
"Kenapa kau terdiam? malu, tidak usah malu. Cepat kau ganti pakaian mu itu, kita akan segera berangkat." Ucap Gane membuyarkan lamunan istrinya.
"I--iya." Jawabnya dan segera bergegas mengganti pakaiannya.
Gane yang sudah mengenakan baju ganti, ia memilih untuk keluar dari kamarnya dan menunggu sang istri di ruang tamu.
Sambil menunggu, Gane menyibukkan diri dengan bendanya. Alih-alih agar tidak merasa bosan ketika menunggu perempuan berdandan.
"Aku sudah siap, apakah kita akan langsung berangkat?"
"Kau terlihat seperti preman, apakah kamu tidak bisa mencari baju yang baik?"
"Aku tidak menyukainya, aku mengenakan baju feminim itu karena Regar, adiknya Kak Gane." Jawabnya yang akhirnya berterus terang.
"Kau sangat lucu, terserah kamu saja. Asal jangan bikin onar saja di luaran sana." Kata Gane sambil berdiri.
"Tadi aku dibilang seperti preman, sekarang sangat lucu. Kalau aku sangat lucu, lantas lucunya itu ada dimana? benar-benar membuat ku tidak mengerti.
"Bagaimana kamu tidak lucu, berpakaian feminim hanya karena lelaki."
"Cukup, Kak Gane tidak tahu tentang hidupku. Pergilah, aku mau di rumah saja." Ucap Nanney yang akhirnya menolak ajakan suaminya dan memilih untuk tetap di rumah.
"Kamu kenapa? marah dengan ucapanku yang barusan itu? tadi, aku sama sekali tidak ada maksud untuk mentertawakan mu."
"Tapi itu sangat menyinggung perasaan ku."
"Menyinggung yang bagaimana? ada yang salahkah dengan ucapan ku yang barusan?"
"Tentu saja ada yang salah."
"Kau sangat lucu, berpakaian feminim hanya karena seorang lelaki? kenapa kamu tidak menjadi diri kamu sendiri? hem."
"Tapi aku ingin berubah, berharap seperti harapan ku. Tapi ternyata sama saja, justru semakin menyakitkan untukku. Kak Gane jangan salah paham, Regar tidak memaksaku untuk berubah, hanya saja mengingatkan aku untuk merubah penampilan ku." Kata Nanney menjelaskan.
"Ya, aku mengerti. Aku tidak akan melarang mu dengan penampilan mu itu, selagi kau merasa nyaman, maka aku tidak perlu untuk mengajarimu. Hidupmu, maka kamu yang sendiri yang akan menentukan pilihanmu mau seperti apa." Jawab sang suami.
__ADS_1
"Tenang saja, aku masih normal. Aku hanya menyukai sesuatu yang simpel, tidak glamor dan tidak mengundang mata untuk memperhatikan ku."
"Ayo kita berangkat, waktu kita tidak banyak." Ajak Gane, sang istri pun mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Tidak memakan waktu lama, Gane dan Nanney sudah berada di Mall terdekat dari rumah.
"Kak, Kak Gane." Panggil seseorang dengan langkah kakinya yang lebar.
"David, kau ngapain di Mall? tidak ke Kantor?" tanya Gane tanpa mengingat tanggal dan hari.
"Kak Gane pura-pura amnesia atau bagaimana lah. Sekarang ini tuh, hari minggu."
"Ah ya, aku lupa."
"Kak Gane dan Kak Nanney bukannya sedang berbulan madu, ya? kok, sudah pulang."
"Kakak ipar mu tidak betah liburan di Pulau itu, trauma katanya." Jawab Gane beralasan, sedangkan Nanney hanya tersenyum tipis dan tidak lupa juga untuk mencubit pinggang milik suaminya. Gane yang merasa sakit pada bagian pinggangnya, ia segera pamitan untuk pergi.
"Vid, aku duluan. Salam buat kedua orang tuamu, katakan padanya, terimakasih atas liburannya, salam juga buat Paman Hardika, ucapkan hal yang atas liburan gratisnya." Ucap Gane berpamitan sambil menarik istrinya untuk menghindar dari saudara sepupunya.
"Habisnya main fitnah gitu aja, siapa juga yang tidak kesal."
"Terus, aku harus pakai alasan apa sama David? apa ya, aku harus jujur? jangan gila kamu itu." Kata Gane sedikit geram. Bagaimana tidak geram, tidak mungkin juga Gane berterus terang atas pekerjaannya itu, dan tidak akan mungkin juga untuk ditunjukkannya tentang pekerjaan yang digelutinya bertahun-tahun bersama Ciko pada keluarganya, pikir Gane.
"Ya iya lah, tinggal berkata jujur kalau Kak Gane ada urusan pekerjaan, gitu kan enak didengar."
"Sudahlah, tidak perlu untuk dibahas. Yang terpenting David sudah percaya, itu sudah cukup untukku." Kata Gane sambil berjalan menuju kebutuhan dapur.
"Kamu ambil mana yang kamu suka, karena takutnya selera kita itu berbeda. Jadi, kita ambil kesukaan kita masing-masing. Apakah kamu sudah mengerti? jika ya, cepat kamu ambil yang kamu sukai."
"Serius? baiklah."
Kemudian, keduanya mengambil barang yang mereka sukai. Entah ada angin apa, mereka seperti memiliki ikatan batin. Bahkan tidak ada perbedaan di antara keduanya, mereka berdua membeli barang yang sama.
Saat merasa ada yang aneh, Gane memeriksanya kembali. Alangkah terkejutnya ketika melihat belanjaan yang sama dan tidak ada perbedaan apapun pada sepasang suami-istri, Gane dan Nanney.
__ADS_1
"Kamu pasti melirik ku saat aku mengambilnya, ya kan? ayo jawab."
"Dih, kepedean. Mana aku tahu, itu makanan memang kesukaan ku." Jawab Nanney dengan ketus, Gane menatapnya datar.
Setelah itu, Gane mengajak istrinya untuk membeli bumbu lainnya yang kiranya dibutuhkan. Tidak ada lagi yang perlu untuk dibeli, Gane segera menuju pada kasir untuk membayar tagihannya.
Saat barang belanjaan sudah berada di bagasi mobil, Gane mengingat kembali, takut ada sesuatu yang belum ia beli.
"Kak,"
"Ya, ada apa?" sahut Gane dan bertanya sambil menutup kembali bagasi mobilnya.
"Sepertinya sudah hampir sore loh, Kak. Kita mau pergi kemana lagi? aku sudah sangat lapar. Entahlah, akhir-akhir ini perutku mudah terasa lapar, maafkan aku yang selalu meminta makan." Jawab Nanney sambil memegangi perutnya.
"Baiklah, aku akan mengajakmu pergi ke Restoran. Setelah itu, kita langsung pulang saja, bagaimana? aku harus menemui Ciko malam ini. Ada sesuatu hal yang harus aku kerjakan."
Nanney mengangguk.
"Terserah Kak Gane saja. Aku hanya bisa nurut, yang terpenting jangan siksa aku." Kata Nanney yang selalu ingat dengan ucapan dari suaminya tentang balas dendam padanya.
Tanpa menjawab ucapan dari sang istri, Gane langsung masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh sang istri. Dengan kecepatan sedang, Gane melajukan mobilnya sampai di Restoran.
*****
Perut yang sudah terasa kenyang, Gane mengajak istrinya untuk pulang. Karena sesuatu hal yang sangat penting, dengan terpaksa Gane meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
Sampai di rumah, Gane meletakkan barang-barang belanjaannya di meja dapur dibantu oleh istrinya. Kemudian, Gane segera bersiap siap untuk berangkat ke tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.
"Kamu tidak apa-apa kan, jika aku tinggal sendirian di rumah ini? kamu tidak perlu khawatir, sekitar jam satu malam aku sudah pulang."
"Sebenarnya Kak Gane itu, kerja apaan sih? kenapa jam satu malam baru pulang? Kak Gane tidak melakukan pekerjaan ilegal, 'kan?"
Gane tersenyum saat mendengar pertanyaan dari istrinya. "Aku berangkat, jaga diri kamu baik-baik di rumah ini. Jika ada sesuatu yang membahayakan, kamu bisa menghubungi nomor Doin. Di kamar ada ponsel cadangan, gunakan jika kamu merasa ada bahaya di rumah ini." Kata Gane yang tidak lupa untuk mengingatkan sang istri.
Nanney yang merasa pikirannya tidak tenang, sebisa mungkin untuk menepis pikiran buruknya itu.
__ADS_1