Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Tidak mau di tindas


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, tapi tidak secerah harapan Nanney. Semua telah berbanding terbalik tanpa ia tahu sebelumnya. Perjalanan yang cukup pahit, namun tidak ditemukan titik kebahagiaan.


Sedari kecil, Nanney sudah tidak mempunyai siapa siapa lagi selain dengan Paman dan Tantenya yang menjadi figur orang tuanya. Setelah kepergian orang yang sudah membesarkannya, Nanney kembali melanjutkan hidupnya sendiri.


Sambil menatap luar, Nanney menitikkan air matanya. Kenangan yang begitu indah, kini harus lenyap begitu saja.


"Aku ingin pulang, aku ingin pulang. Tapi ... bagaimana caranya aku bisa pulang? Nenek, aku merindukanmu." Gumam Nanney sambil menangis sesenggukan.


Bayang-bayang suaminya masih saja menghantui pikirannya, seakan tidak ingin segala hal buruk terjadi pada dirinya.


"Aku harus bisa, ya! aku harus bisa kabur dari rumah ini. Jangan sampai aku dijadikan budak olah kak Gane. Aku harus mencari cara bagaimanapun caranya, aku tidak peduli jika kematian yang harus menjadi tantangan ku." Gumam Nanney sambil mengepal kuat kedua tangannya, tatapan yang lurus tembus ke langit yang terlihat begitu cerah.


Saat itu juga, ketukan pintu telah membuyarkan lamunannya. Nanney segera membuka pintunya, berharap bukan perintah dari kakak iparnya itu.


"Mbak Lina, ada apa?" tanya Nanney sedikit penasaran.


"Nona dipanggil Tuan Gane, sekarang juga Nona diminta untuk menemui Tuan di kamar." Jawabnya, Nanney menarik napasnya panjang, lalu membuangnya dengan kasar.


"Untuk apa, Mbak?" lagi lagi Nanney kembali beratnya.


"Maaf, Nona. Saya benar benar tidak tahu, yang jelas Tuan Gane meminta Nona untuk menemuinya di dalam kamarnya." Jawabnya dengan apa yang diperintahkan oleh majikannya.


"Ya, Mbak. Aku akan segera menemuinya sekarang juga." Ucap Nanney, dengan perasaan yang berubah menjadi dongkol, Nanney segera menemui kakak iparnya.


Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, Nanney terasa enggan untuk mengetuk pintunya.


'Rencana apa lagi yang akan kak Gane lakukan padaku? aku harus berani, ya! aku harus berani memberontak.' Batin Nanney, kemudian ia mengetuk pintunya berulang kali. Tetap saja tidak ada sahutan dari dalam. Nanney kembali mengetuk nya lagi, dan akhirnya pintu pun terbuka dari dalam.


"Maaf, ada apa ya, Kak?" tanya Nanney sambil menatap kakak iparnya dengan berani.

__ADS_1


"Siapkan baju ganti untukku, dan juga air hangatnya untuk mandi."


"Bukannya Kak Gane bisa melakukannya sendiri?"


"Apa kamu sudah lupa dengan ancaman dari ku? ha."


"Ya, aku tidak akan pernah lupa sampai mati." Ucap Nanney dengan suara yang berani dan tentunya tidak ingin kalah dari kakak iparnya.


"Wah, rupanya kamu sudah mulai berani. Bagus, bagus, bagus ...."


"Mulai hari ini juga, kamu akan mendapatkan jadwal yang tidak ada bedanya dengan semua pelayan yang ada di rumah ini, paham."


"Ya! aku sudah paham, mau balas dendam, ya 'kan? lakukan saja sesuka hati kak Gane. Aku tidak ada rasa takut sedikitpun padamu, Kak Gane."


"Kau mau menantang ku? ha!"


Nanney yang melihat Gane tengah berjalan mendekatinya, pelan-pelan Nanney mundur beberapa langkah ke belakang. Naas, Gane dapat meraih tangannya dan menariknya.


Tatapan dari Gane seketika mampu membuat Nanney semakin tidak karuan. Bukan pada pikiran kotornya, tetapi nyawa yang kapan saja bisa melayang ketika berhadapan dengan seseorang yang tengah dikuasai emosinya yang membara.


"Rupanya dibalik sikap cengengnya kamu itu, ada sikap keras kepala juga pada diri kamu." Ucap Gane, sedangkan Nanney sendiri berusaha untuk tidak merasa takut ketika harus berhadapan dengan kakak iparnya.


"Untuk apa aku takut, karena aku tidak memiliki salah apapun." Jawab Nanney dengan berani.


"Aw!" pekik Nanney sambil meringis kesakitan saat Gane menariknya dengan kasar serta mendorong dirinya ke tempat tidur.


Saat itu juga, Gane berjalan mendekatinya dengan seringainya yang terlihat seperti ingin memangsa adik iparnya. Nanney yang tiba-tiba berubah karena rasa takut, ia langsung meraih selimut yang ada didekatnya.


"Jangan, jangan lakukan itu padaku Kak. Aku mohon, jangan lakukan." Ucap Nanney sambil memohon, Gane mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Siapa juga yang melakukannya sama Kamu, otakmu saja yang kotor. Cepat kau siapkan semuanya, semua yang sudah aku perintahkan sama kamu." Perintah Gane, kemudian ia langsung masuk ke ruang kerjanya.


Saat itu juga, Nanney dapat bernapas lega. Pasalnya apa yang ia takutkan tidak terjadi.


Cepat-cepat Nanney segera menyelesaikan pekerjaannya, ia tidak ingin mendapatkan perlakuan kasar dari kakak iparnya.


Saat berdiri didepan lemari pakaian, Nanney mengepalkan kedua tangannya penuh geram. Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin, tapi niatnya diurungkan.


"Makanya, sudah tua itu menikah. Tidak harus begini kan, jadinya? lagian juga, yang kesepian siapa, yang harus melayaninya siapa. Kenapa juga aku harus punya kakak ipar yang jomblo akut, menikah kek, atau apa kek, benar benar menyebalkan itu orang." Gerutu Nanney sambil berdecak kesal saat mau mengambil pakaian untuk kakak iparnya.


Sambil penuh kekesalan, Nanney tetap melakukan perintah dari kakak iparnya. Meski sedikit risih, Nanney sendiri tidak punya cara lain selain jadi penurut. Setidaknya Nanney ada tempat tinggal gratis sambil mencari cara untuk kabur, pikirnya.


"Aku tidak boleh cengeng, apapun yang terjadi. Aku harus gunakan pesan dari Paman dan Tante dengan baik. Aku boleh terlihat lemah, tetapi sejatinya aku mampu dan berani." Gumam Nanney setelah selesai menyiapkan segala perintah dari kakak iparnya.


Karena ingin segera keluar dari kamar yang menurutnya sangat terkutuk itu, Nanney bergegas untuk menemui kakak iparnya yang sedang berada di ruang kerjanya.


Cukup kuat mengetuk pintu, akhirnya pintu pun terbuka lebar.


"Semua sudah aku siapkan, Tuan yang sangat terhormat." Ucap Nanney yang kini sudah mulai berani dan tidak untuk bersikap lemah dan mudah ditindas, pikirnya. Padahal apa yang diucapkannya sangat konyol dimata kakak iparnya.


Gane sendiri yang mendengarnya pun, ia langsung menatapnya heran dan tidak lupa untuk menyentil kening milik Nanney.


"Aw! sakit," pekik Nanney sambil mengusap keningnya yang terasa lumayan sakit.


"Kau mengajakku bercanda? pergi dari hadapanku sekarang juga." Usir Gane, dengan senyum merekah, Nanney akhirnya segera pergi dari hadapan lelaki dengan penuh kemenangan.


"Tunggu, enak saja main pergi."


Nanney yang sudah bersorak gembira didalam hatinya, seketika bagai kerupuk yang tersiram air. Dengan terpaksa, Nanney menoleh kembali pada kakak iparnya.

__ADS_1


"Ada apa lagi, Kak?" tanya Nanney dengan penasaran. Bahkan rasa takut yang selama ia pikirkan, lambat laun telah dapat ia singkirkan. Baginya tidak ada gunanya untuk terus menerus hanya bisa diam dan mudah tertindas, pikir Nanney setelah ia pikirkan kembali dengan sebaik mungkin.


__ADS_2