
Hening, tidak ada sahutan apa pun dari dalam kamar. Nanney kembali mencoba untuk mengetuk pintunya kembali, berharap ada reaksi dalam kamar.
Pintu pun terbuka dari dalam, detak jantung Nanney berubah berdegup sangat kencang. Gane yang sudah ada di hadapannya pun, Nanney setengah menundukkan pandangannya.
"Masuk!" perintah Gane dengan nada setengah membentak.
Dengan gemetaran, Nanney masuk ke kamar sambil membawa sebuah nampan berisi makanan untuk Gane.
Saat itu juga, Gane segera menutup pintunya dan tidak lupa menguncinya. Nanney semakin takut dibuatnya. Dengan sekujur tubuhnya yang gemetaran, ia meletakkan nampan diatas meja.
'Apakah aku akan disiksa? tidak, aku harus berjaga jaga.' Batin Nanney dengan perasaan yang sangat takut, bahkan untuk menatapnya saja tidak berani.
Gane yang memperlihatkan Nanney terlihat ketakutan, ia tersenyum menyeringai. Seakan akan Gane telah menemukan mainan yang sangat unik, pikirnya.
Nanney yang tidak ingin berlama-lama di dalam kamar kakak iparnya, ia mencoba untuk memberanikan diri untuk bisa keluar dari kamar yang menurutnya sangat menakutkan.
Sambil menunduk, Nanney berjalan menuju pintu. Naas, langkah kakinya dihadang oleh Gane.
"Kau mau kemana? ha." Dengan senyum yang sinis, Gane mencegah Nanney untuk keluar dari kamarnya.
"Aku mau keluar, Kak." Jawab Nanney yang sedikitpun tidak berani untuk menatap wajah kakak iparnya.
"Duduk dan temani aku makan," perintah Gane sambil menunjuk pada sofa. Nanney mendongakkan pandangannya tepat pada Gane.
"Tapi Kak,"
"Tidak ada penolakan apapun dengan segala perintahku, lakukan apa yang aku perintahkan." Ucap Gane yang tidak menyukai penolakan apapun.
"Untuk apa, Kak?" lagi lagi Nanney kembali bertanya karena rasa penasaran.
Gane yang mulai kesal yang sedari tadi mendapatkan pertanyaan dari Nanney. Langkah demi langkah, Gane berjalan mendekati adik iparnya.
__ADS_1
Nanney semakin ketakutan saat kakak iparnya berjalan mendekatinya. Dengan perasaan takut, pelan pelan Nanney mundur ke belakang hingga berhenti pada dinding kamar.
Detak jantung yang awalnya berdegup dengan tenang, kini mendadak seperti dikejar kejar binatang buas. Bahkan Nanney kembali menundukkan pandangannya, pelan pelan Nanney memejamkan kedua matanya yang berharap apa yang ia hadapi hanyalah sebuah mimpi buruk.
Berteriak pun tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi, lebih lebih yang dihadapinya itu kakak iparnya sendiri.
Jarak pada keduanya sudah semakin dekat, tangan kiri milik Gane sudah berada pada dinding, tepatnya untuk berjaga jaga jika Nanney akan memberontak dan berusaha untuk kabur.
Dengan seringainya yang terlihat sinis, tangan kanan milik Gane kini meraih dagu adik iparnya. Kemudian ia mengangkatnya dan keduanya saling menatap satu sama lain.
Nanney yang merasakan napas hangat milik kakak iparnya hanya bisa menelan salivanya, benar benar membuatnya ketakutan.
"Siapkan diri kamu dengan baik, mulai hari ini aku akan mengawali penyiksaan kepadamu." Ucap Gane dengan tatapan yang penuh kebencian dan amarah, tentunya.
Nanney yang kembali mendengar kalimat ancaman, sebisa mungkin untuk menenangkan pikirannya sendiri. Meski kenyataannya sangat ketakutan walau hanya sekedar mendengar sebuah ancaman, tetap saja penuh dengan kekhawatiran pada keselamatan diri sendiri.
"Duduk dan temani aku makan, jangan sekali kali kau menolak perintahku, paham." Ucap Gane masih memegangi dagu milik adik iparnya.
"Mau apa lagi? apa kau itu tuli? mendengar perintahku saja, kau tidak mendengarkannya. Cepat kau duduk sekarang juga, jangan membuang-buang waktuku."
Nanney yang tidak ingin masalahnya bertambah besar, ia segera menuju sofa dan duduk dengan tenang. Gane yang sudah menyiapkan rencananya, ia segera duduk disebelah Nanney.
"Kau tidak perlu takut denganku, karena aku tidak berselera denganmu. Perempuan macam sepertimu itu terlalu rendah dan tidak guna untukku, ngerti." Ucap Gane dengan segala hinaan untuk Nanney.
Tidak ingin berucap, Nanney memilih untuk diam. Cukup menganggukkan kepalanya saja itupun sudah lebih dari cukup, pikir Nanney.
"Ambilkan makanannya, jangan terlalu banyak." Perintah Gane sambil menunjukkan pada makanan yang berada di atas nampan.
Dengan hati hati, Nanney mengambilkannya sesuai dengan apa yang diminta kakak iparnya.
"Ini Kak, silahkan." Ucap Nanney dengan sangat hati-hati, takut jika yang dilakukannya itu salah.
__ADS_1
"Berikan minumannya padaku, cepat." Perintah Gane dengan suara yang cukup meninggi.
"Ya, Kak." Jawab Nanney dengan singkat.
"A!" pekik Nanney yang tiba-tiba mendapatkan semburan dari Gane tepat pada wajahnya, dan saat itu juga Gane menumpahkan minumannya pada pakaian yang dikenakan oleh adik iparnya.
Ingin marah, itu tidak mungkin. Meski sebenarnya ingin berteriak dan memarahinya, Nanney hanya bisa menahan kekesalannya atas perbuatan dari kakak iparnya.
"Maaf, sepertinya aku sengaja." Ucap Gane dengan entengnya, Nanney hanya menatapnya dengan penuh kesal.
"Jangan keluar dulu sebelum aku menyelesaikan makan malam ku, ok." Ucap Gane tanpa merasa berdosa sedikitpun pada Nanney, bahkan dengan santainya ia mengunyah makanan yang ia suapi sendiri.
Nanney yang terasa gondok, dirinya hanya bisa menyaksikan lelaki kejam bak manusia yang tengah kerasukan. Napas yang mulai terasa panas, Nanney berusaha untuk mengontrol emosinya.
'Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan pernah melakukan semua ini. Andai saja jika aku harus memilih antara hidup dan mati, maka aku akan lebih memilih untuk mati. Mungkin itulah pilihan yang tepat untukku. Namun naas, aku harus terpisah saat terjun ke laut.' Batin Nanney dengan rasa sedihnya saat harus mengingat musibah yang tengah menimpa dirinya.
Gane masih mengunyah makanannya, sedikitpun ia tidak menoleh pada Nanney.
"Aku sudah kenyang, habiskan makanannya sekarang juga." Ucap Gane dan memberi perintah pada Nanney untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapannya itu.
Nanney membulatkan kedua bola matanya saat Gane menyuruhnya untuk menghabiskan makanan tersebut.
"Kak, apa aku tidak salah dengar?" tanya Nanney untuk memastikan.
"Jangan banyak bertanya, semakin banyak bertanya, maka hukuman untukmu akan bertambah. Cepat kau habiskan makanannya, setelah itu baru kamu boleh keluar dari kamarku." Kata Gane yang tidak lupa dengan segala idenya untuk membalaskan dendam atas musibah yang sudah mencelakai adik laki-lakinya.
Nanney yang sama sekali tidak mempunyai cara lain untuk menghindari kakak iparnya, dirinya hanya bisa pasrah dan tidak mampu untuk merubahnya. Karena keterpaksaan, Nanney akhirnya menuruti aoa yang diperintahkan oleh Gane.
Mau tidak mau, akhirnya Nanney menghabiskan makanan tersebut dengan kondisi yang sudah kenyang. Saat menyuapi diri sendiri, perut Nanney mulai terasa mual saat melihat sisa makanan yang sudah dipilih-pilih oleh kakak iparnya. Rupa pada makanan tersebut, terlihat jelas sisa yang tidak layak untuk dimakan.
Namun mau bagaimana lagi, hanya bisa menerima kenyataan pahit yang harus diterima dengan hati yang lapang.
__ADS_1