
Regar menatap wajah Nanney dengan lekat. Dilihatnya wajah ayu yang sering ia pandangi disetiap saat. Kini, semua bagai mimpi buruk yang harus diterimanya.
Regar tersenyum tipis pada Nanney, sosok perempuan yang pernah singgah di hatinya dan menemani hari-harinya. Karena tidak ingin menjadi duri untuk saudara laki-lakinya yang dianggapnya pengganti orang tua, Regar segera memberi keputusan dan tidak untuk menjadi orang yang egois yang maunya menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Kamu berhak bahagia bersama mimpimu, mimpi bersama Pangeran mu. Maafkan aku yang sudah egois ini. Aku percaya kekuatan batin mu bersama Kak Gane tidak dapat diragukan lagi, kalian berdua memang jodoh yang terpisahkan." Ucap Regar berusaha untuk tetap tegar walau hatinya merasa sakit harus merelakan perempuan yang dicintainya.
"Kamu serius?" tanya Nanney memastikan. Takut, laki-laki yang ada dihadapannya itu hanya bersandiwara dan mencoba menutupi perasaannya.
"Aku serius, gadis manja." Jawab Regar, tak lupa dengan tingkahnya yang tidak pernah berubah seperti dulu, menjepit hidung milik Nanney yang sering dilakukannya di masa kecil.
"Kak Ega, lepaskan. Aku tidak bisa bernapas, sakit." Pinta Nanney yang kini sudah mengingat semua kenangan masa kecilnya bersama tiga lelaki yang dianggapnya sebagai keluarga.
Ciko dan Gane yang melihat keakraban Nanney dan Regar, keduanya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Doin, Nenek Aruma, dan Henny ikut terharu melihatnya. Perasaan cemburu kini mulai mereda, tidak ada lagi yang harus ditakuti dan dikhawatirkannya.
"Sudah sudah, hentikan dulu bercandanya. Kalian berdua ini tidak pernah berubah dan selalu saja berantem." Ucap Ciko memergokinya.
Regar yang mendengarkannya pun, segera menghentikan senda gurauannya bersama istri kakaknya.
"Besok kita akan pulang ke Kota, kita pergi ke makam kedua orang tua kita. Apakah kalian mau ikut? jika ya, ayo kita pulang. Sebelumnya, beri laporan dulu pada pihak rumah sakit. Setelah mendapatkan izin, kita akan segera pulang ke Kota." Ucap Gane.
__ADS_1
"Benarkah kita akan pulang ke Kota?" tanya Nanney yang seperti tidak percaya.
Meski terlihat bahagia, perasaan Nanney tidak bisa dibohongi jika dirinya sangat bersedih karena tidak lagi mempunyai kedua orang tua. Kabar bahagia yang seharusnya disampaikan dan ada sebuah pertemuan, kini hanya menatapnya hampa.
Tidak hanya itu saja, Nanney sendiri terasa berat jika harus berpisah dengan Nenek Aruma. Beliau lah yang selama ini menjadi pengganti orang tuanya. Meski tidak ada hubungan kekerabatan, Nanney sudah menganggapnya bagian keluarganya.
Nenek Aruma yang dapat menangkap pembicaraan Gane, Ciko, Nanney, dan Regar, Beliau ikut merasa bersedih ketika harus berpisah kembali bersama Nanney yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
Nanney tiba-tiba tertunduk sedih jika harus berpisah dengan Nenek Aruma. Gane yang melihat istrinya tidak bersemangat, segera mendekatinya.
"Kamu kenapa bersedih? seharusnya sekarang ini kamu bahagia, kita sudah berkumpul kembali seperti dulu. Lalu, apa yang membuatmu bersedih, sayangku?" tanya Gane.
Kemudian, Gane langsung memeluk istrinya.
Gane yang mendengar keluh kesah dari istrinya, ia mengusap punggungnya pelan da tersenyum tanpa sepengetahuan suaminya.
"Kita akan mengajaknya untuk tinggal di Kota bersama. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membujuknya. Bila perlu, Regar sendiri yang akan mengajaknya." Jawab Gane berusaha untuk menyenangkan hati istrinya.
Setelah itu, Gane melepaskan pelukannya dan menetap wajah istrinya dengan senyum.
__ADS_1
"Benarkah yang Kakak katakan barusan?" tanya Nanney untuk memastikannya.
Gane mengangguk, pertanda menyetujui permintaan istrinya.
Nanney yang merasa permintaannya akan di penuhi, ia langsung menhampiri Nenek Aruma. Sedangkan Gane mendekati Regar untuk membujuk adik laki-lakinya agar bisa mengajak istrinya untuk pulang ke Kota, pikir Gane penuh harap.
"Nenek," panggil Nanney sambil menatap Beliau.
"Ya Nak, ada apa?" jawab Nenek Aruma dan bertanya.
"Maafkan Nanney yang sedari tadi sudah mengabaikan Nenek."
"Tidak apa-apa, Nak. Nenek dapat memahaminya dan ikut bahagia karena dirimu dapat dipertemukan kembali dengan keluargamu." Ucap Nenek Aruma dan Beliau langsung memeluk Nanney dengan perasaan bahagia.
Kini, sosok Nanney yang sudah dianggap putri kecilnya, rupanya telah menemukan kebahagiaannya. Nenek Aruma benar-benar sangat bahagia.
Di sisi lain, Henny sedikit ada rasa cemburu ketika Nanney menemukan kebahagiaannya. Sedangkan dirinya sendiri jauh dari kata beruntung dan bahagia.
Henny sama halnya dengan Nanney yang tidak berawal tidak memiliki siapa-siapa kecuali Nenek Aruma sebagai pengganti orang tuanya. Henny diambil dari keluarga yang tidak mampu, kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Saat itulah, Nenek Aruma mengangkatnya menjadi putrinya dan bagian keluarga Beliau.
__ADS_1
Kedatangan Henny di rumah Nenek Aruma setelah Nanney di adopsi keluarga Nenek Aruma di Kota. Nasib berkata lain, Nanney harus berjuang sendiri demi hidupnya setelah ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kedua orang tua angkatnya.
Disitulah, Nanney menjadi sosok yang dipaksa untuk kuat dan tegar tanpa mengeluh. Bahkan kesedihannya sendiri ia tutupi dari Nenek Aruma demi untuk tidak menjadi beban pikiran Beliau.