Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
keberadaan kakaknya


__ADS_3

Karena Bosnya tidak lagi keluar dari kamar istrinya, Ciko dan Doin akhirnya merasa lega karena bisa tidur didalam kamar yang pernah dijadikan tempat tidurnya ketika mengantarkan Nanney pulang ke Kampungnya.


Karena ruang kamar yang tidak bisa ditempati oleh tiga orang, mau tidak mau ketiganya harus tidur di ruang tamu beralaskan tikar.


"Cik, Tuan Gane lagi ngapain ya?" tanya Doin ketika terbangun dari tidurnya.


Ciko yang masih terasa ngantuk, sedikitpun tak peduli dengan apa yang ditanyakan oleh Doin. Ciko tetap dengan posisi tidurnya yang mendengkur.


"Ciko, Ciko. Ditanyain malah mendengkur, bangun kek, apa kek, hem."


"Berisik amat lah, kamu ini. Aku tuh capek, pingin tidur. Sapa tau aja bisa bermimpi dengan kembang desa, kan lumayan pulang dari kampung dapet mimpi yang indah. Mendingan juga kamu itu pindah saja dari kamar ini, atau tidak tidur di luar juga tidak apa-apa." Jawab Ciko dengan posisi yang tengkurap.


"Hem, mimpi aja yang digedein. Eh, Ngomong-ngomong kalau Tuan Gane ketahuan sama Tuan Regar, bagaimana Cik?"


"Aku rasa mereka berdua sudah memikirkan dengan segala resikonya." Jawab Ciko sambil menguap karena rasa kantuk yang sudah menguasai kedua matanya.


"Tapi, kalau Tuan Regar murka, bagaimana mengatasinya Cik? yang aku takutkan itu, akan ada perang saudara." Ucap Doin dengan khawatir jika terjadi sesuatu pada kedua majikannya.


"Sudahlah Doin, mendingan juga kamu buat itu tidur. Lagian masih ada hari esok, tidak perlu pusing untuk memikirkannya. Mau disimpan serapat-rapatnya juga bakal ketahuan." Jawab Ciko yang tidak bisa menahan rasa kantuknya itu.


Doin yang setuju dengan apa yang dikatakan Ciko, dirinya kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Regar yang berada di dalam kamar bersama istrinya, ia mulai gelisah dan teringat pada Nanney.


Saat itu juga, Regar bangkit dari posisi tidurnya. Pandangannya pun tertuju pada Henny istrinya yang meringkuk sambil memeluk guling. Diperhatikan nya sang istri yang terlelap dari tidurnya, Regar memilih untuk keluar dari kamar.


'Maafkan aku Henny, aku benar-benar tidak bisa mempertahankan pernikahan kita. Cintaku hanya untuk istriku, Nanney.' Batin Regar sambil memperhatikan istrinya.


Karena ingin berada dalam satu kamar dengan Nanney, dirinya memilih untuk keluar.

__ADS_1


Pelan-pelan Regar melangkahkan kakinya, agar langkahnya tidak kedengaran oleh istrinya sendiri.


Ketika membuka pintunya, Regar tidak mendapati sang kakak maupun Doin dan Ciko di ruang tamu. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang tidur di atas tikar.


Regar mulai kebingungan saat keluar dari kamar.


"Kemana tidurnya Kak Gane dan kedua temannya? bukankah kamar yang satunya itu sangat sempit? bahkan tidak cukup untuk tidur tiga orang, dua orang saja sudah pengap." Gumamnya saat sudah berada di ruang tamu sambil memeriksa di sekitarnya.


Karena rasa penasarannya itu, Regar mencoba untuk memeriksa kamar yang dijadikan untuk kamar tamu.


Dengan pelan, Regar membuka pintunya agar tidak menimbulkan suara. Ketika pintunya terbuka, alangkah terkejutnya saat sepasang matanya tidak mendapati sang kakak.


Tentu saja, Regar punuh tanda tanya dibenak pikirannya itu. Karena rasa ingin tahu kemana perginya sang kakak, Regar mencoba untuk membangunkan Ciko maupun Doin.


"Kak Ciko, Kak Doin, bangun." Panggil Regar sambil menggoyangkan badan keduanya.


Regar yang penasaran, dirinya tidak ada kata menyerah untuk membangunkan Ciko maupun Doin.


"Kak Ciko, bangun. Kak, ini aku Regar." Panggil Regar yang terus membangunkan Ciko.


Karena merasa tidurnya terganggu, Regar langsung mengubah posisi tidurnya sambil menyadarkan dirinya sendiri dari tidur lelapnya.


Kemudian, Ciko bangkit dari posisinya dan duduk sambil mengucek kedua matanya. Karena merasa silau akibat pencahayaan lampu, pelan-pelan Ciko menyempurnakan pandangannya.


Setelah dirasa penglihatannya cukup jelas, Ciko mengarahkan pandangannya pada Regar. Begitu juga dengan Doin yang akhirnya ikut terbangun dari tidurnya.


Alangkah terkejutnya bagi Doin saat melihat Regar sudah berada di hadapannya. Tentu saja, pikirannya langsung tertuju pada Gane yang tengah tidur bersama istrinya.

__ADS_1


"Kak Ciko, Kak Gane dimana? sepertinya tidak kelihatan."


Ciko dan Doin sama-sama bingung untuk menjawabnya, keduanya pun saling menatap satu sama lainnya.


Kamar diantara milik istrinya, Nanney dan kamar tamu saling berdekatan. Tentunya, akan terlihat jelas jika ada yang keluar dari kamar masing-masing.


"Kenapa Kak Ciko dan Kak Doin tiba-tiba diam? tidak ada sesuatu pada Kak Gane, 'kan?" tanya Regar ingin tahu.


"Mungkin lagi buang air besar, soalnya dari tadi aku tidur. Entah kalau Doin." Jawab Ciko beralasan dan mengalihkan nya pada Doin.


Karena tidak mungkin juga jika menjawabnya dengan jujur dengan posisi dimananya.


Doin melotot saat mendapatkan lemparan pertanyaan dari Regar.


"Ah ya, sepertinya lagi di kamar mandi. Memangnya ada apa, Tuan? jam segini itu enak-enaknya tidur sambil memeluk istrinya. Lah ini, kenapa Tuan terbangun." Ucap Doin yang lupa jika statusnya sudah terbongkar, jika Regar sudah mengingat segalanya.


"Oh, kirain pergi dari rumah ini." Kata Regar yang akhirnya mempercayai alasan dari Ciko dan Doin.


Sedangkan Gane yang juga terbangun dari tidurnya, dirinya merasakan haus dan tenggorokan terasa kering.


Karena tidak bisa menahan rasa dahaga, Gane segera bangkit dari posisi tidurnya. Tersadar jika tidak mengenakan sehelai benang apapun di tubuh polosnya, Gane meraih pakaiannya yang berserakan dibawah dan memungutnya kembali serta dikenakannya lagi.


Setelah itu, Gane meraih gelas yang berada di atas meja. Kemudian dirinya menuangkan air minumnya. Sayangnya, ternyata tidak ada air satu tetes pun di dalam tekonya.


"Kenapa juga mesti kehabisan air minum segala, coba." Gumamnya sambil mengusap tenggorokannya yang dirasa tidak gatal, melainkan terasa kering dan meronta ingin segera minum.


Karena dahaga, akhirnya Gane bergegas keluar dari kamar istrinya untuk pergi ke dapur mengambil air minum.

__ADS_1


__ADS_2