
Waktu pun telah berlalu, tidak terasa kebahagiaan yang sempurna telah dilewatinya. Nanney telah bahagia bersama suami, begitu juga dengan Regar yang sudah menemukan cintanya itu pada istrinya yang bernama Henny.
Perut yang semakin besar, membuat Nanney terasa gerah untuk beraktivitas. Tinggal menunggu pagi, siang, dan sore, Nanney akan segera melahirkan.
Karena tidak ingin mengganggu kenyamanan dalam berumah tangga, Regar dan Henny sudah tidak tinggal di rumah utama, melainkan di rumah sendiri.
Di ruang makan, Henny terasa mual saat menikmati sarapan paginya. Tidak hanya itu saja, kepalanya ikut terasa pusing.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Regar dengan khawatir saat mendapati istrinya yang tengah menutup mulutnya.
"Perut aku mual, Mas. Kepalaku juga terasa pusing, mungkin masuk angin." Jawabnya dengan segera pergi dari ruang makan.
Regar yang khawatir, segera mengambil minyak angin untuk mengobati istrinya.
Sedangkan Henny berkali-kali telah muntah, Regar semakin khawatir. Karena takut terjadi apa-apa pada istrinya, Regar membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan.
Dengan kecepatan sedang, Regar dan istrinya telah sampai di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Regar langsung menggendong istrinya.
Sampai di ruang pemeriksaan, Regar menunggu di luar. Cemas, khawatir, itu sudah pasti. Ditambah lagi wajah istrinya terlihat pucat, kekhawatirannya semakin menjadi.
Karena ketidaksabaran, Regar memaksa untuk masuk.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Regar mendesak karena takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Ibu Dokter pun tersenyum ketika melihat kekhawatiran dari sosok Regar.
"Selamat ya, buat kalian berdua. Sebentar lagi akan menjadi orang tua, selamat untuk Tuan dan Nona." Jawab Ibu Dokter sekaligus memberi ucapan selamat untuk Regar dan Henny.
Sungguh kabar yang sangat bahagia, Regar berkali-kali mencium istrinya. Ibu Dokter pun tersenyum melihat sepasang suami-istri tengah berbahagia.
"Terimakasih banyak ya Dok, kabar ini sangat dinanti-nantikan oleh kami." Ucap Regar begitu bahagianya.
Sedangkan di tempat lain, Nanney tengah merasakan sesuatu pada bagian perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gane yang begitu khawatir dengan istrinya yang terlihat menahan sesuatu.
"Perutku, aku merasakan sesuatu pada bagian perutku." Jawab Nanney sambil menahan sesuatu pada bagian perutnya.
Nenek Aruma yang mendapati Nanney tengah mengeluh, segera mendekatinya.
"Perut kamu sakit? jangan-jangan kamu mau melahirkan." Tanya Nenek Aruma dan sekaligus menebaknya.
"Aaaw! perutku, aw! sakit banget Kak." Rengek Nanney sambil mencengkram lengan suaminya berusaha menahan rasa sakit pada bagian perutnya.
"Sekarang juga, bawa istrimu ke rumah sakit. Jangan sampai air ketubannya pecah duluan, ayo gendong istrimu." Perintah Nenek Aruma yang khawatir dengan keselamatan Nanney dan anak yang ada didalam kandungannya.
Gane yang sudah tidak sabar dan takut terjadi sesuatu pada anaknya yang ada dalam kandungan istrinya, segera membawanya ke rumah sakit.
Begitu juga dengan Nenek Aruma yang terburu-buru ikut mengantarkan Nanney ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan khusus perempuan yang akan melahirkan.
Sedangkan palayan rumah tidak lupa segera memberi kabar untuk Regar dan istrinya.
"Apa! di rumah sakit?"
Regar yang posisi berasa di rumah sakit juga terkejut saat mendapatkan kabar dari pelayan rumah utama.
"Baik, aku akan segera mencari keberadaan Kak Gane bersama istrinya." Ucap Regar dan segera mematikan ponselnya.
"Telpon dari siapa, Mas?" tanya Henny penasaran.
"Nanney, maksud aku istrinya Kak Gane mau melahirkan dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit ini, Jadi, ayo kita cegat lewat pintu yang lain." Jawab Regar, segera ia dan istrinya bergegas mencari dimana posisi istri sang Kakak.
Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Gane segera membawa istrinya ke ruang pemeriksaan. Setelah itu, ia ditemani Nenek Aruma menunggu.
__ADS_1
Karena perasaan yang khawatir, Gane tetap memaksakan diri untuk bisa menemani sang istri yang sedang berjuang demi anak yang akan dilahirkannya.
"Tolong izinkan saya untuk menemani istri saya di dalam." Ucap Gane yang terus memaksa untuk bisa menemani istrinya yang sedang berjuang, antara hidup dan matinya.
"Tapi Tuan,"
"Tidak ada tapi-tapian maupun mencegah saya, pokoknya saya mau masuk ke dalam." Kata Gane yang terus berusaha mendesak, agar dirinya bisa masuk kedalam ruang persalinan.
Karena tidak ingin terus di desak, akhirnya Gane diizinkan untuk ikut masuk kedalam ruangan bersalin.
Saat berada didalam ruangan, Gane langsung mendekati istrinya yang sudah kontraksi hebat. Berulang kali Nanney terus merasakan sakit yang berulang ulang jarak detikahnya, semakin lama semakin dekat jarak antara beberapa detik selanjutnya.
Gane yang tidak tega melihat istrinya yang tengah menahan rasa sakitnya, tak henti-hentinya untuk menyemangati istrinya sambil mengelus perutnya itu.
Nanney yang seraya ingin mengejan, dirinya langsung meraih lengan suaminya untuk dijadikan alat bantunya.
Gane yang mengerti dengan rasa sakit yang dirasakan oleh istrinya, tak peduli baginya jika lengannya menjadi sasaran istrinya. Bahkan, sampai mengeluarkan darah karena cengkraman dari sang istri.
Rasa sakit yang diterima oleh Gane tidak seberapa dengan pengorbanan istrinya yang mempertaruhkan nyawanya demi calon anak yang akan dilahirkannya.
Berulang kali Nanney terus menge*jan, rasa sakit seakan tak dirasakan lagi demi calon anaknya yang akan lahir.
Begitu juga dengan Ibu Dokter yang ikut memberi arahan untuk Nanney ketika tengah menge*jan.
Nafas semakin ditariknya panjang sambil menge*jan. Saat itu juga, ujung kepala bayi telah keluar dari jalannya dan dilanjut dengan benar, hingga sosok bayi telah lahir dengan selamat.
Suara tangisan bayi pun telah memecah di ruang persalinan, Gane dan Nanney begitu bahagianya hingga keduanya meneteskan air mata bahagia atas kelahiran anak pertamanya.
Tak henti-hentinya Gane menci*um istrinya karena perasaan bahagia yang begitu besar. Penantian yang dianggap hanya bayangan semua dan angan-angan semata, kini semua telah berubah menjadi nyata.
Perjalanan hidupnya mengajarkan kesabaran dan kesetiaan, walaupun kesetiaannya terlihat bodoh bagai bertepuk sebelah tangan. Tetap tekad bulatnya telah membawanya kehidupan yang sudah sekian lama dinanti-nantikan oleh sosok Gane.
"Selamat ya, Tuan. Bayi laki-laki dengan berat badan empat kilogram telah lahir dengan selamat." Ucap seorang Dokter memberi ucapan selamat pada Gane.
"Terimakasih atas pertolongan Dokter, kami sangat bahagia dengan kelahiran putra pertama kami." Jawab Gane dengan senyum ramah.
Ketika keluar dari ruangan persalinan, Nenek Aruma langsung mendekati Gane. Begitu juga dengan Regar dan Henny yang ikut menghampirinya.
"Nak Gane, bagaimana dengan istrimu?" tanya Nenek Aruma dengan cemas.
"Sudah melahirkan, Nek. Anak pertama kami berjenis laki-laki, dengan berat badan empat kilogram." Jawab Gane dengan perasaan bahagia.
"Beneran sudah melahirkan? Nenek sangat bahagia mendengarkannya. Selamat ya, akhirnya kamu menjadi seorang ayah. Semoga putramu menjadi anak kebanggaan dan kelak menjadi orang bijaksana." Ucap Nenek Aruma.
"Terimakasih banyak ya, Nek." Jawab Gane.
Kemudian, Regar mendekati sang kakak dan memeluknya.
"Selamat menjadi seorang ayah ya Kak, atas kelahiran putra pertama Kakak. Aku ikut bahagia, akhirnya harapan Kak Gane terwujud. Bahkan, impian Kakak yang dulu telah dibayar tunai." Ucap Regar memberi ucapan selamat untuk sang kakak.
Setelah itu, Gane melepaskan pelukan dari sang adik.
"Maafkan Kakak ya, sudah menjadi pengacau dalam hidupmu. Jujur, Kakak tidak ada niat untuk menyakiti hatimu."
"Tidak, Kakak tidak menjadi pengacau dalam hidupku. Justru, kini aku menemukan sosok perempuan yang begitu spesial untukku. Sekalian, aku mau memberi kabar bahagia juga, bahwa istriku tengah hamil." Ucap Regar yang tak lupa untuk memberi kabar bahagia juga.
Nenek Aruma yang dapat menangkap pembicaraan Gane dan Regar, Beliau segera mendekatinya.
"Kamu hamil, Nak Henny?" tanya Nenek Aruma ingin tahu.
"Ya Nek, beneran." Jawab Henny berkata jujur.
"Selamat ya, Nak. Nenek ikutan bahagia mendengarnya. Jangan lupa untuk dijaga kesehatannya, Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan calon bayi yang ada didalam kandungan-mu." Ucap Nenek Aruma memberi ucapan selamat.
__ADS_1
Begitu juga dengan Gane, tidak lupa ikut memberi ucapan selamat kepada adik laki-lakinya.
Setelah itu, semua segera menyusul untuk melihat keadaan Nanney yang sudah dipindahkan dari ruang bersalin.
"Kakak ... selamat atas kelahiran putra pertama, aku ikut bahagia." Ucap Henny dengan senyum yang lebar.
Kemudian, dilanjut oleh Nenek Aruma untuk memberi ucapan selamat untuk Nanney. Tidak lupa juga si Regar, mantan suaminya pun ikut memberi ucapan selamat.
Meski terkadang teringat masa lalunya, sedikitpun tidak untuk menjadi alasan untuk bertahan. Keduanya kini telah mendapatkan kebahagiaannya masing-masing.
"Kalau boleh tahu, nama untuk si bayi, siapa namanya ya?" tanya Henny membuka suara untuk nama bayi.
Gane menoleh pada istrinya, kemudian Nanney mengangguk seakan memberi kode pada suaminya.
"Gara Huttama." Jawab Gane dengan sangat jelas.
"Nama yang sangat bagus, semoga namanya akan melimpahkan kebahagiaan serta kesuksesan tanpa putus." Timpal Nenek Aruma memberi doa untuk putra pertama Nanney dan Gane.
"Satu lagi, ada kabar bahagia untukmu." Ucap Nenek kembali.
"Kabar bahagia apa, Nek?" tanya Nanney penasaran.
"Henny tengah hamil." Jawab Nenek Aruma.
"Henny hamil? Nenek serius?" tanya Nanney untuk memastikan tentang yang dikatakan oleh Nenek Aruma.
"Ya, benar." Jawab Nenek Aruma dan tersenyum.
"Selamat ya Hen, Regar, sebentar lagi kalian akan menyusul kami. Aku ikut bahagia mendengar kabar ini. Benar-benar sangat bahagia." Ucap Nanney memberi ucapan selamat untuk adiknya sendiri serta adik iparnya.
Henny langsung memeluk Nanney, keduanya sudah seperti saudara kandung sendiri.
Kini sudah tidak ada lagi kecemburuan diantara keduanya, semua telah menemukan kebahagiaannya masing-masing dan dapat melewati segala ujiannya yang sudah menjadi takarannya.
Regar yang sempat tidak bisa menerima kenyataan, lambat laun hatinya terbuka untuk istri keduanya. Begitu juga dengan Gane yang telah menyadari atas perbuatannya dan tidak untuk menyakiti siapapun orangnya.
Perjalanan hidupnya telah mengajarkan arti sebuah kesabaran dan menyelesaikan sebuah masalah serta belajar membuat keputusan yang baik.
Tidak ada lagi hambatan apapun, semua telah menemukan kebahagiaannya masing-masing termasuk Nenek Aruma.
TAMAT
Untuk kisah Ciko akan dibuatkan sendiri ya... soal waktunya akan saya usahakan di tanggal 20 nanti sudah bisa rilis ya...
Karena terlalu panjang jika harus dilanjutkan di novel ini, takutnya terasa bosan. Jadi, saya akan buatkan sendiri dengan kisahnya ketika menjadi Bodyguard Pewaris Tunggal Penasaran ya...
Sabar sabar.. ๐๐
Kalau sudah terbit, bakal akan ada notifnya ya...
Salam dari saya, otor gadungan serta amatiran๐
Sebelumnya saya mau meminta maaf, jika selama saya update ada salah kata atau tidak membuat nyaman pada kalimat terakhir, atau ... ada kesalahan yang lainnya, saya meminta maaf selaku pembuat cerita yang menurut saya sangat amburadul.
Selanjutnya, saya ucapkan terimakasih banyak kepada readers setia yang sampai sekarang ini masih terus setia dari terbitnya novel pertama saya hingga novel saat ini, tanpa kalian, saya bukan apa apa.
Terimakasih banyak yang sudah sudi memberi dukungan kepada saya melalui vote, like, dan komentar, serta hadiah yang dikhususkan untuk saya. Maafkan saya yang tidak bisa membalasnya lebih, hanya doa yang terbaik untuk semua readers setia. Semoga selalu diberi kesehatan dan rizki yang murah untuk readers setia, aamiin.
Salam hangat, salam damai, salam bahagia,
saya, otor gadungan, Anjana.
Jika berkenan untuk sambil menunggu kisah Ciko, bolehlah untuk mampir di karya baru saya yang berjudul PENUTUP NODA
__ADS_1
Terimakasih, dan maaf sebesar-besarnya.
Love you reader's setia