
Saat mendapatkan sambutan hangat dari keluarga maupun sahabat dan orang kepercayaan keluarganya, Tuan Hardika langsung memeluk keponakannya.
"Gane keponakannya Paman, selamat atas kebebasan kamu, Nak. Paman sangat bahagia melihatmu bisa keluar dari tempat terku*tuk ini. Maafkan Paman yang tidak berbuat apa-apa padamu." Ucap Tuan Hardika ketika memeluknya.
Gane langsung melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap Tuan Hardika.
"Aku bisa memahami diposisi Paman, karena Paman sendiri dijadikan umpan oleh Paman Prasetyo. Jadi, aku tidak mempermasalahkannya." Jawabnya, kemudian Ciko, David maupun Doin dan Pak Elyam, kini ikutan memberi ucapan selamat serta pelukan hangat arti kepedulian mereka semua.
"Hari ini kamu sudah bebas sepenuhnya, Nak. Sekarang, ayo kita pulang." Ucap Pak Elyam ikut menimpali, Gane mengangguk dan ikut pulang bersama mereka.
Dalam perjalanan pulang, ingatannya tertuju pada seorang istri yang jauh di sana.
Ciko yang duduk didekatnya, ia merasa gelisah lantaran memikirkan sesuatu yang akan terjadi di Kampung istrinya si Gane.
'Aku berharap, semoga semuanya baik-baik saja.' Batin Ciko penuh harap dan juga dibarengi doa.
"Cik, bagaimana kalau kita langsung pulang ke Kampung istriku. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."
"Tapi Bos, bukankah hari ini baru bebas? besok saja, bagaimana?" kata Ciko dan memberi saran untuk
"Ya Nak Gane, lebih baik hari ini kamu gunakan waktumu untuk istirahat. Masih ada hari esok bertemu dengan istrimu." Timpal Pak Elyam yang juga sedikit ada kekhawatiran.
"Benar yang dikatakan Ciko, lebih baik hari ini gunakan waktumu untuk istirahat." Ucap Tuan Hardika ikut memberi saran.
"Tidak, Paman. Hari ini juga, tekad ku sudah bulat. Bahwa aku akan pergi ke Kampung halaman istriku untuk menjemputnya pulang." Jawab Gane yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
'Apakah cinta itu mengalahkan segalanya? sampai-sampai tak kenal apa itu istirahat." Batin Ciko sambil menatap lurus ke depan.
"Kamu serius mau pulang ke Kampungnya istrimu? perjalanan jauh loh, dan kamu juga baru saja bebas. Apa tidak sayang untuk kesehatan mu? pikirkan dulu sebelum kamu berangkat." Tanya Tuan Hardika untuk memastikan keputusan dari keponakannya.
__ADS_1
"Tekad ku sudah bulat, hari ini juga aku akan langsung berangkat. Aku tidak akan membuang waktuku sia-sia, Paman." Jawab Gane yang tidak bisa goyah dengan keputusannya.
"Ya sudah, jika keputusan kamu sudah bulat dan tidak bisa dirubah, Paman tidak bisa mencegah maupun memaksamu. Sebelumnya Paman minta maaf, karena tidak bisa menemani mu untuk menjemput istrimu. Paman dan Pak Elyam harus menyelesaikan masalah Kantor serta yang lainnya, termasuk pengacara Willi. Jadi, kamu bisa ditemani oleh Ciko dan Doin. Untuk David, kamu temani Papa dan Pak Elyam untuk menyelesaikan masalah di Kantor." Ucap Tuan Hardika.
"Yah ... gak bisa ikutan jemput kakak ipar, dong. Padahal nih ya, David tuh pingin banget merasakan keasrian di Kampung. Tapi eh tapi, hanya angan-angan semata." Kata David ikut menimpali.
"Tenang, masih ada hari-hari yang akan datang." Timpal Doin ikut bicara.
"Hem ...." David hanya berdehem. Yang lainnya tertawa kecil melihat ekspresi David yang telah gagal untuk ikut ke Kampung halaman istrinya sang kakak.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya telah sampai di rumah utama keluarga Huttama. Semua turun dari mobil termasuk Gane, setidaknya untuk membersihkan diri sebelum berangkat dan tentunya membawa pakaian secukupnya.
Sedangkan di Kampung, Nanney tengah sibuk membuat cemilan bersama adik perempuannya.
"Kak Nanney," panggil Henny disela-sela mengaduk adonan.
"Ya, ada apa Hen?" sahutnya dan bertanya.
"Kakak tidak mau nonton, Kakak di rumah saja. Takut, banyak orang yang berdesakan. Kamu tahu sendiri kan, kalau Kakak sedang hamil."
"Ya juga sih, tapi aku rasa tidak deh. Soalnya akan ada pembatasnya. Ikut ya Kak, ikut."
"Lihat saja nanti. Ya sudah, ayo kita selesaikan membuat kuenya."
"Ya, Kak." Jawab Henny dan segera menyelesaikan tugasnya agar cepat selesai.
Cukup lama keduanya berkutat di dapur, akhirnya dapat menyelesaikan membuat kuenya.
"Ye ... akhirnya jadi juga kue buatan kita, Kak." Ucap Henny merasa senang atas berhasilnya membuat kue bersama sang kakak.
__ADS_1
"Wah ... benar-benar pintar kalian ini. Mana coba, Nenek mau mencicipi nya. Sepertinya sangat enak." Ucap Nenek Aruma yang tiba-tiba datang dan memuji Henny dan Nanney.
"Sebentar ya, Nek. Henny potong dulu kuenya." Jawab Henny dan mengambil pisau khusus untuk memotong kue.
"Jangan lupa, suami kamu di perhatikan." Goda Nenek Aruma. Nanney yang mendengarnya pun, ia tersenyum.
"Ya tuh, suami kamu jangan dicuekin. Mana nanti mau lomba renang, lagi. Jadi, sana pergi layani suami kamu. Sekalian, buatkan teh tawar yang panas untuk suami kamu." Timpal Nanney yang lupa jika dirinya keceplosan.
"Kakak tahu dari mana? kalau Mas Danu suka teh panas yang tawar."
"Biasanya kan gitu, makan kue sama minuman yang tawar. Kalau minuman nya manis, rasa manisnya pun akan hilang karena kita sudah makan kue yang manis juga." Jawab Nanney yang akhirnya mencari alasan.
"Oh ya juga ya, aku baru sadar." Kata Henny yang baru menyadarinya.
Nanney tersenyum pada adik perempuannya, agar tidak menjadi curiga karena kelalaiannya.
Setelah itu, Henny mengambilkan beberapa potong kue dan membuatkan minuman teh tawar untuk suaminya, segera ia mengantarkan ke ruang tamu.
"Mas Danu, ini kuenya sudah jadi. Silakan untuk dinikmati, serta teh tawarnya." Ucap Henny sambil menyodorkan kue dan minuman teh tawarnya sebagai teman duduk santainya.
"Terimakasih banyak ya, Hen." Jawabnya dan langsung mematikan ponselnya.
"Oh ya Mas, sebentar lagi acaranya sudah mau di mulai. Setelah ini, Mas Danu bersiap-siap, karena harus mengambil nomor antrian." Ucap Henny untuk mengingatkan.
"Ya, terimakasih lagi karena sudah mengingatkan aku. Ngomong-ngomong, Nenek dan Kakak kamu, ikutan nonton juga, 'kan?"
"Ya, Nenek dan Kak Nanney ikutan nonton. Mereka berdua sedang menikmati kuenya. Kalau begitu, aku tinggal ke belakang ya, Mas?"
"Ya, silakan."
__ADS_1
Henny yang merasa dicuekin dan tidak diajak untuk ikut duduk bersama menikmati kuenya, hatinya terasa sakit. Tapi, mau bagaimana lagi. Henny tak mampu untuk merayu ataupun menggoda suaminya sendiri.
Menjaga gengsi, itu jauh lebih baik, pikir Henny.