Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mendapatkan pesan masuk


__ADS_3

"Itu apa? hem."


"Tidak, aku tidak tahu." Jawab Nanney dengan malu, dan secepatnya untuk melepaskan baju sang suami yang tengah melekat ditubuhnya.


"Aku mau mandi, kau tunggu saja di kamar ini. Aku butuh bantuan mu untuk mengganti perbannya."


"Ya, Kak." Jawabnya dengan singkat, kemudian ia duduk di tepi ranjang untuk menunggu suaminya selesai membersihkan diri.


"Aw ...!" teriak Gane kesakitan saat lengannya menyenggol benda yang ada didekatnya. Nanney yang mendengar teriakan dari dalam kamar mandi, segera menggedor pintunya.


"Kak, Kakak kenapa? buka pintunya." Panggil Nanney sambil menggedor pintu kamar mandi.


Gane langsung membuka pintunya tanpa peduli dengan kondisinya sendiri.


Saat itu juga, Nanney langsung menutup matanya. Gane mengerutkan keningnya.


"Lepaskan tanganmu ini, ngapain ditutup tutup segala. Aku ini suami kamu, bukan orang yang mau perk*osa kamu." Ucap Gane memaksa istrinya untuk melepaskan tangannya.


"Aku malu, itu saja." Jawab Nanney sambil membukanya dengan pelan-pelan, kemudian menatap suaminya dengan malu.


"Tolong bantu aku untuk menggosok punggungku, dan yang lainnya."


"Menggosok punggung Kak Gane?"


"Ya lah, memang punggungnya siapa? hem."


Nanney menggigit bibir bawahnya karena gugup.


"Cepat kau gosok punggung ku dengan sabun. Kamu tidak usah malu, tidak ada larangan apapun diantara kita."


"I--ii-ii-iya." Jawabnya terbata-bata karena gugup.


Karena tidak punya pilihan lain, mau tidak mau Nanney menuruti permintaan dari suaminya. Dengan tangan yang gemetar dan juga gugup, Nanney menempelkan tangannya dengan lembut saat menggosok punggung suaminya.


Sedangkan Gane begitu menikmati pada setiap sent*uhan dari istrinya, Ia pun tersenyum tanpa sepengetahuan dari Nanney. Setelah itu, Gane membalikkan badannya dan berhadapan dengan sang istri.


Diraihnya tangan kanan istrinya dan menempelkan nya tepat pada dada bidangnya.


"Sekarang kamu gosok bagian depan, awas jika salah." Ucap Gane seakan memberi kode pada istrinya. Nanney sendiri semakin gugup dibuatnya, ingin menyudahi pun tidak akan mungkin.

__ADS_1


Pelan-pelan Nanney menggosok dada bidang suaminya dengan sabun, kemudian berpindah pada lengannya dan juga bagian perutnya. Sesekali Nanney mendongak dan menatap lekat wajah suaminya.


'Yang benar saja ini, kenapa rasanya menjadi panas dingin begini? sungguh membuat pikiranku tidak karuan.' Batinnya sambil menggigit bibir bawahnya, serta menelan ludahnya.


Setelah selesai membantu suaminya mandi, Nanney keluar dari kamar mandi. Sedangkan Gane mengenakan handuknya sendirian dan segera menyusul istrinya yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Ambilkan aku baju dan yang lainnya. Ah ya, kotak obatnya juga. Aku butuh bantuan kamu untuk mengobati lukaku ini." Perintah Gane sambil menahan rasa sakit di bagian lengannya.


Nanney segera mengambilnya dan membantu sang suami untuk mengenakan pakaiannya.


"Kakak sih, bandel. Sudah aku bilang, biar aku saja yang masak. Eee Kak Gane tetap ngeyel, jadinya sakit, 'kan? hem." Kata Nanney sambil membantu suaminya mengenakan baju.


"Tidak usah banyak omong kamu ini, diam lah." Jawab Gane dengan tatapan tidak suka atas komentar dari istrinya.


"Terus, celananya gimana?" tanya Nanney bingung.


"Ya pakaikan saja, kenapa? malu lagi? bahkan kau pura-pura lupa apa yang sudah kamu lakukan di Pulau itu." Tuduh Gane dengan terang-terangan.


Meski melakukannya dengan setengah kesadarannya, Nanney tetap mengingat momen yang sudah ia lakukan bersama suaminya.


'Sial! kenapa juga mesti mengingatnya lagi, itu kan karena sesuatu.' Batin Nanney dengan kesal.


Karena malas mendapatkan tuduhan dari suaminya, Nanney segera membantu untuk mengenakan celananya serta mengobati lukanya. Setelah semuanya selesai dan tidak ada lagi yang kurang, Gane dan Nanney keluar dari kamar menuju ruang makan untuk makan siang berdua.


Beberapa jam dilewati oleh keduanya hingga tidak terasa sudah jam delapan malam, Gane maupun Nanney tengah disibukkan dengan benda berharganya masing-masing setelah menikmati makan malam.


Gane yang sibuk dengan laptopnya, dengan Nanney yang sibuk dengan ponselnya. Alih-alih Gane mencoba mengoperasikan laptopnya untuk memantau perkembangan sesuatu yang menjadi ladang bisnisnya yang sudah lama ia geluti.


Frustrasi karena tidak mendapatkan balasan lewat @mail dari Ciko, seakan rasanya ingin membanting laptopnya.


"Kemana perginya itu anak, kenapa tidak langsung membalas pesanku. Apakah Ciko mau berkhianat denganku? awas saja kalau itu benar." Gumamnya sambil mengepal kuat kedua tangannya.


Tidak lama kemudian, pesan pun masuk dan tentunya membuat Gane penasaran dan segera membukanya.


"Apa! kabar Pengacara Elyam." Ucapnya dengan reflek dan dapat didengar oleh istrinya yang sedang memainkan ponselnya.


"Kak Gane udah kek menang lotre aja, dih."


"Diam kau, berisik." Sahut Gane sambil membaca pesan masuk dari Ciko.

__ADS_1


"Aku harus memerintahkan anak buah ku untuk menyelidiki lebih detail lagi, apapun caranya." Gumamnya, kemudian mengacak rambutnya yang tidak gatal karena sedikit penat untuk memikirkannya.


Karena sedikit lega mendapatkan informasi tentang Pengacara Elyam, Gane melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya untuk istirahat.


"Besok tinggal mencari jawaban siapa orangnya yang sudah menukar makanan dan minuman ku." Gumamnya lagi, kemudian mematikan laptopnya dan membuang napasnya dengan kasar.


Setelah kepenatannya sedikit berkurang, Gane menoleh pada istrinya yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Berikan ponselnya padaku, waktunya untuk istirahat." Ucap Gane sambil meminta benda yang dipegang oleh istrinya.


Nanney mendongak, kemudian menatapnya yang seakan melarang suaminya untuk menyita ponselnya.


"Aku belum mengantuk, Kak Gane tidur saja kalau mau tidur." Jawab Nanney tanpa memberikan ponselnya.


"Berikan ponselnya sekarang juga, jangan membantah." Ucap Gane sekaligus memaksa istrinya untuk menyerahkan ponselnya.


"Kak, lima belas menit lagi. Percayalah denganku, setelah itu aku langsung tidur." Jawab Nanney yang seakan meminta belas kasihan.


"Apakah kamu sudah lupa dengan permintaan ku yang tadi pagi?"


Seketika, Nanney tersadar dengan apa yang diinginkan oleh suaminya di waktu pagi.


"Kak Gane serius?"


"Ya, serius. Jadi persiapkan dirimu sekarang juga, ingat itu."


"Kak, aku capek banget." Kata Nanney berusaha untuk memberi alasan yang menurutnya masuk di akal.


"Lantas, kenapa kamu memintaku lima belas menit lagi untuk bermain dengan ponselmu jika kamu itu merasa capek? ada-ada saja alasan kamu."


"Besok pagi jam empat, bagaimana?"


Gane mengernyit saat istrinya memberinya tawaran. "Kau serius? Aku tidak percaya." Tanya Gane lagi lagi tambah bersemangat untuk mengerjai istrinya.


"Serius, aku tidak bohong. Jam tiga pagi aku akan bangun, terus mandi. Setelah itu aku akan melayani Kak Gane seperti yang Kak Gane inginkan." Jawab Nanney dengan geli sendiri.


Sedangkan Gane sendiri justru tertawa mendengarkannya, dan benar-benar diluar dugaannya. Karena badannya terasa pegal-pegal, Gane memilih untuk berbaring di atas tempat tidur.


"Ayo kita tidur, tidak baik jika kita sering bergadang." Ajak Gane sambil menepuk bantal yang ada disebelahnya. Dengan malas, Nanney segera mendekat dan membaringkan tubuhnya disebelah sang suami.

__ADS_1


__ADS_2