Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Memberanikan diri


__ADS_3

Gane hanya menatapnya tajam pada Ciko. Tanpa bersuara, Gane langsung menarik kursinya dan duduk.


"Cepat kau ambilkan sup nya, dan makanan yang lainnya. Awas saja jika makanan kamu itu sampai meracuni ku, jangan harap kau akan selamat." Perintah Gane sambil menatap tajam pada Nanney.


"Yang namanya diracun itu ya, Bos. Yang tidak selamat itu ya yang diracun, ada-ada Bos Gane ini." Ucap Ciko tanpa sadar jika dirinya tengah diperhatikan oleh Bosnya. Saat itu juga Ciko menoleh ke arah Gane yang tentu saja menatapnya tajam. Dengan percaya diri, Ciko tersenyum lebar pada Bosnya.


"Tadi aku itu sedang bercanda, Bos. Mana mungkin aku biarkan Bos Gane mati keracunan." Kata Ciko meyakinkan Bosnya itu yang mudah tersinggung, diam-diam Nanney tersenyum ketika Ciko dan Gane menunjukkan ekspresinya masing-masing.


"Kau makan duluan saja, setelah itu baru aku." Perintah Gane, sedangkan Ciko hanya bisa mengiyakan apa yang diperintahkan Bosnya.


Nanney yang malas ikut campur, dirinya lebih memilih untuk menikmati sup nya selagi masih panas yang terasa segar jika di seruput dalam satu sendok yang berulang ulang.


"Bos, makanan ini aman. Percayalah sama aku, Bos." Ucap Ciko yang sudah habis setengah mangkok.


Lagi-lagi Gane tidak menyahut, ia langsung menyuapi mulutnya sendiri satu suapan dan dilanjutkan ke suapan berikutnya. Saat itu juga, ia merasakan masakan yang tidak asing dalam ingatannya. Seketika, Gane tersedak saat menyeruput sup nya yang dibarengi dengan lamunannya.


"Kak, minumlah. Jangan terburu buru makannya, pelan pelan saja." Ucap Nanney sambil menyodorkan air minumnya.


Gane langsung meraih gelas dari tangan Nanney dan ia langsung meminumnya hingga tandas tidak tersisa.


"Kau sengaja ingin membunuhku dengan cara mati tersedak, begitu kah?" tuduh Gane dengan tatapannya setajam mata elang.


"Kak Gane yang tersedak, kenapa menyalahkan aku? itu kesalahan Kak Gane sendiri yang terburu buru, mungkin."

__ADS_1


"Kau berani menjawab rupanya. Ingat, kau masih mempunyai hutang yang masih banyak, dan kau juga harus membayar semuanya padaku, ingat baik baik." Ucap Gane kembali mengungkitnya kembali atas kehilangan adik kesayangannya.


BRAK!


Nanney menggebrak meja dengan sangat kuat karena emosinya yang sudah meluap dan juga sudah tidak dapat untuk ia kendalikan. Nanney sudah berdiri sambil menatap tajam pada Gane.


Tidak peduli seberapa besar amarah yang keluar dari sosok Gane.


"Asal Kak Gane tahu, jika aku disuruh untuk memilih mati, maka lebih baik aku memilih untuk mati dari pada hidup dan harus menanggung beban yang sangat berat." Ucap Nanney dengan suaranya yang cukup meninggi dihadapan Gane.


Seorang Gane tidak akan pernah menerima pendapat orang lain yang sudah mengusik sesuatu yang sudah menjadi miliknya, termasuk hilangnya adik kesayangannya.


"Kau sudah berani denganku rupanya, aku pastikan kau tidak akan pernah lepas dari genggamanku. Aku akan terus membuatmu tersiksa, camkan, itu." Sahut Gane dan di akhiri dengan satu gebrakan pada meja makan.


Gane yang merasa tertantang, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Rahangnya kembali mengeras, dan dengan suara gigi saling menggesek dan menimbulkan suara yang menggelutuk.


"Bos, redakan emosinya. Lupakan sejenak, kita habiskan dulu makanannya." Kata Ciko untuk mengalihkan pertengkaran antara kakak ipar dan adik ipar.


"Aku sudah tidak berselera makan, ini semua gara gara perempuan sialan seperti kau." Ucap Gane menunjuk pada Nanney, kemudian ia kembali masuk ke kamarnya.


Setelah Gane masuk ke kamarnya, kini tinggal Ciko dan Nanney yang masih sama-sama berdiri.


"Maafkan Bos Gane ya, Nona. Percayalah pada saya, apa yang Nona hadapi tidak seperti prasangka buruk yang Nona lihat. Selepas kehilangan keluarga dan orang yang disayanginya, semua telah berubah dari sosok Bos Gane." Ucap Ciko menjelaskan, sedangkan Nanney sendiri tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Ciko.

__ADS_1


"Aku masih belum mengerti apa yang terjadi dengan Bos kamu itu, aku tidak bisa mencernanya." Kata Nanney.


"Begini Nona, Bos Gane mengalami trauma berat atas kehilangan kedua orang tuanya beserta perempuan yang dimaksud gadis kecilnya itu karena sebuah kecelakaan. Dan sekarang kenangan itu harus terulang kembali pada adik kesayangannya yang tidak lain adalah suami Nona sendiri. Tentu saja Nona yang menjadi sasaran empuknya. Selama masih ada saya, Nona masih bisa untuk aku pantau. Tetapi jika saya tidak ada, saya berharap pada Nona untuk tidak memancing emosinya. Tapi bukan berarti Nona bisa semaunya jika ada saya." Ucap Ciko panjang lebar hanya untuk menjelaskan pokok permasalahan yang dialami oleh Bosnya.


Selesai mendengar apa yang sudah diceritakan oleh Ciko, justru tiba-tiba Nanney menyimpan rasa penasaran yang semakin dalam. Ingin rasanya untuk mengorek kisah masa lalunya.


"Sudahlah Nona, lebih baik Nona selesaikan makan malamnya. Setelah itu saya minta untuk membereskannya kembali. Selesai semuanya, silakan Nona kembali ke kamar." Perintah dari Ciko.


"Kembali ke kamar? memangnya kamar siapa yang harus aku tempati? bukankah hanya ada dua, punyamu dan punya Bos kamu." Tanya Nanney, seketika Ciko tersadar dengan apa yang diucapkan oleh Nanney dengan sepasang matanya yang sudah terlihat sangat mengantuk.


Rasa kasihan mengalahkan segalanya, pada akhirnya Ciko memilih untuk mengalah pada perempuan yang harus diutamakan. Bagi Ciko, berbuat baik pada semua orang termasuk pada seorang perempuan, baginya kebaikan untuk adik kesayangannya serta ibunya. Sebagaimana dia menyayangi adik perempuannya dan ibundanya yang sudah melahirkan.


"Kamu tidurlah di kamarku, biar aku yang akan tidur di ruang tamu. Kamu perempuan, sedangkan aku laki laki yang pantas tidur di manapun tempatnya." Ucap Ciko.


"Tapi, kalau ketahuan oleh Bos kamu, bagaimana? aku tidak ingin menambahnya masalah." Kata Nanney yang takut amarah dari kakak iparnya.


"Nona tenang saja, semua akan baik-baik saja. Percayalah sama saya, Nona." Ucap Ciko untuk meyakinkan Nanney.


"Andai saja, aku punya kakak ipar sepertimu. Pastinya hidupku akan jauh lebih tenang dari pada seperti yang sekarang ini. Ingin rasanya aku memberontak, terkadang nyalikh kembali menciut. Kalau begitu, terimakasih banyak sudah menolong aku ketika aku sedang berhadapan dengan Kak Gane." Kata Nanney, kemudian ia kembali melanjutkan membereskan meja makan dan juga mencuci bersih pada mangkok maupun piring, sendok dan juga gelas.


Sedangkan Ciko cepat-cepat segera mengambil bantal dan selimut dari dalam kamarnya sebelum Nanney datang.


Selesai membereskan semuanya dan tidak ada lagi yang tertinggal, Nanney masuk ke kamar Ciko untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2