
Masih di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat masih ada Nanney yang ditemani Alana dan Doin.
Nanney masih diam, rasa sakit hati yang terlontar lewat mulut Gane tengah membuatnya ingin segera pergi jauh dari kakak iparnya.
"Nona," panggil Mbak Alana mengagetkan.
Nanney masih diam, terasa malas untuk berucap, meski hanya satu katapun.
"Nona," panggil Mbak Alana yang kedua kalinya sambil memegangi mangkuk kecil berisi bubur.
Karena tidak ada jawaban apapun dari Nanney, Mbak Alana meletakkan mangkoknya dan duduk didekat Nanney.
"Nona, apakah Nona sedang ada masalah?" tanya Mbak Alana, berharap Nanney mau menjawab pertanyaan darinya.
Nanney pun menoleh, kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Saya hanya ingin sendirian dulu, Mbak." Kata Nanney dengan lesu.
"Kenapa, Nona?"
"Tidak apa apa, Mbak. Kalian berdua keluarlah, saya tidak ingin merepotkan kalian berdua." Jawab Nanney yang tidak memiliki semangat apapun pada dirinya.
"Nona tenang saja, saya yang akan keluar dari ruangan ini. Alana akan tetap menemani Nona, apapun alasannya." Ucap Doin ikut menimpali.
"Tapi, saya tidak ingin merepotkan kalian berdua."
"Kami berdua sedikitpun tidak merasa keberatan, Nona." Kata Mbak Alana.
"Baiklah, terserah kalian berdua. Sebelumnya saya minta maaf jika saya sudah banyak merepotkan kalian berdua." Ucap Nanney dengan pasrah, meski kecilnya sangat menolak.
"Tidak apa apa, Nona. Ini semua sudah menjadi tugas saya untuk menjaga Nona. Kalau begitu saya permisi, Nona." Jawab Doin sekaligus berpamitan, Nanney mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Doin yang tidak ingin mengganggu jam istirahat, akhirnya ia memilih untuk bergegas keluar dari ruangan tersebut dan memilih menjaga di depan pintu. Kini tinggallah Nanney dan Mbak Alana yang berada di dalam ruangan tersebut.
"Nona, sekarang sudah waktunya untuk makan siang." Ucap Mbak Alana sambil meraih mangkok yang ada didekatnya.
Nanney terdiam sambil menatap mangkok yang ada ditangan Mbak Alana. Pikirannya kembali teringat pada sebuah ucapan yang sangat pedas sepedasnya cabai rawit. Ucapan siapa lagi kalau bukan dari seorang Gane, yang tidak lain kakak iparnya sendiri.
"Nona, saya suapi ya?" rayu Mbak Alana. Nanney hanya menggelengkan kepalanya, benar benar tidak ingin mengisi perutnya setelah mendapatkan ucapan yang sangat menyakitkan itu.
Mbak Alana yang bingung atas sikap dari Nanney, ia mencoba menanyakan sesuatu padanya.
"Maaf Nona, kalau boleh tahu, Nona sedang ada masalah apa? apakah Tuan Gane menyakiti hati Nona?" tanya Mbak Alana yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Meski terdengar sangat lancang, Mbak Lana terpaksa bertanya.
Nanney yang mendapatkan pertanyaan dari Mbak Alana, ia langsung menoleh padanya.
"Mbak," panggil Nanney dengan lirih. Tetap saja, Mbak Alana masih dapat mendengarkannya.
"Ya, Nona." Jawabnya sedikit tegang, antara takut dan juga penasaran.
Seketika, Mbak Alana benar-benar kaget mendengarkan pertanyaan dari Nanney. Sebisa mungkin, Mbak Alana memberi nasehat kecil untuknya.
"Untungnya sangat banyak, Nona." Jawab Mbak Alana yang membuat Nanney bingung untuk mengartikan jawaban dari Mbak Alana.
"Untung yang sangat banyak? kenapa harus untung, bukankah sangat rugi? kita disakiti hati dan fisik masih dibilang untung banyak? Mbak Alana jangan mengada ngada deh. Namanya disakiti itu sangat rugi, Mbak." Kata Nanney yang menilai jawaban dari Mbak Alana tidak masuk akal, pikirnya.
Mbak Alana tersenyum ketika mendapatkan pendapat dari seorang Nanney.
"Mbak Alana kok senyum-senyum gitu sih, tidak ada yang lucu tau Mbak."
"Kata siapa kita akan rugi? kita akan sangat beruntung. Tapi ... ada tapinya loh." Kaya Mbak Alana masih dibarengi senyum yang mengembang.
"Tapi, tapi kenapa Mbak?"
__ADS_1
"Tapi ada syaratnya, syaratnya itu harus kuat dan sabar. Dibalik kesabaran dan kuat menghadapinya, maka Nona akan menjadi orang yang sangat beruntung. Beruntung memenangkan karena dapat melewati masa masa itu. Masa yang dimana Nona telah disakiti, fisik maupun hatinya. Ingat, jangan menyerah dan mudah untuk ditindas. Tunjukkan bahwa Nona kuat dan sabar, maka Nona yang akan menjadi pemenangnya dan tentunya akan beruntung karena tidak kalah dari lawan." Jawab Mbak Alana memberi penjelasan sedetail mungkin.
Nanney yang mendengarkan dengan seksama, ia berusaha untuk mencerna maksud dari Mbak Alana dengan penjelasan yang cukup gamblang untuk didengar serta untuk ditangkap arti maksud dari semuanya.
"Kalau Nona hanya bisa diam dan menerima apapun, yang ada Nona akan tersiksa dan Nona akan merugi. Kenapa merugi? hati Nona tambah sakit, kesabaran pun seakan tidak ada artinya karena Nona sudah merasa lemah dan tidak bisa berbuat apa apa karena pasrah sebelum Nona bangkit. Hati Nona tersakiti, fisik Nona pun ikut tersakiti. Lantas, siapa yang rugi? pasti Nona sendiri." Ucap Mbak Alana kembali memberi nasehat kecil untuk Nanney.
Sejenak Nanney diam dan mencoba kembali mengingat apa yang sudah dikatakan oleh Mbak Alana.
"Nona sudah mengerti kan, maksud dari ucapan saya?" tanya Mbak Alana.
Nanney yang sudah dapat mencerna aoa yang dimaksudkan dari ucapan Mbak Alana, Nanney tersenyum padanya dan disertai anggukan kepala.
"Terimakasih banyak ya, Mbak. Sekarang saya jadi tahu untuk memutuskan apa yang harus saya lakukan, saya mengerti yang Mbak Alana maksudkan. Saya tidak akan menjadi wanita yang lemah, saya harus menjadi wanita yang kuat. Saya sabar, saya kuat, tapi bukan berarti untuk lemah." Ucap Nanney yang akhirnya dapat memantapkan diri dengan tekadnya yang sudah bulat.
Mbak Alana kembali tersenyum saat mendapati Nanney yang tidak terlihat lesu dan lemah, kini terlihat sedikit ceria diraut wajahnya.
"Nah, gitu dong. Saya semakin semangat untuk menyemangati Nona." Kata Mbak Alana dan tersenyum.
"Ya Mbak, saya harus semangat. Apapun yang terjadi, saya harus bisa melewatinya. Kehadiran Mbak Alana benar benar membawa saya bersemangat untuk tidak menjadi perempuan yang lemah." Ucap Nanney, kemudian ia langsung memeluk Mbak Alana cukup erat.
Nanney merasa sangat beruntung ketika dirinya terjatuh, kini ada seseorang yang siap menjadi penyemangat nya.
"Nona, lepaskan. Saya tidak bisa bernapas, sesak nih." Pinta Mbak Alana yang terasa sesak untuk bernapas.
Nanney yang tersadar jika dirinya memeluknya dengan erat, ia langsung melepaskan pelukannya.
"Karena Nona terlihat sudah jauh lebih ceria dari yang tadi, sebaiknya Nona makan siang dulu." Ucap Mbak Alana menawarkan untuk makan siang, Nanney pun mengangguk. Mbak Alana yang sudah mendapatkan persetujuan dari Nanney, ia mengambilkan mangkok berisi bubur yang ada didekatnya.
"Biar saya yang akan menyuapi Nona, jangan menolak. Anggap saja ini perhatian saya yang pertama." Ucap Mbak Alana sambil memberi suapan pada Nanney.
Sebelum menerima suapan dari Mbak Alana, Nanney mengangguk dan tersenyum. Setelah itu, ia menerima suapan pertama dari Mbak Alana. Seketika, Nanney menitikkan air matanya.
__ADS_1