Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Insiden kecelakaan


__ADS_3

Mbak Alana yang merasa tidak enak hati, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Kok diam, Mbak. Katanya mau bertanya? apakah Kak Gane tidak mengizinkan saya untuk keluar rumah? jika tidak, saya tidak akan memaksa Mbak Lana untuk menuruti permintaan saya."


"Bukan itu, Nona."


"Terus apa dong, Mbak?"


"Saya hanya takut terjadi sesuatu pada Nona, soalnya kita tidak memiliki penjagaan yang ketat untuk Nona." Jawab Mbak Alana yang tiba-tiba mengkhawatirkan Nanney.


"Mbak Lana tidak perlu khawatir, sepertinya disekitaran sini aman aman saja."


"Ya Nona, saya mengerti. Saya sudah mengenal komplek rumah ini, orangnya baik baik dan ramah-ramah." Kata Mbak Lana, tetap saja hati kecilnya merasa takut jika ada hal buruk yang kapan saja bisa terjadi, pikir Mbak Lana.


"Kan ada si ... siapa tadi temannya Mbak Lana, Doin ya, Mbak?"


"Ya, Doin. Ya sudah kalau Nona ingin keluar sebentar hanya sekedar mencari udara diluaran sana. Tapi sebelumnya saya mau menghubungi Tuan Gane terlebih dahulu."


"Loh, katanya Mbak Lana sudah diizinkan? kok Mbak Lana minta izin lagi."


"Tetap saja harus memberitahu Tuan Gane, Nona." Jawabnya, kemudian Mbak Lana segera menghubungi Tuannya.


Setelah mendapatkan izin, Mbak Lana mengajak Nanney untuk segera keluar sesuai


permintaannya.


"Akhirnya aku bisa menghirup udara luar lagi, aku kira mau dikurung terus. Rupanya Kak Gane ada baiknya juga, ya ... walaupun hanya keluar rumah saja. Setidaknya aku tidak seperti tahanan, dah itu saja." Gumamnya sambil merentangkan kedua tangannya.


'Nona sangat cantik, serasi jika bersanding dengan Tuan Gane. Semoga saja tidak ada halangan apapun sampainya pernikahan mereka berdua. Benar-benar pasangan yang serasi.' Batin Mbak Lana dan tidak lupa memberi doa untuk Tuannya.


"Mbak Lana," panggil Nanney sambil berjalan menyusuri jalanan. Tidak lupa juga, Nanney mengayunkan kedua tangannya silih berganti.


"Boleh, memangnya Nona mau bertanya apa?" jawab Mbak Lana dan bertanya.


"Mbak Lana sudah berapa lama bekerja dengan Kak Gane? soalnya saya tidak pernah melihat Mbak Lana di rumah utama." Tanya Nanney karena rasa penasarannya.

__ADS_1


"Saya karyawan di Kantornya dulu, Nona. Sama seperti Doin, sama-sama bekerja di Kantornya." Jawabnya yang tanpa sadar berkata jujur.


Seketika, Mbak Lana menutup mulutnya. Nanney yang terkejut dengan ekspresi dari Mbak Lana, akhirnya ia memberanikan diri untuk kembali bertanya.


"Karyawan di Kantornya? terus, kenapa Mbak Lana menjadi asisten rumah? begitu juga dengan si Doin. Kalian berdua sedang tidak menjalani masa hukuman, 'kan? jawab dengan jujur dong, Mbak."


"Tidak, Nona. Kita berdua kerja dimanapun tempatnya, tetap kita jalani. Saya dan Doin sudah bergantung pada Tuan Gane, apapun itu pekerjaan yang diberikan oleh Tuan Gane akan kita laksanakan." Sambung Doin yang mengikutinya dari belakang.


"Oooh, kirain. Habisnya ekspresi Mbak Lana tadi seperti menyembunyikan sesuatu." Kata Nanney dengan rasa penasarannya.


"Eh si Eneng cantik, jodohnya Bang Gane. Mau pergi kemana, Neng?" sapa seorang Ibu paru baya sambil membawa sesuatu yang ada ditangannya.


"Ya nih Bu, saya mau jalan-jalan. Di rumah terus bosen, pingin nyari udara di luar, Bu." Jawab Nanney dibarengi senyum yang mengembang.


"Kalau begitu, Ibu duluan ya Neng."


"Ya Bu, mari." Kata Nanney, kemudian ia kembali melanjutkan jalannya.


Sambil berjalan, Nanney terus bergandengan tangan dengan Mbak Lana. Sedangkan Doin mengikutinya dari belakang, takut jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada Nanney.


"Mbak Lana, Mbak Lana." Panggil Nanney sambil mengayunkan tangannya.


"Ya Nona, ada apa?"


"Itu rame-rame penjual apa ya, Mbak?" tanya Nanney sambil menunjuk pada lokasi yang dimaksudkan.


"Oh itu penjual bubur kacang hijau, Nona." Jawab Mbak Lana.


"Sepertinya sangat menggoda, Mbak Lana membawa uang, 'kan?" tanya Nanney penuh harap.


"Tentu saja, Nona. Apakah Nona ingin membelinya? kalaupun ia, biar Doin yang akan membelikannya." Ucap Mbak Lana yang merasa takut akan terjadi sesuatu pada Nanney.


"Tapi saya ingin ikut membelinya, Mbak. Aku rasa jika kita makan ditempatnya akan jauh lebih enak untuk dinikmatinya, Mbak. Apalagi dengan suasana yang terbuka." Jawab Nanney dengan pilihannya.


"Tapi, Nona."

__ADS_1


"Ayolah Mbak, mau ya? sekali ini saja." Pinta Nanney yang terus berusaha untuk merayunya.


Mbak Lana yang menyimpan rasa takut, akhirnya mendongakkan pandangannya pada Doin. Tentu saja ingin meminta persetujuan darinya, takut jika dirinya yang akan ikut terlibat pada sesuatu yang terjadi pada orang yang ia jaga.


"Nona, lebih baik tunggu disini saja. Biarkan saya saja yang akan membelikan buburnya untuk Nona. Lihatlah Nona, jalanan cukup ramai untuk kita menyebrang." Ucap Doin ikut menimpali, berharap ucapannya dapat didengarkan nya.


"Sekali ini saja, serius." Pinta Nanney yang tetap bersikukuh atas permintaannya.


"Baiklah Nona, mari saya gandeng tangan Nona. Sebelumnya saya minta maaf jika saya telah lancang." Kata Mbak Lana, Nanney langsung tersenyum ceria ketika permintaannya dapat diterima oleh Mbak Lana dan Doin.


"Tidak ada yang lancang dari Mbak Lana, justru saya seperti mempunyai teman. Selama ini saya seperti kehilangan teman saat saya tinggal di rumah utama milik keluarga mendiang suami saya, Mbak." Kata Nanney yang tiba-tiba teringat kenangan pahit bersama suaminya. Mau bagaimana pun, dirinya harus kuat untuk melewati masa-masa sulitnya.


"Maafkan saya, Nona. Jika ucapan saya barusan telah mengingatkan pada sesuatu yang membuat Nona menjadi sedih."


"Tidak apa apa kok Mbak, lagian sudah berlalu. Saya akan berusaha untuk melupakan, tetapi bukan berarti tidak mengingatnya." Kata Nanney berusaha untuk tetap bisa tersenyum, walaupun kenyataannya sangatlah pahit untuk dikenang.


Sambil mengayunkan tangannya yang tengah bergandengan dengan tangan milik Mbak Lana.


Kini ketiganya tengah berhenti sambil menunggu mobil dan kendaraan lainnya yang lewat.


Tidak lama kemudian, lampu merah yang sedari tadi ditunggu-tunggu, akhirnya tibalah waktunya untuk menyebrang. Tanpa menoleh arah kanan dan kiri, Nanney tetap menyebrang jalan.


"Nona! awas ...!" teriak Doin sangat kencang saat melihat mobil yang tiba tiba menacapkan gasnya dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaaaaa!!" Teriak Nanney saat terpental ke sembarang arah. Mbak Alana sendiri ikut terpenral, namun hanya jatuh tersungkur.


Sedangkan Nanney terjatuh hingga membentur trotoar dan tidak sadarkan diri.


Mobil yang baru saja menabrak Nanney, langsung ngacir begitu saja. Bahkan melebihi pembalap liar.


Semua orang-orang langsung berkerumun melihat Nanney yang sudah tidak sadarkan diri.


"Nona! Nona." panggil Mbak Lana dan Doin bersamaan.


Mbak Lana yang sangat panik dengan keselamatan Nanney, berkali kali menepuk kedua pipinya. Berharap tidak ada luka yang parah pada Nanney, yakni orang yang harus ia jaga keselamatannya sesuai perintah dari Tuannya. Sedangkan semua orang yang berkerumun hanya melihat insiden kecelakaan tersebut tanpa melakukan pertolongan apapun pada korban.

__ADS_1


Tidak ada respon dari orang orang, Doin segera menelpon ambulan. Namun sebelum menelpon ambulan, Doin mendapati taksi lewat di dekatnya. Saat itu juga, Doin langsung menghentikan taksi tersebut untuk mengantarkan ke rumah sakit.


__ADS_2