Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Penjelasan


__ADS_3

Doin terus mengejarnya. Takut, jika terjadi sesuatu pada majikannya.


"Tuan, berhenti." Panggil Doin sambil mengejar dengan napas yang terengah-engah.


Regar membalikkan badannya. Terasa malas baginya untuk menanggapi omongan dari seorang Doin, karena tidak akan mungkin berpihak pada dirinya.


"Ini Rumah sakit, Tuan masih harus dilakukan perawatan. Jangan sampai, luka yang ada pada kaki Tuan akan bertambah masalah yang serius." Ucap Doin membujuk.


"Kak Doin tau apa? lebih baik kembali saja dan temani Kak Gane, jangan menganggu ku." Jawab Regar menolak.


Karena memang merasa sakit pada bagian kaki kanannya, Regar memilih untuk mencari tempat duduk agar tidak semakin terasa sakit pada bagian lukanya.


Doin yang ingin menjelaskan pada Regar, ia pun ikut duduk di sebelahnya. Sedangkan Regar sendiri tak menghiraukan keberadaan sosok Doin disebelahnya. Regar memilih menatap ke sembarangan arah sambil memikirkan sesuatu yang seakan hanya seperti angin lalu.


"Tuan, apa yang sedang Tuan Regar pikirkan?" tanya Doin membuka obrolan.


"Tidak ada, lebih baik Kak Doin pergi saja dari hadapanku. Karena aku ingin sendirian, aku tidak butuh seseorang untuk menemaniku." Jawab Regar dengan malas.

__ADS_1


"Saya tahu, jika Tuan Regar tengah merasa kesal dengan Tuan Gane, bukan? tidak baik menanggapi sebuah masalah dengan emosi, Tuan." Ucap Doin, Regar langsung menoleh padanya.


"Kak Doin itu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku. Jadi, tentu saja akan menganggap enteng tentang semua yang harus aku terima." Jawab Regar dengan perasaan yang masih terasa dongkol.


"Terus, apakah semua masalah akan berakhir dengan baik jika Tuan kembali bersama Nona Nanney? tidak, Tuan. Justru, masalah akan bertambah besar nantinya. Tidak hanya Tuan Regar sendiri yang merasa tersakiti, tetapi semuanya. Tuan Regar sendiri, Nona Nanney yang jelas istri Tuan sendiri, Tuan Gane, Nona Nanney, anak yang dilahirkan, dan kakak dari Nona Nanney sendiri." Ucap Doin mencoba untuk menjelaskannya sebaik mungkin agar bisa diterima oleh Tuannya.


Sejenak Regar terdiam dan mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh Doin. Kemudian, ia kembali menoleh padanya.


Saat itu juga, Gane datang menemuinya dan keberadaannya sudah berdiri didekat Doin. Karena tidak ingin mengganggu obrolan kakak-beradik, Doin memilih untuk menyingkir dan memberi tempat serta waktu untuk kedua majikannya.


"Regar," panggil sang kakak mencoba untuk memberi respon pada adiknya.


Regar masih diam, menoleh saja pun tidak. Dirinya masih menatap ke lain arah, tentunya tidak pada sang kakak.


"Maafkan Kakak yang egois ini, Regar. Kakak mengaku salah, dan juga bukan Kakak yang baik untukmu. Bahkan, bisa saja tidak pantas untuk dipanggil dengan sebutan Kakak." Ucap Gane melanjutkan obrolannya, Regar masih juga tidak meresponnya.


Gane yang tidak mengenal kata menyerah, dirinya tetap melanjutkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu masih tidak mau berbicara dengan Kakak. Sekarang juga, keputusan ada padamu. Sesuai janji Kakak pada Papa dan Mama, membuatmu bahagia dan tidak untuk menyakiti mu. Kakak akan meninggalkan Nanney, perempuan yang pernah kamu nikahi. Terserah kamu, Kakak lepas tangan dan tidak akan ikut campur dengan urusan kamu. Satu hal lagi, kamu siap menjadi seorang ayah dari anak Kakak. Tidak hanya itu saja, sempurnakan kasih sayang mu pada seorang perempuan yang akan menjadi seorang ibu dan juga pada bayi yang akan dilahirkan." Ucap Gane panjang lebar menjelaskannya pada sang adik.


Regar yang mendengarkannya pun, pikirannya semakin terasa penat untuk memilih keputusannya sendiri.


Gane yang sedari tadi merasa diabaikan oleh Regar, dirinya segera bangkit dari posisinya dan pergi dari tempat duduknya.


Setelah Gane tidak lagi duduk disebelah adiknya, Nanney yang duduk disampingnya. Sedikitpun tidak ada rasa cemburunya bagi Gane saat istrinya duduk berdekatan dengan sang adik.


Prasangka baik itu jauh lebih penting daripada harus berprasangka buruk dan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Apakah kamu sudah siap menentukan keputusanmu?" tanya Nanney yang langsung bertanya pada pokok intinya. Tentunya tidak ingin masalah semakin larut dan tidak ada akhir penyelesaiannya.


Regar yang paham dengan suara yang tidak begitu asing di telinga, dirinya langsung menoleh ke samping. Dilihatnya sosok mantan istrinya yang sudah duduk disebelahnya.


Perempuan yang menjalin hubungan dengannya cukup lama hingga berakhir dalam sebuah ikatan pernikahan, kini harus berakhir begitu saja. Merasa sakit hati itu sudah pasti. Tapi, apakah dirinya harus memperjuangkan kembali cintanya atau melepaskannya. Regar benar-benar tidak tahu harus memberi keputusan yang seperti apa.


Satu sisi, dirinya masih mencintainya. Sisi lain, ada perasaan yang sudah dijaga begitu lamanya, bahkan belasan tahun lamanya. Bingung, dilema, rasa sakit, kecewa, kini telah menguasai pikirannya. Tidak tahu keputusan apa yang harus diambilnya. Haruskah menjadi seseorang yang paling egois? atau ... menjadi seseorang yang bijak tapi tersakiti hatinya, sungguh menguras pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2