
Masih dalam perjalanan, Nanney menyandarkan diri pada jendela kaca mobil sambil memejamkan kedua matanya setelah memberi alamat Kampung halamannya. Berharap, ketika ia terbangun dari tidurnya, sudah sampai didepan mata.
"Cik,serius nih jika kamu akan ikut mengantarkan istrinya Tuan Gane?" tanya Doin dengan lirih dan juga sambil menyetir mobilnya.
"Ya, aku harus mengetahui keadaan rumah yang akan ditempati istrinya Bos Gane. Karena Bos Gane tidak ingin istrinya mendapatkan pelayanan yang tidak baik, itu saja." Jawab Ciko sambil menatap lurus ke depan, Doin hanya mengangguk pelan ketika mendengar jawaban dari Ciko.
"Terus, dengan penyelidikan sekretaris Elyam, bagaimana? apakah kamu sudah menemukan titik terangnya?" tanya Doin untuk membahas beberapa kasus yang begitu sulit untuk dicari kebenarannya.
"Aku belum menemukan dalang dari masalah dari keluarga Huttama, begitu rapat menutupi segalanya. Bahkan untuk menuduh siapa dalangnya saja, aku begitu kesulitan." Jawab Ciko yang kini menoleh pada Doin.
"Aku rasa orangnya mempunyai topeng yang sangat tebal, aku yakin itu." Kata Doin menebaknya.
"Sepertinya, tetap saja kita harus detail saat melakukan penuduhan. Aku tidak ingin kita ktu salah sasaran dan ujungnya kita yang akan menjadi tersangka."
"Benar sekali, kita harus waspada." Ucap Doin masih dengan setir mobilnya.
Nanney yang merasa indra pendengarannya terganggu, pelan-pelan membuka kedua matanya.
"Kak Ciko, Kak Doin, kalian berdua ngomongin apaan? perasaan dari tadi ngobrol terus deh." Tanya Nanney.
Kemudian, ia menguap karena kedua matanya yang masih terasa ngantuk dan ingin kembali memejamkan matanya.
"Tidak ada apa-apa, Nona. Sebenarnya kita berdua ini hanya membicarakan sesuatu layaknya teman. Nona sendiri kenapa bangun? bukankah perjalanan kita ini masih sangat jauh? ayo tidur lagi, Nona."
"Yang dikatakan oleh Ciko itu memang benar, Nona. Perjalanan kita ini masih sangat jauh, lebih baik Nona kembali tidur saja. Sayang dengan kesehatan Nona, ditambah lagi Nona Nanney sedang hamil anaknya Tuan Gane. Jikalau terjadi sesuatu pada calon anak Tuan Gane, maka saya dan Ciko akan mendapatkan sialnya." Timpal Doin sambil merayu dan tidak menambah kecemasan yang pada dirinya.
Nanney sendiri hanya bisa nurut dan pasrah dengan apa yang diperintah dari anak buah suaminya sendiri.
__ADS_1
"Kak Ciko, aku lapar." Ucap Nanney secara tiba-tiba.
"Lapar, Nona serius?" tanya Ciko yang juga baru setengah perjalanan.
Waktu yang ditempuhnya saja masih belum waktunya makan siang, Ciko yang mendengarkan, langsung menoleh ke belakang.
"Ya Kak, aku lapar. Tau nih, bawaannya tuh pingin makan terus." Jawab Nanney sambil memohon.
Ciko yang merasa tidak tega, akhirnya meminta Doin untuk menepikan mobilnya ke warung makan.
"Doin, kita cari warung makan. Ingat, cari tempat yang nilai kebersihannya tinggi." Perintah Ciko.
"Baik, Cik." Jawabnya dan sambil celingukan mencari rumah makan yang dimaksudkan oleh Ciko.
Tidak lama maju beberapa menit, rupanya warung makan yang dicari telah ditemukan.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap Doin setelah mematikan mesin mobilnya.
Nanney tersenyum puas saat permintaannya terkabulkan.
'Masih juga jam sepuluh pagi, udah lapar aja. Apa ya, orang hamil itu mudah lapar? semoga aja tidak meminta yang ane-aneh. Kalaupun ya, aku harus cepat-cepat membebaskan Bos Gane. Bisa berabe kalau sampai menginginkan sesuatu yang sulit untuk dipenuhi.' Batin Ciko sambil melepaskan sabuk pengamanannya dan segera turun dari mobil bersamaan dengan Doin.
Nanney yang sudah tidak sabar untuk masuk ke warung makanan, ia langsung turun.
"Akhirnya aku bisa makan juga, Kak Ciko." Ucap Nanney yang sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam.
"Nona, mari kita masuk. Waktu kita tidak tidak banyak, karena perjalanan kita ini masih jauh."
__ADS_1
"Ya, Kak Ciko. Terimakasih banyak ya Kak, sudah sudi mau menuruti permintaan dariku."
"Tanggung jawab Nona ada pada saya dan juga Doin. Jadi, kita harus saling mengerti satu sama lain, Nona. Ada Bos Gane yang bisa murka."
"Ya Kak, aku mengerti." Jawab Nanney dan mengikuti Ciko dari belakang, sedangkan Doin berjalan dibelakang Nanney.
Sampainya didalam warung, Nanney mencium aroma masakan yang cukup menggoda seleranya. Biasanya orang hamil akan kerap dari mual saat mendapatkan aroma yang menyengat. Berbeda dengan Nanney, justru dirinya sangat tergoda dengan aroma masakan di warung yang didatangi nya.
"Nona, silakan duduk." Ucap Ciko sambil menarik kursi untuknya.
"Kak Ciko, aku bukan Tuan Ratu. Aku masih bisa untuk duduk sendiri, serta menarik kursi sendiri. Jadi, jangan berlebihan untuk melakukan sesuatu padaku. Aku sudah menganggap Kak Ciko dan Kak Doin itu Kakakku."
"Nona, lebih baik Nona diam saja. Silakan duduk, waktu kita tidak bisa lama-lama di warung ini, Nona." Kata Ciko yang mencoba untuk menjaga jarak antara dirinya dan Nanney.
"Ya ya ya, Kak Ciko." Jawab Nanney dan segera duduk.
"Kalau boleh tau, Nona mau pesan apa?" tanya Doin.
"Udang bakar sama bebek bakar, minumnya teh tawar aja." Jawabnya.
Tiba-tiba ia teringat dengan suaminya yang entah sedang apa, Nanney benar-benar merasa bersedih saat dirinya menikmati makanan enak tidak ada sosok suaminya yang menemani makan.
Ciko yang sedari tadi memperhatikan Nanney pun, ada rasa penasaran dengannya.
'Kasihan sekali Nona Nanney, hamil tanpa ada suami di sampingnya. Meski dengan watak yang keras, Bos Gane masih ada hati. Apalagi ada calon anak dalam perut istrinya, pasti kebenciannya akan hilang dengan sendirinya."
Batin Ciko sambil memperhatikan istri Bosnya yang tengah duduk melamun sambil menunggu pesanan datang dari Doin.
__ADS_1