
Ingin rasanya memeluk istrinya, Gane sendiri tak mampu untuk melakukannya. Rasa rindu yang sudah ia tahan, kini seakan seperti mimpi.
Regar yang masih berdiri, akhirnya ikut duduk didekat kakaknya.
"Kak, kenapa Kakak tidak mengubungi dulu jika mau kesini?" tanya Regar.
"Kejutan," jawabnya belasan.
Padahal kejutan itu hanya untuk istrinya, bukan untuk sang adik.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Gane yang penasaran dengan keberadaan adiknya bisa dalam satu rumah dengan istrinya, pikirnya.
"Ceritanya panjang, Kak. Nanti aku bakal ceritakan semuanya sama Kaka." Jawab Regar dengan senyum yang bahagia.
Gane sendiri, tak tahu harus bahagia atau bersedih. Saat itu juga, dirinya kembali teringat ketika bersikap kasar pada istrinya. Penyesalan itu pun segera muncul dan menghantui pikirannya.
Nenek Aruma yang sedari tadi menyaksikan pemandangan mengharukan antara kakak dan adik, Beliau mendekati Gane dan mengajak Henny juga sekalian memperkenalkannya pada Gane.
"Siapa namamu, Nak?" dan bagaimana keadaan kamu saat ini? apakah sudah lebih baik? jikalau belum, biar Nak Regar yang akan mengantarkan kamu ke klinik sekitaran sini." Sapa Nenek Aruma.
Gane berusaha untuk tersenyum, meski senyumnya itu terasa hambar sekalipun.
"Nama saya Ganenta, Nek. Saya Kakaknya Regar, kami hanya dua bersaudara. Untuk pergi ke klinik, saya tidak perlu. Keadaan saya sudah mendingan kok, Nek." Jawab Gane berusaha untuk tenang, meski kenyataannya sangat gelisah dan bingung tentunya.
Tiba-tiba pandangan Gane tertuju pada Hemmy yang tengah berdiri di sebelah Nenek Aruma.
"Oh ya, Nenek sampai lupa. Kenalkan, dia ini istrinya Regar selama berada di Kampung ini. Karena warga tidak ingin salah paham, Regar diminta untuk menikahi Henny, adik dari Nak Nanney." Ucap Nenek Aruma memperkenalkan serta dengan statusnya.
__ADS_1
Gane pun terkejut ketika mendengarkannya, semua diluar dugaan. Harus bahagia atau bertambah bingung, Gane sendiri merasa dilema dan juga kesulitan.
Setelah itu, Gane menoleh pada Regar. Pastinya ingin mendapatkan jawaban yang benar dari adiknya.
Pelan-pelan, Regar menarik napasnya. Kemudian, ia tersenyum.
"Ya Kak, Henny istriku. Waktu itu aku lupa segalanya, dan tentu saja aku tidak ingat apapun. Karena tidak ingin menjadi bahan masalah di Kampung ini, akhirnya aku menikahinya untuk menghindari fitnah." Ucap Regar berusaha untuk menjelaskannya pada sang kakak.
Takut, jika dirinya akan mendapatkan marah dan disangka lelaki yang tidak tahu diri, pikirnya.
Ciko dan Doin yang ikut mendengarnya pun, benar-benar seperti tidak percaya jika Regar telah menikah. Tapi, tiba-tiba Ciko merasa lega. Pasalnya, Regar sudah punya istri dan bisa memberi peluang yang baik untuk Gane, pikirnya.
Semua yang mengetahui kebenaran, hanya bisa mengikuti alur yang ada gak drama yang selalu muncul di media sosial.
"Ah ya, Nenek lupa lagi. Kalian bertiga pasti belum makan malam, bagaimana kalau kita makan malam terlebih dahulu. Setelah itu, kita lanjutkan obrolannya." Ajak Nenek Aruma untuk makan malam.
"Jadi merepotkan ini, Nek." Jawab Ciko merasa tidak enak hati.
"Jangan bicara seperti itu, Nenek sudah menganggap kalian ini bagian keluarga Nenek. Sudah mau gelap ini, ayo kita makan malam dulu." Ucap Nenek Aruma.
"Yang dikatakan Nenek Aruma itu memang benar. Jangan nunggu dipaksa, ayo kita makan malam bersama." Kata Nanney ikut menimpali serta mengajak untuk makan malam bersama.
"Baik, Nona." Jawab Ciko dan Doin bersamaan, sedangkan Gane hanya mengangguk.
Karena tidak ingin membuang-buang waktunya, Regar segera membantu kakaknya berdiri dan mengajaknya untuk makan malam.
Di ruang tamu, formasi duduk untuk perempuan saling bersebelahan. Begitu juga dengan laki-laki, mereka berempat duduk bersebelahan.
__ADS_1
Entah karena kebetulan, Nanney dan Gane duduk bersebelahan karena tempat yang tidak begitu luas dan harus berdempetan.
Sebenarnya Regar ingin mengubah posisi duduknya, dirinya tak mungkin untuk protes hanya karena tempat duduk, pikirnya. Justru Regar berhadapan dengan Henny istrinya.
Setelah mengambil menu makanan yang disukai, semuanya menikmati makan malamnya dengan suara yang hening tanpa ada yang bersuara. Hanya terdengar suara sendok yang saling beradu ketika menyendiri makanan yang akan disuapi ke mulutnya masing-masing.
Regar yang merasa cemburu ketika melihat sang kakak duduk didekat Nanney, sebisa mungkin untuk memakluminya.
"Wah ... masakan siapa ini? benar-benar menggugah selera makan ku ini." Tanya Doin yang akhirnya membuka suara karena merasa sepi di ruangan tersebut dan hanya suara sendok beradu yang dapat didengarkan.
"Kak Nanney yang membuat bumbunya, aku hanya membantu Kakak." Jawab Henny tanpa canggung.
"Beruntung sekali suaminya, ya. Semoga saja aku seberuntung suami Nona Nanney, bisa mendapatkan istri yang super talenta." Ucap Doin dengan mengarahkan pandangannya pada Gane, sekaligus melemparkan senyuman padanya.
Bukannya membalas senyuman pada Doin, justru Gane menatap tajam padanya.
"Ya, benar. Suaminya sangat beruntung." Timpal Regar sambil mengunyah makanan.
"Sudah, sudah. Selesaikan dulu makanannya, habis ini kalian lanjutkan senda gurauannya dan obrolan nya. Tidak baik ketika makan sambil mengobrol, takut tersedak, bahaya." Ucap Nenek ikut menimpali.
"Ya Nek, maaf." Jawab semuanya dengan serempak.
Setelah itu, tidak lama kemudian selesai juga makan malamnya.
Suasana yang seharusnya bahagia, kini mulai mencekam bagi Gane. Tapi tidak untuk Regar, justru dirinya sudah merasa lega dan tentunya merasa bahagia ketika ingatan nya sudah pulih. Ditambah lagi dapat dipertemukan kembali dengan Nanney, hidupnya seakan benar-benar sempurna kebahagiaan yang didapatkan.
Begitu juga dengan Nanney, dirinya ikut merasa dilema. Pasalnya, kebenaran belum juga terungkap. Tentu saja, perasaan takut selalu menghantui pikirannya hingga detik ini.
__ADS_1
Entah harus mulai dari mana untuk mengungkapkan kebenarannya, Nanney benar-benar bingung untuk memikirkannya.
'Bagaimana ini? aku benar-benar bingung untuk menempatkan posisiku sendiri, tidak mungkin juga aku harus menyakiti diantara mereka bertiga.' Batin Nanney dengan penuh kebimbangan serta kekhawatiran.