
Rencana untuk pulang ke Kota telah diputuskan oleh Nenek Aruma dan Henny yang pada akhirnya menerima ajakan dari suaminya. Pagi hari, Nanney maupun Regar sudah tidak lagi berada di rumah sakit.
"Nak, kamu yakin mau mengajak Nenek untuk tinggal di Kota? Nenek takut merepotkan kamu dan suamimu."
"Tidak, Nek. Justru kami berdua tidak merasa keberatan. Nenek sudah Nanney anggap pengganti orang tua, tidak ada yang bisa memisahkan kita, Nek."
"Nenek sangat beruntung mengenalmu, Nak. Kamu benar-benar sosok perempuan buang berhati baik, sama seperti Henny." Ucap Nenek Aruma sambil menatap Nanney dengan perasaan yang sulit untuk dijabarkan.
"Jadi, Nenek tidak akan menolaknya, 'kan?"
"Tidak, Nak. Nenek akan memenuhi permintaan kamu, Nenek benar-benar sangat bahagia. Oh ya, Nenek mau mengemasi pakaian Nenek dulu ya."
"Nenek tidak perlu membawa baju ganti, di Kota sudah disediakan baju ganti untuk Nenek dan Henny. Yang perlu Nenek siapkan, cukup bersiap diri untuk berangkat." Kata Nanney dengan senyumnya.
"Tapi ..."
"Nenek tidak boleh menolaknya."
"Baiklah, terserah kamu saja." Ucap Nenek Aruma, Nanney lagi-lagi memeluk Beliau.
Sedangkan di kamar lain, ada Henny dan Regar yang tengah bersiap-siap untuk berangkat. Regar yang sibuk menyisiri rambutnya, berbeda dengan Henny yang tengah mengemasi pakaiannya yang akan dibawa ke Kota.
"Kamu tidak perlu membawa pakaian apapun, di rumahku sudah disediakan semua kebutuhan kamu. Jadi, lebih baik kamu bersiap-siap dengan rapi saja sudah cukup." Ucap Regar menghentikan Henny yang hendak mengemasi pakaiannya.
__ADS_1
"Tapi, itu sangat boros. Lagian juga baju masih bagus dan layak untuk di pakai." Jawab Henny yang tidak merepotkan.
Saat itu juga, Regar langsung mendekatkan diri pada istrinya. Henny yang tiba-tiba gugup, ia memundurkan langkah kakinya dan berhenti di lemari baju.
Regar yang semakin mendekat, membuat detak jantung Henny berdegup sangat kencang. Selama usia pernikahannya, Henny sama sekali tidak pernah mendapatkan perlakuan dari suaminya yang membuat gemetaran.
"Jangan membantah, ikutin saja apa yang ku perintahkan padamu. Ingat, namaku Regar. Jangan panggil aku dengan sebutan Danu, kamu mengerti? jika ya, bagus lah." Ucap Regar yang tinggal beberapa inci, kedua bibirnya hampir saja saling menempel.
"I -- ya." Jawab Henny dengan gugup.
'Ada apa denganku, kenapa aku tiba-tiba menjadi gugup seperti ini? semoga saja, hati dan pikiranku sejalan.' Batin Henny masih dengan detak jantungnya yang terus berdegup kencang.
Berbeda di kamar yang satunya lagi, Nanney dan Gane tengah sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke Kota. Tetapi sebelumnya, Gane memeluk mesrah pada sang istri dari belakang tepatnya di depan cermin.
Serasa mustahil bagi Gane untuk dipertemukan dengan gadis kecilnya, tetapi kenyataannya kembali dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Gane benar-benar sangat bersyukur, meski harus diawali dengan insiden kecelakaan.
Gane yang mulai merasa istrinya adalah candunya, tak ada henti-hentinya untuk menciu*mnya.
"Aku memanggilmu dengan sebutan siapa, sayang? ada dua nama cantik yang kamu punya, tapi aku memilih Nanney ku sayang."
Seketika, Nanney langsung melepaskan pelukan dari suaminya. Entah kenapa, tiba-tiba Nanney merasa geli saat sang suami memeluk tubuhnya itu.
Sontak saja, Nanney langsung melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sayangku?" tanya Gane sambil memperhatikan istrinya yang terlihat aneh, pikirnya.
"Kakak belum mandi ya? kok, bau banget badannya." Jawab Nanney sambil memegangi hidungnya.
"Ngarang, kamu ini. Aku sudah mandi, sayang. Nih coba lihat, rambutku saja masih basah. Mana ada belum mandi, sudah dong. Kamu salah cium baunya, mungkin." Ucap Gane membela diri, karena merasa jika dirinya memanglah sudah mandi.
"Serius, Kakak bau banget badannya. Pakai minyak wanginya lagi dong, aku tidak tahan nih." Kata Nanney yang sama sekali tidak ingin dekat-dekat dengan suaminya.
Entahlah, sebuah karma untuk Gane atau memang nasib buruk tengah menimpa dirinya. Saat ingin bermanja dengan istrinya, tiba-tiba berubah drastis dari sikap sebelumnya. Bahkan, dirinya seperti bayi yang mencari tempat nyaman untuk bermanja.
Karena tidak ada pilihan lain, Gane menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhnya.
Bukannya bau wangi, justru perut Nanney terasa mual saat mencium aroma wewangian yang memenuhi isi ruang kamarnya.
Tidak hanya terasa mual saja, kepalanya pun ikut terasa pusing.
Takut muntah didalam kamar, Nanney langsung keluar dari kamar menuju kamar mandi.
"Bos, ada apa dengan adikku?" tanya Ciko yang sudah mengakui Nanney adalah adiknya.
"Mual, mungkin mau muntah." Jawab Gane dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah itu, Gane membantu istrinya untuk memijat agar rasa mual sedikit berkurang.
__ADS_1