
Dua bulan pun telah berlalu, Gane masih berkecimpung dengan pekerjaannya bersama Ciko serta beberapa anak buahnya.
Tidak cuman menyibukkan diri dengan pekerjaannya saja, Gane terus memantau penyelidikan nya uang tengah dalam intaian nya saat ini.
Berbeda dengan Nanney, istrinya. Sehari-hari yang ia lewati tetap sama dengan sudah dilewatinya. Bahkan untuk Kampung saja harus digagalkan dikarenakan kesibukan suaminya yang mulai jarang pulang. Nanney semakin bosan dibuatnya, bak burung dalam sangkar emas.
Status memanglah suami-istri, tapi tak dirasakan oleh keduanya. Sikapnya pun sedikitpun tidak ada perubahan dari Gane, tetap sama seperti awal di kenal oleh istrinya.
Ingin memberontak dan berteriak sekencang mungkin, namun tak bisa untuk dilakukannya. Nanney tengah bersandar di sofa, tepatnya di ruang tamu tengah menemani suaminya yang sedang disibukkan dengan benda yang menjadi andalannya bak barang berharga.
"Ambilkan aku minum." Perintah Gane, Nanney segera beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk suaminya.
Setelah itu, Nanney hendak meletakkan segelas air putih di hadapan suaminya. Naas, setelah meletakkan gelasnya, kaki Nanney terkilir dan terjatuh tepat di pangkuan suaminya.
Dengan reflek, Nanney melingkarkan kedua tangannya pada tengkuk leher suaminya. Saat itu juga, keduanya pun saling pandang satu sama lain.
Napas hangat telah sirasakan oleh Nanney, dengan pelan Gane mendekatkan pandangannya tepat diwajah istrinya. Nanney mengerti apa yang akan dilakukan suaminya, ia dengan pelan memejamkan kedua matanya.
Gane yang mulai terbawa suasana, ia memulai menc*ium lembut bi*bir ranum milik istrinya. Semakin panjang waktunya, semakin rakus Gane terus melakukan aksinya.
Karena panas semakin membara, Gane tak mampu lagi untuk mengontrol otak dan naf*sunya yang ingin menuntutnya lebih.
Tanpa pikir panjang, Gane langsung menggendong istrinya dan membawanya sampai didalam kamar. Kemudian Gane langsung mengunci pintunya, takut jika sewaktu-waktu Ciko akan datang tanpa permisi seperti yang sudah-sudah. Namun untungnya, keduanya hanya saling ciuman.
Saat sudah menurunkan istrinya di atas tempat tidur, Gane kembali menc*ium bibir manis milik istrinya dan turun ke leher jenja*ngnya yang kini sudah menggodanya dan keduanya terus terhanyut dalam suasana malam yang dingin hingga sampailah ke puncaknya masing-masing.
__ADS_1
Saat melewati malam penuh ga*irah, tak sadarkan diri jika Nanney tengah tertidur lelap dan hanya seorang diri didalam kamar seperti malam-malam biasanya ketika suaminya harus beroperasi atas pekerjaannya itu.
Tidak ada cara lain selain meninggalkan istrinya di dalam rumah sendirian. Nanney yang tidak bisa menolak, dirinya hanya nurut pasrah pada suaminya.
Meski sering melakukan hubungan suami-istri, Gane tak pernah mengutarakan perasaannya. Gane tetap menjaga gengsi untuk pura-pura acuh tak acuh, tentunya demi menutupi balas dendam yang ingin membuat istrinya terluka, namun kenyataan nya ia tak mampu.
Setiap ingin melakukan rencananya, bayangan Clara yang dimaksudkan gadis kecil itu selalu muncul dalam bayangannya hingga Gane sendiri tidak mampu untuk melakukannya.
Beberapa kali ingin sekali membuat hancur istrinya, Gane kembali lemah. Bahkan dirinya lebih memilih untuk bersikap dingin dan tak pernah menunjukkan senyum ramah pada istrinya.
Begitu juga dengan Nanney, dirinya merasa tersiksa atas sikap suaminya yang seakan tak memiliki perasaan. Nanney merasa jika suaminya bak bunglon yang kapan saja dan dimana saja bisa berubah begitu saja.
Kesal bak pelayan, Nanney hanya bisa menyimpan kesedihan nya sendiri. Bahkan dirinya menganggap diri sendiri telah mati, baginya menganggap dirinya hidup pun percuma.
Rindu ingin pulang Kampung pun, tak pernah ia dapatkan waktu luang walaupun hanya sehari saja. Pasrah, menyerah, Nanney tidak lagi mampu untuk melawan.
Nasehat dari asisten rumah kala itu pun, sudah diabaikan nya. Nanney hanya percaya pada sebuah keadilan, suatu saat akan ia dapatkan.
Karena pekerjaan yang bisa dikerjakan dimalam hari, mau tidak mau Gane harus segera pergi dari rumah dan meninggalkan istrinya seorang diri.
Dengan terburu-buru, Gane segera pergi meninggalkan istrinya di rumah sendirian tanpa ada yang menemaninya. Sejak sembuh dari lukanya, Gane sering keluar dari rumah diwaktu tengah malam untuk beroperasi atas pekerjaannya itu bersama Ciko.
"Bos, yakin nih kalau kita akan beroperasi. Kala sampai kita ketangkap, bagaimana? aku masih ingin hidup seperti ini." Tanya Ciko yang kini mulai kembali khawatir ketika harus beroperasi tanpa jeda lebih dari satu minggu.
Gane yang mulai berambisi untuk mencapai tujuannya, ia tidak peduli dengan apa yang harus dihadapinya. Apapun itu resikonya, tak gentar bagi Gane untuk melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Berbeda dengan Ciko, justru dirinya mulai khawatir jika akan berakhir dibalik jeruji besi. Bagaimana tidak khawatir? dalam satu minggu, Gane dan Ciko terus beroperasi tanpa ada jeda setidaknya sepuluh hari, seperti itulah yang diinginkan oleh Ciko.
Tapi apa yang diinginkan oleh Gane justru menurutnya terlalu menggebu untuk menjadi sukses.
"Sudahlah Cik, kerjakan saja apa yang harus dikerjakan. Ingat Cik, ini kesempatan emas kita. Kapan lagi kita akan meraup untung gila-gilaan seperti ini." Kata Gane terlihat semakin bersemangat untuk melakukan pekerjaan nya yang terbilang sangat berbahaya dan taruhannya pun harus nyawa.
Namun mau bagaimana lagi, Gane tidak mempunyai pilihan lain selain menekuni nya hingga lupa siapa dirinya atas pesan dari kedua orang tuanya.
"Bos, kita pulang saja yuk Bos. Aku takut jika markas kita akan dilakukan pengepungan, kita bakal hidup di sel tahanan." Ucap Ciko mulai gelisah, sedangkan Gane justru tertawa lepas bak pertanda jika dirinya akan mendapatkan kesialan.
"Kamu itu udah kek paranormal saja, kebanyakan nonton film horor ini."
"Bos, tidak ada hubungannya nonton film horor. Nasib kita ini justru akan lebih horor lagi kalau polisi menangkap kita, Bos. Ingat Bos, kita ini ada yang ngejalanin. Pastinya, yang akan menjadi umpan adalah kita."
Seketika, Gane langsung menoleh pada Ciko.
"Kau bilang apa tadi?"
"Bukankah kita ini bagian cabang dari komplotan kita? kita saja tidak tahu siapa nama asli yang selalu membantu kita."
Saat itu juga, Gane baru menyadarinya jika dirinya berawal dari sebuah ajakan dari orang yang tidak ia kenali. Gane langsung mengusap kasar wajahnya, otaknya tiba-tiba tak mampu untuk berpikir.
"Apakah ketika kita tertangkap, kita akan mengetahui dalang dari segala dalang?" gumamnya penuh tanya.
"Ya, aku rasa begitu. Bukankah selama ini kita kesulitan untuk mencari keberadaan Pengacara Elyam? insiden kecelakaan? makanan yang mengandung obat perang*sang? dan aku merasa itu semua orang yang sama melakukan kejahatan itu." Jawab Ciko mencoba untuk mencernanya.
__ADS_1