
Nenek Aruma yang lupa belum mengajak masuk kedalam rumah, akhirnya menggandeng Nanney dan mengajak Doin maupun Ciko untuk masuk ke rumah.
"Maafkan Nenek yang sudah mengabaikan kalian datang, ayo silakan masuk." Ajak Nenek Aruma sambil menggandeng tangan Nanney.
Saat sudah berada di dalam rumah, Nanney celingukan seperti mencari sesuatu.
"Silakan duduk, Nak. Sebentar ya, Nenek ambilkan minum dulu. Dan kamu Nanney, kalau kamu kecapekan, kamu bisa istirahat di kamar." Ucap Nenek, Nanney pun mengangguk pelan.
"Ya, Nek. Oh ya, Henny kemana Nek? katanya sudah menikah, kok gak kelihatan. Apa dianya ikut tinggal bersama suaminya?"
"Henny menemani suaminya di kebun buah, soalnya lagi panen. Mungkin tiga hari atau dua hari lagi pulang." Jawab Nenek.
"Ooh gitu, kirain kemana. Soalnya dari tadi tidak melihat Henny, padahal Nanney sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."
"Sabar aja dulu, tidak lama kok." Kata Nenek.
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar Nenek yang akan buatkan minum untuk yang sudah mengantarkan kamu pulang."
"Ya, Nek. Maafkan Nanney ya Nek, sudah merepotkan Nenek." Jawab Nanney, kemudian segera pergi ke belakang untuk cuci kaki sebelum masuk ke kamar.
Sudah menjadi kebiasaan di Kampung, ketika pulang dari tempat manapun, diharapkan untuk cuci kaki, tangan, dan muka.
Sedangkan Ciko dan Doin tengah duduk sambil memperhatikan ruang tamu.
"Cik."
"Apa?"
"Kamu yakin nih, Nona Nanney mau tinggal di rumah yang seperti ini? jika Tuan Gane mengetahui keadaan yang sebenarnya, bagaimana? apa tidak menjadi perkara baru untuk kita?"
__ADS_1
"Kita tidak mempunyai pilihan lain selain untuk keselamatan calon bayi yang sedang di kandung oleh Nanney." Jawab Ciko yang sudah dipikirkan sebelumnya bersama Bosnya.
"Ya juga sih, aku juga ada pikiran yang seperti kamu maksudkan. Cuman, disini fasilitas nya kurang memadai. Kalau Nona Nanney membutuhkan sesuatu, bagaimana? tidak ada suaminya, lagi."
"Kita berdoa saja, semoga semua akan baik-baik saja. Kita harus berpikiran yang positif, agar tidak mengganggu pikiran kita untuk mengorek kebenaran mengenai masalah yang akan kita tangani."
"Ya, aku rasa Neneknya sangat menyayangi Nona Nanney. Semoga saja, semua akan baik-baik saja." Ucap Doin yang akhirnya sependapat dengan Ciko.
"Kalian berdua pasti sangat capek, ya toh?"
"Nenek tau aja deh. Ya Nek, kita kecapekan. Soalnya kita memakan waktu yang cukup lama. dari pagi sampai jam satu siang baru sampai, mana jalannya berliku-liku seperti nasib hidup saya Nek." Sahut Doin yang tidak lupa dengan senyumnya yang ramah.
"Doin, jaga bicaramu bersama orang lebih tua dari kita." Bisik Ciko pada temannya.
"Kamu ini, bisa aja. Ini minumnya sama pisang goreng, jangan sungkan-sungkan. Maaf jika makanan di tempat Nenek tidak seenak di tempat kalian."
"Kalau boleh tau, nama kalian siapa? kalau Nenek, Aruma. Panggil saja Nenek Arum, ya."
"Ya Nek, nama saya Ciko."
"Kalau saya Doin, Nek."
Jawab Keduanya bergantian.
"Maaf Nek, Nenek tinggal sendirian?" tanya Ciko yang menyimpan rasa penasaran.
"Ya Nak, Nenek tinggal sendirian sudah satu mingguan. Suami Nenek sudah meninggal, Nenek hanya ditemani Nanney dan Henny. Keduanya sudah menikah, cuman kalau Henny masih ikut Nenek."
"Kok, saya tidak melihatnya ya."
__ADS_1
"Makanya kalau ada orang sedang berbicara itu diperhatikan, kecuali di tempat tertutup." Timpal Ciko.
"Tadi aku itu sedang fokus memperhatikan lingkungan di sekitar, sangat asri dan sejuk. Jadi, aku tidak mendengar obrolan siapanya."
"Sudah sudah, kalian berdua jangan berdebat. Namanya Hennyta, sudah menikah beberapa bulan ini. Karena sudah waktunya untuk panen buah, Henny dan suami pergi kebun sudah ada satu mingguan."
"Ooh, gitu ceritanya."
"Ya, Nak Doin."
"Pulangnya masih lama berarti ya, Nek."
"Ya, mungkin tiga hari lagi sudah pulang."
"Pekerja keras juga ya, orang-orang disini."
"Kalau tidak bekerja keras, kita tidak bisa makan."
"Benar banget, Nek. Kalau begitu, saya minum ya Nek."
"Ya ya, mari silakan diminum dan dinikmati pisang gorengnya. Kalau gitu, Nenek mau pamit ke belakang. Nenek mau menyiapkan makan siang untuk kalian, pasti sudah pada lapar, 'kan? kalau mau istirahat, kalian bisa masuk kamar yang itu."
"Ya Nek, terimakasih banyak. Maaf juga jikan kedatangan kami telah merepotkan Nenek."
"Tidak, justru Nenek sangat senang jika kedatangan tamu. Oh ya, bukanya tadi kamu mau memberi sebuah kejutan?"
"Ah ya, saya lupa. Kejutannya yaitu, bahwa Nona Nanney sedang hamil muda, Nek." Jawab Doin yang akhirnya berterus terang dengan kebenaran yang ada.
Nenek Aruma yang mendengarkannya pun, alangkah terkejutnya ketika mendapatkan kabar yang sangat bahagia.
__ADS_1