Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pulang Kampung


__ADS_3

Selesai menikmati sarapan pagi dan meminum vitamin serta susu untuk wanita hamil, Nanney kembali ke kamar untuk bersiap-siap pulang ke Kampung halaman.


"Hari ini juga, aku akan meninggalkan Kota ini." Gumamnya sambil menatap luar lewat balkon. Sambil memejamkan kedua matanya, pelan-pelan menarik napasnya dan membuangnya dengan pelan juga.


Sambil mengusap perutnya, Nanney meneteskan air matanya. Terasa berat untuk berpisah dengan suaminya.


Karena tidak ingin terlihat jika dirinya tengah menangis sesenggukan, Nanney langsung menghapus air matanya. Kemudian, dirinya segera keluar dari kamarnya.


Tuan Pras serta anak dan istrinya tengah menunggu Nanney keluar dari kamar. Tidak lama kemudian, Doin sudah datang tepat waktu.


"Permisi, Tuan."


"Doin, silakan duduk."


"Terimakasih, Tuan. Kalau boleh tahu, apakah Nona Nanney sudah siap untuk berangkat ke Kampung halamannya?"


"Itu, istri keponakan ku." Jawab Tuan Pras dan menunjuk pada Nanney yang tengah menuruni anak tangga.


Sampainya di ruang tamu, Nanney disambut hangat oleh Tuan Pras dan Bunda Sere dan juga David.


"Nanney, kamu sudah yakin untuk pulang ke Kampung halaman keluargamu?" tanya Bunda Sere sambil memegangi tangan milik Nanney.

__ADS_1


"Ya, Tante. Nanney ingin tinggal bersama Nenek. Terimakasih banyak ya Tante, sudah mau menolong Nanney. Janji, Nanney tidak akan pernah lupa dengan kebaikan Tante dan juga Paman Pras maupun David. Maafkan Nanney yang sudah banyak merepotkan Tante." Jawab Nanney sekaligus mengucapkan banyak terimakasih.


"Rumah ini pasti akan kembali sepi, Regar, Gane, sudah tidak ada lagi di rumah ini. Kalau kamu ada waktu, datanglah kemari. Tante akan sangat senang jika kamu datang lagi kesini, bila perlu untuk tinggal bersama Tante di rumah utama ini."


"Nanney tidak bisa janji, Tante. Kalau begitu, Nanney pamit untuk pulang. Baik-baik ya, Tante." Ucap Nanney, kemudian Bunda Sere langsung memeluk istri keponakannya.


"Kak Nanney, kenapa mesti pulang ke Kampung sih Kak? padahal David senang banget kalau Kakak mau tinggal disini sambil menunggu kebebasan Kak Gane."


"Maafkan aku, Vid. Ini jalan yang terbaik untukku, sekalian untuk menenangkan diri. Kalau ada waktu, aku akan berkunjung ke rumah ini. Tapi, aku tidak bisa janji."


"Pilihan dan keputusan ada pada Kak Nanney, aku sebagai adik hanya bisa mendoakan Kakak. Semoga Kakak dan calon bayi selalu diberi kesehatan, salam buat keluarga Kakak yang ada di Kampung."


"Ya, kamu tenang saja."


"Maaf, Paman. Nanney tidak bisa memenuhi permintaan Paman, Nanney tetap akan pulang ke Kampung halaman. Paman, Tante, David, terimakasih banyak atas kebaikan kalian. Sekarang juga, Nanney pamit pulang." Jawab Nanney sambil mengagumkan kedua tangannya seperti memohon.


"Paman tidak melarang mu untuk pulang, hati-hati dalam perjalanan. Salam buat keluarga kamu di Kampung."


"Terimakasih banyak Paman, salamnya akan Nanney sampaikan." Jawab Nanney dan memutar balikkan badan.


Sambil berjalan sampainya didepan rumah, Nanney dibantu Doin membawakan beberapa pakaian miliknya serta oleh-oleh untuk keluarga yang sudah disiapkan oleh Bunda Sere.

__ADS_1


Dengan kecepatan sedang, Nanney menikmati perjalanannya menuju Kampung halamannya.


Tiba-tiba mobil pun berhenti di pertengahan jalanan yang cukup sepi. Terlihat jelas sosok yang tidak begitu asing oleh pandangan seorang Nanney.


"Kak Ciko, benarkah?"


Ciko yang merasa namanya disebutkan, langsung menoleh ke belakang.


"Benar, Nona. Saya dan Doin yang akan mengantarkan Nona sampai ke Kampung halaman."


"Kak Ciko selamat dari kejaran polisi, ya?"


"Lebih baik Nona diam saja, atau kita tidak akan sampai di Kampung halaman Nona karena banyaknya pertanyaan yang akan Nona lontarkan kepada saya." Jawab Ciko yang mana tatapannya lurus ke depan.


"Aku hanya bertanya itu saja, tidak lebih."


"Doin, kamu tambahkan lagi gasnya." Perintah Ciko sengaja untuk menakutinya.


"Jangan jangan jangan, ya ya deh. Aku tidak akan lagi bertanya sama Kak Ciko, aku minta kurangi kecepatannya." Pinta Nanney yang sadar jika dirinya kini tengah hamil.


Ciko yang malas bersuara dengan hal yang tidak penting, hanya memberi kode pada Doin.

__ADS_1


'Kenapa Kak Ciko jadi tambah dingin gitu, ya? Kak Ciko sedang tidak ada masalah lagi, 'kan? semoga saja tidak ada yang dikhawatirkan.' Batin Nanney dengan rasa penasarannya.


__ADS_2