
Tidak terasa sudah larut malam, Gane dan Ciko masih berada di tempat peristirahatan ditemani hujan yang deras dan disertai dengan kilat yang saling menyambar dan guntur yang menggelegar. Pencarian untuk sang adik pun terpaksa harus dihentikan.
Kecewa itu sudah pasti, mau bagaimana lagi jika cuaca di luar sangat lah buruk. Tidak ada satupun orang yang bisa menghentikan hujan.
Sedangkan di ruang lantai bawah, Tuan Hardika bersama putranya dan juga adik laki lakinya bernama Tuan Pras, kini ketiganya tengah beristirahat di dalam kamar masing-masing.
Berbeda dengan Gane yang sedari tadi mondar mandir dengan penuh kegelisahan, pikiran yang kacau tidak tentunya tidak karya memikirkan keselamatan adik laki lakinya.
"Bos, mau sampai kapan Bos Gane akan bergadang terus menerus? sekarang ini sudah waktunya untuk istirahat, Bos. Jangan sakiti diri Bos sendiri, Bos Gane harus sehat. Besok masih bisa dilanjutkan lagi untuk dilakukan pencarian." Ucap Ciko mencoba untuk membujuknya, Gane menoleh pada Ciko.
"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, Cik. Aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaan adikku. Apakah Regar baik baik saja, atau ... entahlah, aku tidak bisa berprasangka yang tidak tidak." Kata Gane sambil memijat pelipisnya, berharap beban yang ia jalani bisa berkurang, pikir Gane.
"Bos, bukankah ada Nona Nanney istri Tuan Regar. Kenapa Bos Gane tidak bertanya saja padanya? seperti apa kronologinya, begitu Bos. Tapi ... istrinya Tuan Regar pasti sedang trauma, dan tentunya butuh istirahat yang cukup dan pastinya dilarang untuk diberi pertanyaan yang berat. Apa lagi mengenai insiden itu, tidak mungkin diizinkan oleh Dokter."
Seketika, Gane teringat pada sosok Nanney. Kedua matanya terlihat tajam, rahang yang mengeras disertai suara gigi yang menggerutuk dan kedua tangannya ikut mengepal sangat kuat. Bahkan terlihat ingin melayangkan tinjuannya entah ke sembarang arah. Ciko yang melihat Gane tiba-tiba berubah ekspresinya, pikiran buruknya seketika menguasai isi dalam pikirannya sendiri.
"Bos, tahan! Bos. Jangan gunakan emosi untuk menyelesaikan masalah." Ujar Ciko yang dapat menangkap apa tengah dipikirkan oleh Gane, yakni Bosnya sendiri.
"Aku yakin, jika yang meminta liburan adalah perempuan itu. Ya! perempuan itu lah penyebab insiden kapal kecelakaan, aku harus temui dia sekarang. Aku akan memintanya untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada adikku." Ucap Gane yang tiba-tiba pikirannya mengarah kepada adik iparnya sendiri. Disaat itu juga, Gane langsung bergegas bangkit dari posisi duduknya hendak pergi begitu saja.
__ADS_1
"Bos, aku mohon jangan pergi."
"Minggir, aku harus menemui perempuan itu sekarang juga." Kata Gane tetap pada pendiriannya untuk segera menemui adik iparnya.
Ciko yang tidak ingin terjadi apa apa pada adik ipar Bosnya, sebisa mungkin untuk menghalangi perginya Gane.
Sambil menahan pundak milik Gane, Ciko tetap mempertahankan Bosnya untuk tidak pergi.
"Aku mohon jangan gegabah dan emosi untuk menyelesaikan masalah insiden ini, Bos. Pikirkan baik baik, menyelesaikan masalah bukan dengan emosi, tetapi dengan kepala dingin."
"Aku tidak butuh nasehat dari kamu, Ciko. Yang aku butuhkan yaitu, perempuan itu harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa adikku." Lagi lagi Gane tetap pada tujuannya untuk menemui adik iparnya yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Bos, aku mohon untuk tidak menyalahkan istrinya Tuan Regar, Nona Nanney tidak tahu apa-apa. Kasihan orangnya, Nona Nanney pasti sedang dalam penanganan Dokter dan istirahat yang cukup. Tidak semudah itu untuk memulihkan kesehatannya dari insiden kecelakaan kapal itu, Bos." Kata Ciko sambil mencegah perginya Gane.
"Bos! harus berapa kali aku menjawabnya, ha! nasib kita itu sama! sama! sama! Bos. Tidak hanya Bos Gane yang merasa kehilangan adik kesayangan, aku pun juga." Ucap Ciko yang akhirnya terpaksa membentak Bosnya sendiri yang menurutnya sudah memancing emosinya.
Gane yang mendapatkan bentakan dari Ciko, akhirnya ia memutar balikkan badan dan melepas jaketnya yang masih menempel di badannya sejak dari kantor hingga larut malam karena sibuk memikirkan keselamatan adik laki lakinya. Satu satu yang berharga dalam hidupnya adalah keluarga, pikir Gane.
Dari kecil Gane hanya memiliki Regar dan Ciko, selebihnya ia tidak pernah menganggap paman pamannya adalah bagian keluarganya. Baginya jika kedua orang tuanya sudah tidak ada, maka hilang sudah keluarga lainnya. Meski tidak dapat untuk dipungkiri jika dirinya tinggal bersama pamannya. Mau bagaimana lagi, dari kecil sudah merawatnya hingga tumbuh menjadi dewasa dan tidak mungkin juga untuk mengusir pamannya, pikir Gane dengan sifatya yang keras kepala.
__ADS_1
Setelah mengganti pakaiannya, Gane langsung beristirahat di tempat tidurnya. Sedangkan Ciko sendiri dapat bernapas lega ketika Bosnya dapat dikendalikan, meski terlihat terpaksa sekalipun, intinya Ciko tidak begitu kesusahan untuk menahan Bosnya pergi.
'Maafkan aku, Bos. Jika sedari tadi aku harus marah dan membentak, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada diri kamu, Bos.' Batin Ciko sambil berjalan pelan menuju tempat tidurnya yang jaraknya tidak jauh dengan tempat tidur milik Gane.
Gane yang sebenarnya ingin pergi, akhirnya ia urungkan niatnya untuk menemui adik iparnya.
'Hari ini kamu bisa lolos, lihat saja jika sampai adikku tidak juga ditemukan, aku akan membalasnya pada mu.' Batin Gane yang kini justru memikirkan adik iparnya sendiri atas kekesalannya karena adik laki lakinya yang tidak ditemukan.
Karena hari esoknya akan dilanjutkan pencarian adik laki-lakinya, Gane akhirnya memilih untuk beristirahat sejenak. Meski terasa susah untuk memejamkan kedua matanya, Gane terus memaksakannya.
Lambat laun karena tidak bisa menahan rasa kantuknya, pada akhirnya Gane bisa tidur juga. Meski tidurnya penuh dengan kegelisahan, tidak henti hentinya ia mengigau tentang adiknya.
Ciko yang berada di dekatnya, berulang kali ia menyadarkan Bosnya. Tetap saja Gane terus mengulanginya hingga sampai pagi.
"Bos! bangun, Bos. Sadar, Bos. Bangun, Bos." Panggil Ciko berulang kali untuk mengembalikan kesadaran Bosnya yang sejak tudur terus mengigau.
Gane sendiri terperanjat dari tempat tidurnya dengan keadaan yang hampir saja jatuh ke lantai.
"Regar! Regar! adikku dimana, Cik?"
__ADS_1
"Sadar! Bos, Sadar. Tenangkan pikirannya, Bos. Ini sudah pagi, Bos." Kata Ciko sambil meninggikan suaranya.
Gane sendiri akhirnya kembali duduk di bibir tempat tidurnya, kemudian ia menunduk dengan pikirannya yang kembali kacau dan tidak karuan. Tidak dapat dipungkiri jika dirinya menitikan air matanya, kesedihan yang begitu dalam saat dirinya harus kehilangan adik yang ia sayangi.