Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Banyak pertanyaan


__ADS_3

Nanney yang masih duduk dibelakang rumah, segera ia masuk ke kamar. Sialnya, saat hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba tertahan oleh sosok Danu yang menjadi suami adiknya.


"Minggir, aku mau masuk ke kamar." Ucap Nanney sedikit ada rasa takut.


Orang yang ia rindukan, kini berubah menjadi yang ia takuti. Sedangkan orang yang ditakuti bahkan orang yang sangat dibenci, justru Nanney sangat mengharapkan kehadirannya.


"Tolong jelaskan padaku, ada hubungan apa diantara kita berdua. Kenapa bisa ada fotoku bersamamu dalam ikatan pernikahan? ayo jawab dengan jujur sebelum aku berterus terang pada Nenek Aruma dan Henny adik mu."


"Tidak ada hubungan apa-apa diantara kita, aku serius. Mungkin saja kebetulan hanya mirip, antara wajah kamu dengan suamiku." Jawab Nanney dengan gemetaran.


Tidak mungkin juga, jika dirinya harus berkata jujur tentang kebenarannya, pikir Nanney masih dengan ketakutan saat hanya berdua di dalam rumah.


"Aku tidak percaya denganmu, apalagi suami kamu tidak ikut pulang bersamamu. Berarti benar, kalau kamu adalah istriku. Apa jangan-jangan adikmu menyukaiku tapi tak terbalaskan cintanya karena aku menikahi mu."


"Tidak juga, jarak kehamilan ku dan hadirnya dirimu di rumah ini jaraknya sangat jauh. Jadi, kamu jangan mengada-ngada. Kita bukan suami-istri." Kata Nanney berusaha untuk menjelaskan.


"Berikan ponselnya padaku, apa aku berbuat nekad padamu."


Karena merasa kurang puas dengan jawaban dari Nanney, sosok Danu langsung memberi ancaman agar apa yang menjadi tujuannya bisa mengetahui kebenarannya. Nanney yang serba bingung, dirinya hanya bisa pasrah.


"Baiklah, aku akan mengambilkan ponselku dan memberikannya padamu."


Dengan perasaan takut dan juga bingung karena tak ada cara lain selain pasrah dengan kondisinya yang sedang hamil, mau tidak mau akhirnya menyerahkan ponselnya pada sosok Danu.


'Aku harus menghapus semua fotoku bersamanya, sebelum masalah ini bertambah runyam.' Batin Nanney sambil mencari cara untuk dapat menghindarinya.


Tanpa Nanney sadari, sosok Danu begitu nekat untuk masuk ke kamar Nanney dan kini sudah berdiri dibelakangnya.


Dengan cepat kilat, ponselnya pun berhasil dirampas oleh seseorang yang diduga adalah suaminya dahulu.


"Berikan ponselnya, aku mohon." Ucap Nanney sambil mengatupkan kedua tangannya penuh harap.


"Cepat katakan sejujurnya padaku sekarang juga, sebelum aku semakin emosi denganmu." Ancamnya dengan sengaja, agar perempuan yang diduga istrinya itu akan segera mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya.

__ADS_1


"Aku harus mengatakan apa padamu, kamu itu bukan suamiku. Suamiku yang sebenarnya adalah, ayah dari calon anakku ini. Jadi, aku mohon sama kamu untuk tidak memaksaku agar menjelaskan sesuai yang kamu mau. Karena kenyataannya, kamu bukanlah suamiku." Jawab Nanney dan langsung menangis sesenggukan.


"Aku tetap tidak percaya dengan jawaban mu itu, aku tahu kamu membohongiku. Meski aku lupa ingatan, tatapan mu tidak bisa membohongiku. Asal kamu tahu, sampai detik ini saja, aku tidak pernah menyentuh adikmu sebelum ingatan ku kembali."


Ucapan yang begitu menyayat hatinya, Nanney semakin bersedih mendengarkan nya. Entah apa yang harus ia ucapkan pada lelaki yang ada dihadapannya itu.


Nanney terus menangis, antara dilema dan ingin berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan segala emosinya.


'Apa yang harus aku katakan padanya, aku benar-benar tidak mempunyai cara apapun. Semakin dirinya memaksaku, semakin rapuh dan tak kuasa aku untuk melihatnya.' Batin Nanney sambil menangis sesenggukan.


"Berarti benar, kamu adalah istriku. Saat aku melihat foto pernikahan itu, sepertinya bukan pernikahan di Kampung ini."


Nanney masih diam, sebisa mungkin untuk menormalkan pikirannya. Takut, apa yang tidak seharusnya diucapkan akan dilontarkan begitu mudahnya. Sebisa mungkin Nanney berusaha untuk tetap tenang.


"Keluar dari kamarku, jangan ganggu kesehatan ku." Usir Nanney sambil menunjuk pada pintu kamar.


"Aku hanya ingin mendapatkan jawaban darimu, tidak lebih."


"Bagaimana aku mau menghormati istriku? aku sendiri tidak mencintainya. Karena aku yakin jika aku mempunyai kehidupan sendiri."


Sosok Danu terus mendesaknya.


"Apa susahnya untuk menjawab pertanyaan dariku, sampai-sampai kamu terus mengelak nya."


"Sudah aku katakan padamu, aku bukan istrimu." Ucap Nanney dengan suara yang cukup keras.


"Aku tidak percaya denganmu, tunjukan foto suami kamu padaku. Maka, aku akan mempercayai mu. Tapi, jika kamu tidak bisa menunjukkannya padaku, aku dapat memastikan bahwa kita suami-istri."


Nanney yang mendapat tantangan dari sosok Danu, ia kebingungan. Pasalnya, dirinya tak mempunyai foto pernikahan bersama Gane suaminya. Lantaran, pernikahan tak ada kata cinta dan hanya ajang balas dendam. Meski sudah sah menurut agama dan hukum, Nanney tak ada foto apapun atas pernikahannya yang kedua.


"Kenapa masih diam? jadi, benar kan, kamu tidak mempunyai bukti apapun dengan suami yang kamu maksudkan. Baiklah, sekarang juga kamu lakukan panggilan video dengan suami kamu untuk dijadikan bukti."


Nanney yang sudah mentok untuk mencari ide, akhirnya melakukan panggilan video pada Ciko. Danu langsung memberikan ponselnya pada Nanney untuk menghubungi suaminya itu.

__ADS_1


Berulang kali Nanney mencoba menghubungi Ciko, tetap saja tidak mendapatkan respon darinya. Bahkan, Nanney sendiri merasa pegal ketika melakukan panggilan yang tak kunjung mendapatkan respon dari seorang Ciko.


"Mana buktinya? sudahlah, aku bisa mengatasinya sendiri.


"Aku ada buktinya, foto pernikahan ku bersama suami ada di ponsel suamiku."


"Jangan paksa aku untuk mempercayainya, karena aku bukan type nya orang yang mudah untuk percaya, paham."


"Kamu pasti akan percaya ketika ingatan kamu sudah pulih dengan sempurna." Ucap Nanney kini yang mulai tegas.


"Oh ya, aku tidak percaya sama sekali."


"Keluarlah dari kamarku, karena aku ingin istirahat dengan cukup." Usir Nanney yang sudah merasa bosan untuk berdebat.


Dengan perasaan dongkol karena tidak mendapatkan jawaban dari Nanney, akhirnya lebih memilih untuk kembali ke kamarnya. Dirinya pun sadar karena kehamilannya yang harus dijaga kesehatannya dan juga tidak boleh untuk setres karena memikirkan yang tak seharusnya menjadi beban pikiran.


Nanney yang merasa lega, ingin rasanya segera pergi meninggalkan rumah Nenek Aruma. Takut, masalah akan semakin besar.


"Aku harus bagaimana ini? apa lebih baik aku kembali ke Kota?" gumamnya dengan frustrasi.


Nanney yang takut dengan kondisi janinnya, pelan-pelan ia menarik napasnya dan membuangnya dengan pelan juga. Berharap, pikirannya sedikit tenang dan tidak mudah untuk terpancing emosinya. Kemudian, Nanney mengambil air minum. Berharap, semua masalah akan dapat diselesaikan dengan baik, pikirnya.


Sedangkan di kamar sebelah, sosok Danu dengan susah payah berusaha untuk mengingat kembali masa lalunya. Tetap saja hasilnya nihil, tak ditemukannya titik terang mengenai ingatannya itu.


Berbeda dengan keberadaan Gane yang tengah duduk bersandar hanya menunggu pagi ketemu malam dan siang, seperti itulah hari-hari Gane di dalam lapas bersama teman-teman yang lainnya.


Masih ditempat Nenek Aruma.


Tidak lama kemudian, Henny bersama Nenek Aruma telah pulang berbelanja.


"Tumben, Mas Danu kemana ya Nek? biasanya kalau pulang, segera keluar dan membantu kita. Tapi, kok sepi." Gumam Henny sambil mengangkat barang-barang belanjaannya sendirian.


"Mungkin tidur." Sahut Nenek Aruma, Henny hanya tersenyum dan segera memasukkan barang-barang belanjaannya.

__ADS_1


__ADS_2