
Sedangkan di Kota, tepatnya di rumah yang ditempati Ciko dan Doin, kini tengah disibukkan untuk melakukan persiapan pengepungan di kediaman keluarga Huttama.
"Kamu yakin jika malam ini kita akan beraksi?" tanya Doin untuk memastikan.
Ciko mengangguk sambil fokus dengan layar laptopnya.
"Bapak mendukungmu, Nak. Semoga malam ini rencana kita akan berhasil. Kita tidak mempunyai cara lain selain dilakukan pengepungan di rumah utama malam ini juga." Ucap Pak Elyam ikut menimpali.
"Ya Pak, karena saya ingin secepatnya Bos Gane keluar dari lapas dan bisa berkumpul lagi bersama calon anak dan istrinya."
"Semoga malam ini kita berhasil, Pak."
"Bersemangat lah, karena semua ini tidak ada yang instan dan mudah."
"Ya Pak, terimakasih banyak atas semua kebaikan dari Bapak."
"Jangan berlebihan ketika mengucapkan terimakasih, karena Bapak sudah menganggap kalian semua adalah bagian dari keluarga Bapak sekaligus anak-anaknya Bapak." Ucap Pak Elyam, Ciko memeluk kembali pada Beliau.
Setelah melepaskan pelukan, Ciko kembali melakukan pekerjaannya mengenai penangkapan pada Tuan Prasetyo. Namun sebelumnya, Ciko melakukan kerja sama pada Tuan Hardika.
"Pak, bolehkah saya bertanya?"
"Tentu saja boleh, ayo tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan kepada Bapak."
"Apakah David ikut dalam rencana orang tuanya?" tanya Ciko dengan rasa penasarannya.
"Tidak, karena sebenarnya David bukanlah putranya Tuan Prasetyo."
Seketika, Ciko benar-benar sangat terkejut mendengarkannya.
"Apa! David bukan putranya Prasetyo? terus, David itu putranya siapa?" tanya Ciko tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Pak Elyam.
"David adalah putranya Hardika yang di tukar, sedangkan Vandu adalah putra yang sebenarnya anak dari Tuan Prasetyo dengan Serena." Jawab Pak Elyam.
Ciko benar-benar tidak menyangka atas perbuatan kelicikan dari Tuan Prasetyo yang dianggap baik dan selalu memberi perhatian penuh. Namun kenyataannya, semua hanyalah kepalsuan yang sudah di susun dengan apik dan tidak ada yang bisa menyangkalnya.
Ciko yang mendengar penjelasan dari Pak Elyam pun, hatinya benar-benar merasa sakit. Begitu sadisnya harus melakukan segala cara hanya karena harta, banyak nyawa yang harus melayang untuk dijadikan korbannya.
__ADS_1
"Kamu tahu, kecelakaan pada kapal juga Tuan Prasetyo lah dalangnya." Ucap Pak Elyam memberi kebenarannya.
Ciko yang sudah sangat mu*ak, ingin secepatnya melakukan aksinya. Ciko sudah menyusun rencananya melalui Tuan Hardika setelah dihubungi dan diberi penjelasan oleh Pak Elyam.
"Bagaimana Cik? apakah keputusan kamu sudah benar-benar yakin?" tanya Doin untuk memastikannya.
"Ya, aku sudah yakin dengan keputusan ini. Secepatnya kita harus melenyapkan Tuan Prasetyo beserta anak dan istrinya." Jawab Ciko dengan yakin, tak peduli pada akhir dari sebuah perjuangan atas nama keluarga Huttama.
"Baiklah, sekarang kita tinggal melakukan persiapan. Untuk Tuan Hardika, apakah kamu sudah konfirmasi dengan Beliau?"
"Tidak hanya pada Tuan Hardika saja, tetapi pada beberapa polisi yang sudah diminta untuk melakukan pengepungan, malam ini sudah siap untuk beraksi."
"Terus, bagaimana dengan kita? apakah kita akan ikut andil dalam pengepungan itu?"
"Tidak, kita akan tetap berada di rumah ini bersama Pak Elyam."
"Terus, kalau terjadi sesuatu pada Tuan Hardika dan David, bagaimana?"
Lagi-lagi Doin merasa khawatir jika akan terjadi sesuatu yang tidak baik pada Tuan Hardika dan David yang rupanya adalah putranya.
"Aku sudah menyiapkan pistol kepada mereka berdua, tentu saja lewat anak buah Iswan teman Bos Gane dalam tahanan."
"Sekarang bukan waktunya untuk memuji, kerjakan sesuai tugas dariku."
"Siap, ayo lanjutkan pemantauan lewat layar andalan kita."
Setelah dirasa semuanya tersusun dengan sangat rapi, Tuan Hardika kini baru saja datang bersama Vandu ke rumah Utama milik keluarga Huttama.
Dengan berbagai macam penyamaran dari beberapa anggota polisi dan anak buah dari Ciko dan Iswan teman Gane, kini semuanya sudah berada di dalam rumah dan di setiap. sudut rumahnya dengan berbekal pistol masing-masing.
"Kak Hardika, ayo kita bersulang. Kita rayakan kemenangan kita, sebentar lagi kita akan sampai pada titik puncaknya dengan kejayaannya kita." Ucap Tuan Prasetyo dengan percaya dirinya.
Tuan Hardika tersenyum tipis dan bersulang dengan satu gelas berukuran yang cukup kecil dan tidak layak untuk dikatakan gelas.
"Tenang saja, aku akan bagi rata padamu sesuai janjiku padamu. Terimakasih banyak, karena Kak Hardika telah bermain dengan pintar untuk menjadi orang serakah di hadapan Gane maupun si curut Ciko dan Doin."
Tuan Hardika tak meresponnya, hanya senyum tipis sebagai jawaban yang tak jelas itu.
__ADS_1
Makan malam pun telah dimulai dengan khidmat dan tanpa ada suara apapun yang dijadikan pengganggu untuk menjadikan alat kebisingan oleh Tuannya sendiri.
Dengan mata yang tak kalah untuk beroperasi di sekitarnya, Tuan Hardika mulai melakukan sesuatu untuk keselamatan dirinya bersama putranya yang tengah duduk bersama.
Meski sudah menguasai, Tuan Prasetyo tetap dengan dramanya. Karena tahu, Gane dan Ciko masih hidup. Jadi, demi mengelabuhi dari lawan, Tuan Prasetyo masih bertahan dengan rencananya.
"Mau sampai kapan, kamu akan terus-terusan seperti ini, Prasetyo? sudahi saja lah akal bulus kamu itu."
"Tidak, aku akan tetap pada tujuanku. Aku akan melenyapkan Gane dan kedua anak buahnya itu, Ciko dan Doin." Jawab Tuan Prasetyo tetap pada pendiriannya.
Tuan Hardika tersenyum tipis ketika mendengar pernyataan dari adiknya yang mana jauh lebih busuk hatinya.
Tuan Pras maupun anak dan istrinya tengah menikmati makan malamnya bersama Tuan Hardika sebagai titik ancaman.
Karena semakin muak saat mendapatkan tekanan terus-menerus oleh Tuan Prasetyo, akhirnya mulai geram.
Tuan Hardika merasa sangat beruntung ketika tidak dijadikan target oleh keponakannya sendiri, Ganenta Huttama.
Selesai menikmati makan malam bersama, Tuan Pras dan yang lainnya bangkit dari posisi duduknya masing-masing.
DOR!
Terdengar sangat jelas suara peluru tengah mengudara di luaran sana. Saat itu juga, Tuan Prasetyo serta anak dan istrinya benar-benar sangat terkejut. Begitu juga dengan Tuan Hardika yang ikut andil dalam drama sebelah, Beliau dan putranya sama halnya ikut terkejut dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu utama untuk masuk ke rumah.
"Siapa yang bermain pistol?" tanya Tuan Pras dengan rasa penasarannya.
Saat itu juga, masuklah beberapa polisi dengan jumlah yang tidak sediki sambil siap siaga dengan pistolnya.
Naas, Tuan Pras dan putranya tidak siap siaga dengan senjata tajamnya.
"Apa-apaan ini, ha!"
Dengan terkejut, Tuan Pras bagai mimpi buruk yang sulit untuk menyempurnakan kesadarannya.
Tuan Hardika dan David Putranya mundur beberapa langkah demi untuk keselamatan keduanya.
Tanpa pikir panjang, Tuan Pras dan Vandu segera kabur dari rumah utama.
__ADS_1
DOR!
DOR!