
Waktu yang sudah ditunggu-tunggu sejauh jauh hari, kini keinginannya pun telah terpenuhi. Nanney telah sampai di Kampung halamannya.
Tempat dimana yang sangat dirindukan, yakni Kampung halaman. Tidak begitu megah dengan bangunan yang ditempati, tapi mampu membuat si penghuninya merasa nyaman.
Nanney yang terlelap dari tidurnya sepanjang perjalanan, tiba-tiba dirinya merasa dikagetkan dengan ruas jalan yang cukup mengganggu tidurnya.
"Doin, ini jalanan kenapa berlubang semua ya? apa tidak mengganggu Nona Nanney yang sedang hamil?"
"Pelan-pelan saja kamunya, jangan dikurangi lagi kecepatannya."
"Ya ini sudah, kalau Bos Gane tau kondisi jalan yang seperti ini, Bisa-bisa ngomel terus orangnya."
"Makanya, buruan kita selesaikan kasus Tuan Gane. Biar semuanya cepat diselesaikan dengan baik, kasihan juga dengan Nona Nanney yang harus hidup kesusahan."
"Hem, menyelesaikan masalah tidak semudah untuk membalikkan telapak tangan."
"Ya juga sih Cik, tapi kita tidak boleh menyerah." Kata Doin, kemudian menguap karena rasa kantuk akibat lamanya dalam perjalanan menuju Kampung halaman istri Bosnya.
Nanney yang sudah tersadar dari tidurnya, ia langsung membenarkan posisi duduknya dan celingukan.
"Kak Ciko, kita beneran sudah sampai nih?" tanya Nanney sambil memperhatikan rumah rumah dipinggiran jalan.
"Ya Nona, kita sudah sampai di Kampung halaman Nona. Tolong tunjukan arah jalan yang menuju rumah keluarga Nona. Soalnya tidak ditemukannya jalan menuju rumah Nona." Jawab Ciko dan meminta petunjuk jalan.
"Kak Ciko lurus saja, terus belok kiri setelah menemukan perempatan jalan." Ucap Nanney dan menunjuk arah yang dimaksudkan.
Setelah sampai di perempatan jalan, Ciko belok kiri sesuai arah yang ditunjukkan.
"Terus, kemana lagi ini."
__ADS_1
Sambil mengurangi kecepatan laju kendaraan, Ciko kembali meminta petunjuk arah jalan.
"Lurus ... aja, nanti kalau bertemu perkebunan kopi, kita tetap lurus terus."
"Jauh amat, Nona." Timpal Doin yang merasa bingung dengan petunjuk arah yang dikatakan oleh Nanney.
"Memang sangat jauh, Kak. Namanya juga jalan yang berkelok dan juga penuh tanjakan. Tentu saja sangat sulit dan berat untuk dilewati." Jawab Nanney sambil menatap luar jalanan yang mana mau melewati kebon kopi.
Sepanjang perjalanan melewati perkebunan kopi, Ciko dan Doin benar-benar tidak menyangka nya jika dirinya sudah memakan waktu yang cukup lama.
"Nona, kemana lagi kita akan jalan?" tanya Ciko sambil fokus dengan setir mobilnya, dikarenakan jalanan yang cukup terjal dan banyak sekali jalanan yang rusak parah.
Demi mengantarkan istri majikannya, Doin dan Ciko rela menuruti perintah dari Bosnya.
"Sebentar lagi Kak, setelah ini kita akan melewati jalanan yang bagus. Kak Ciko tidak perlu cemas, daerah sini sudah padat penduduknya." Kata Nanney menjawab pertanyaan dari Ciko.
"Bilang aja kalau kamu ingin makan lagi." Tuduh Ciko pada Doin.
"Makannya nanti di tempat Nona Nanney saja." Jawab Doin sambil tersenyum lebar.
"Dih, ngarep. Bikin malu aja kamu, udah kek orang kelaparan." Tuduh Ciko lagi, Doin kembali nyengir kuda.
"Tenang aja, nanti akan aku buatkan makanan yang paling enak." Ucap Nanney ikut menimpali.
Doin yang mendengarkannya pun, matanya menjadi segar bak mendapatkan durian runtuh.
"Tapi, tidak sekarang."
"Apa, tidak untuk sekarang?"
__ADS_1
Doin mengerutkan keningnya, lalu menatap ke Ciko.
Saat itu juga, Ciko tertawa puas saat mendengar ucapan dari Nanney.
"Tidak, tadi aku hanya bercanda. Tenang saja, aku akan memasakkan makanan yang enak untuk kalian berdua."
"Asik ... tuh didengerin, aku mau dimasakkan makanan yang enak oleh Nyonya Gane." Ucap Doin bersemangat, tak lupa juga mengejek Ciko sambil menjulurkan lidahnya.
Bukannya marah atau balas mengejek, justru Ciko memilih untuk diam. Ingatannya kembali pada Gane, sosok laki-laki yang menjadi istri dari perempuan yang sedang diantarkan pulang ke Kampungnya.
'Andai saja pulangnya bersama Bos Gane, Nona Nanney pasti sangat bahagia. Saat kebahagiaan menghampiri, keduanya harus berpisah.' Batin Ciko sambil menyetir mobilnya.
"Stop! kita sudah sampai." Ucap Nanney yang tersadar sudah sampai di dekat rumahnya.
"Yang mana rumahnya, Nona?" tanya Doin.
"Itu, yang ada pohon mangga nya, sama pohon rambutan." Jawab Nanney sambil menunjuk rumah yang sangat sederhana.
Rumah yang jauh dari kata mewah, tetapi membuat Nanney merasa nyaman.
"Itu."
Kata Ciko sambil menunjuk pada rumah yang dimaksudkan oleh Nanney.
"Ya, itu." Jawab Nanney tersenyum mengembang saat keinginannya telah terpenuhi.
Karena sudah tidak ada yang diragukan, Ciko belok ke rumah yang ditunjuk oleh Nanney.
Para tetangga dibuat heboh, lantaran ada sebuah mobil mewah datang ke desanya. Satu demi satu orang menjadi kerumunan beberapa orang tengah membicarakan siapakah yang datang, pikir mereka semua.
__ADS_1