
Ciko yang merasa penasaran dengan isi didalam kotak tersebut, dengan yakin membukanya. Ciko berharap, didalamnya masih ada sebuah gelang sesuai yang dikatakan oleh istri Bosnya.
"Cik, buruan cepat buka." Perintah Doin yang sudah tidak sabar ingin mengetahui isi didalamnya.
"Sabar, aku sedang memantapkan diri. Yang aku takutkan, didalamnya tidak ada isinya sama sekali." Jawab Ciko dengan ragu, tentu saja ada rasa takut.
"Sini, biar aku aja yang buka. Lagian kamu ini, tinggal buka aja susah amat." Kata Doin dan berusaha mengambil kotak tersebut ditangan Ciko.
"Jangan, biar aku saja yang akan membukanya." Jawab Ciko sambil menahan kotak tersebut.
Doin mengalah. Kemudian, ia menunggu Ciko untuk membukanya.
Pelan pelan untuk membuka sebuah kotak, entah kenapa Ciko merasa begitu penasaran dan ingin mengetahui isinya.
Ciko memejamkan kedua matanya saat kotak tersebut sudah terbuka. Sedangkan Doin sudah melihatnya lebih dulu.
Karena takut tak ada isinya, Ciko memejamkan matanya dan membukanya dengan pelan hingga sempurna penglihatannya.
Sungguh benar-benar sangat terkejut melihatnya. Kedua bola membulat dengan sempurna. Bagai mimpi di siang bolong saat melihatnya, sungguh diluar dugaan.
Tangan yang awalnya kuat, kini berubah menjadi gemetaran. Ingin berteriak, itu sangat memalukan. Ciko mengambil barang tersebut dari dalam kotak dan memeriksanya. Takut, apa yang disangkakannya itu jauh berbeda dengan apa yang dilihat dan ia ketahui.
"Gara." Gumamnya, tetap masih dapat didengar oleh Doin.
"Apa Bos, Gara?"
Ciko mengangguk pelan, napasnya memburu hebat saat nama itu ia sebutkan. Karena rasa penasaran yang begitu ingin mengetahui segalanya. Tanpa membereskan isi laci yang sudah dikeluarkan, Ciko langsung menarik paksa tangan Doin.
"Cik, kita mau kemana?"
"Jangan banyak bicara, ikutin saja sku." Jawabnya dan menarik paksa Doin dan mengajaknya untuk segera masuk ke mobil.
Tanpa peduli dengan arus jalanan yang begitu banyak dipadati oleh kendaraan, Ciko terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Doin ketakutan saat berada didalam mobil bersama Ciko yang mengendarai mobil seperti orang mabok.
"Cik! kamu jangan gila, turunkan gasnya. Bisa-bisa kita mati sia-sia, kita belum menikah dan juga belum menikmati surga dunia."
"Surga dunia kau bilang, ini jauh lebih penting dari segala surga dunia yang kau maksudkan." Sahut Ciko yang terus menambahkan kecepatannya.
__ADS_1
Doin semakin ketakutan saat Ciko mengendarai mobil tanpa melihat kondisi jalanan yang begitu dipadati oleh kendaraan yang lalu lalang.
Saat itu juga, Ciko segera turun dari mobil setelah sampai di depan lapas. Doin sendiri begitu sulit untuk mengejar langkah kaki Ciko bak kilat yang mau menyambar.
"Cik, ini sudah sore. Kita tidak akan mendapatkan izin untuk menemui Tuan Gane."
"Diam! urusan ini jauh lebih berharga dari nyawaku." Sahut Ciko sambil berjalan cepat.
"Pak, saya ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Gane Huttama." Ucap Ciko yang sudah tidak sabar ingin bertemu.
"Jam besuk sudah habis, besok lagi Anda bisa datang kemari. Sekarang juga, silakan untuk meninggalkan tempat ini." Jawabnya dengan menolak permintaan dari Ciko.
"Pak, saya mohon. Izinkan saya untuk bertemu walaupun hanya beberapa menit saja. Tolong, izinkan saya. Jaminannya, teman saya akan menunggunya disini." Ucap Ciko yang terus memohon untuk mendapatkan izin.
"Tidak bisa, peraturan tetaplah peraturan. Silakan untuk datang kembali besok, silakan pergi meninggalkan tempat ini." Jawabnya yang tetap bersikukuh menolak permintaan dari Ciko yang terus-menerus untuk memohon.
"Pak, besok saya tidak mempunyai waktu lagi. Saya harus kembali ke Kampung, ayolah Pak."
Karena terus-menerus memohon, akhirnya permintaan Ciko di penuhi.
"Baiklah, mari ikut saya. Ingat, hanya sebentar dan seorang diri."
"Doin, kamu tunggu saja disini." Perintah Ciko. pada temannya.
Rasa yang sudah tidak sabar untuk bertanya, Ciko terus berjalan menuju ruang tahanan Gane.
Sambil berdiri mondar-mandir, Ciko terus memikirkannya.
"Ada apa sore-sore kamu datang kemari, Cik? apakah ada kabar penting? bagaimana kabar istriku?" tanya Gane memberi banyak pertanyaan untuk Ciko.
"Lupakan pembahasan itu, ini ada masalah yang jauh lebih penting lagi dari segala-galanya. Dimana kamu simpan gelangmu itu? beritahu padaku."
"Gelang apa yang kamu maksudkan, Cik? aku masih tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." Tanya Gane yang belum juga mengerti.
"Gelang kepunyaan kamu yang sama dengan kepunyaan Clara, adikku." Jawab Ciko langsung pada intinya.
"Aku menyimpannya di tempat rahasiaku, kenapa dengan gelang itu? apakah kotak rahasiaku dibobol polisi?"
"Tidak, kotak rahasia kamu masih aman. Kamu yakin jika gelang milikmu masih utuh? maksud aku belum hilang."
__ADS_1
"Masih, aku menyimpannya dengan sangat rapi. Tidak ada yang tahu kecuali aku, kamu, dan Regar mengenai gelang ku." Jawab Gane.
"Apakah kamu mengizinkan aku untuk melihatnya lagi?"
"Untuk apa? kenapa kamu membahas gelang ku itu?"
"Aku menemukan ini, kotak ini berada didalam laci kamarmu." Jawab Ciko yang akhirnya berterus terang. Ciko langsung menunjukkan kotaknya.
"Apa ini?"
"Buka saja, karena kamu yang lebih paham kepunyaan laki-laki dan perempuan. Bukalah, katakan jika itu bukan milikmu."
"Kamu jangan menakuti ku, Cik."
"Aku sedang tidak menakuti mu, Bos. Buka saja kotaknya."
Gane yang juga penasaran dengan isinya, segera ia membuka isi dari dalam kotak.
Betapa terkejutnya saat melihat isinya, kedua matanya membulat dengan sempurna. Sungguh diluar dugaannya, Gane serasa mimpi melihatnya.
"Gelang ini ...." Sambil memegangi gelang tersebut, Gane mencoba untuk mengatur pernapasan nya agar tidak begitu sesak.
Rasa ingin menangis seakan tak ada gunanya lagi. Bahagia apa lagi, tak mampu untuk ia terima.
Gane langsung menatap Ciko yang masih terdiam di hadapannya.
"Katakan padaku sekarang juga, kamu menemukan gelang ini dimana? ayo katakan."
"Itu milik istrimu, Nona Nanney."
Bagai tersambar petir saat mendengar jawaban dari Ciko, bahkan bibirnya tak mampu untuk berucap lagi. Kotak serta gelang, ikut jatuh bersama terkejutnya Gane saat mendengar jawaban dari Ciko.
"Kamu jangan mengada-ngada Cik, kamu pasti membohongi aku."
"Aku serius, aku tidak bohong." Jawab Ciko dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai, yang mana kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang berat badannya.
Ciko menangis sesenggukan, layaknya orang bingung. Napasnya saja terasa sesak, tubuh yang gemetaran. Begitu juga dengan Gane, tak kalah bingungnya apa yang harus ia ucapkan. Tubuhnya ikut terjatuh hingga lututnya menghantam ke lantai. Tidak hanya itu saja, kedua tangannya ikut mengepal pada lantai dan menekannya dengan sangat kuat. Sakit, lebih sakit lagi dengan kebenaran yang ia terima.
"Aaaaaaaaaaaaaa!" teriak Gane begitu kencang suaranya hingga membuat yang lainnya dibuat kaget mendengarnya.
__ADS_1
Gane ikut menangis, air matanya terus berjatuhan ke lantai. Entah sebuah penyesalan atau yang lainnya, Gane benar-benar tidak mampu untuk menggambarkan perasaannya.