keponakannya. Sedangkan Tuan Pras sedang dalam perjalanan, tentu saja untuk menemui keponakannya yang tengah tersandung kasus perdagangan ilegal.


"Selamat untuk Ibu, dan juga putrinya yang sebentar lagi Ibu akan mendapatkan cucu darinya." Ucap Ibu Dokter sembari tersenyum dan tidak lupa untuk memberi ucapan selamat untuk Bunda Sere.


"Maksud Ibu Dokter?" tanya Nanney yang kini sudah terbangun dari kesadarannya.


"Nona tengah hamil, selamat untuk Nona. Tentunya butuh istirahat yang cukup dan hindari untuk melakukan pekerjaan kasar maupun yang lainnya." Jawab sang Ibu Dokter dengan suara yang sangat jelas.


Nanney masih terasa seperti mimpi jika dirinya benar-benar tengah hamil.


"Ibu Dokter sedang tidak berbohong, 'kan?" tanya Nanney mencoba untuk memastikan nya lagi.


"Benar, Nona." Jawab Ibu Dokter dengan suara yah cukup jelas untuk didengarkan nya.


Saat itu juga, Nanney bingung untuk menunjukkan kesedihannya atau hari bahagia karena di dalam rahimnya sudah ada kehidupan.


Ingin rasanya menangis, sebisa mungkin Nanney untuk tidak menjatuhkan air matanya maupun menghindar dari sebuah musibah dari suaminya yang kini harus ia terima dan dihadapinya." Jawab Nanney memperjelas ucapannyaa masing-masing.


Bunda Sere yang mengerti dengan kondisi istri dari keponakannya, Beliau langsung memeluk dan mengusap punggungnya dengan pelan.


"Selamat ya, Nak. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, bersemangat lah." Ucap Bunda Sere menyemangatinya.


Sedangkan Nanney kini tatapannya berubah menjadi kosong bak kaleng yang tak ada isinya sama sekali. Bunda Sere yang melihat keponakannya tengah mendapatkan kepercayaan yang begitu besar, Beliau mencoba untuk membujuk serta memberi semangatnya agar dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

__ADS_1


Nanney yang masih merasa bingung, sedari tadi hanya melamun sambil menatap ke sembarang arah. Berharap, mimpi buruknya agar segera berakhir. Begitu juga dengan Gane yang tengah memikirkan keadaan istrinya yang mana dirinya belum juga memberinya kabar.


__ADS_2