Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mengajaknya pergi


__ADS_3

Nanney yang masih teringat pada pertemuan dengan kakak seniornya yang bernama Langga, alih-alih ia masuk ke kamar mandi. Setidaknya ia bisa menghindari sampainya sang suami lupa dengan pertemuannya dengan Langga.


Karena takut keburu dipergoki oleh sang suami, cepat-cepat ia segera masuk ke kamar mandi.


"Akhirnya aku bisa menghindar dari ABG tua itu." Ucapnya lirih meresa lega dan tidak lupa untuk membuang napasnya dengan kasar, setelah itu mengusap dadanya berulang ulang.


Gane yang sehabis meletakkan tas bawaannya, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sambil berbaring, Gane menatap langit-langit kamar tersebut.


"Ah ya, aku sampai lupa. Aku belum menghubungi Ciko, telpon sebentar aja dulu." Gumam Gane, kemudian ia mengambil ponselnya yang ada didalam tasnya.


Sambil menghubungi nomor Ciko, Gane duduk bersandar di atas tempat tidur. Cukup lama Gane menunggu jawaban darinya, Gane mulai merasa tidak tenang.


Karena tidak juga mendapatkan jawaban dari Ciko, akhirnya Gane memilih untuk mengirimkan pesan singkat pada Langga untuk menanyakan tentang insiden kecelakaan pada dirinya dimasa lalu.


Satu menit, lima menit, sepuluh menit, Gane belum juga mendapatkan balasan dari Langga. Gane semakin geram dibuatnya, ingin rasanya membanting ponselnya disaat itu juga.


Bukannya mendapatkan pesan dari Langga, justru dirinya dihubungi olehnya. Senyum merekah tengah menghiasi kedua sudut bibirnya.


Tidak pakai lama, Gane langsung menerima panggilan dari teman di masa lalu.


"Ngga, buruan kamu ceritakan semuanya padaku." Pinta Gane yang tidak mau membuang buang waktu berharganya.


"Apa! pertemuan? jangan gila kamu, Langga. Apa susahnya coba, tinggal cerita aja kenapa mesti harus melakukan pertemuan." Kata Gane yang benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadi pendengar.


Langga yang tetap bersikukuh untuk mengajaknya ketemuan, mau tidak mau Gane menerima ajakan dari temannya itu. Setelah menyetujuinya, Gane langsung mematikan panggilan telponnya.


Selain itu, Gane kembali teringat dengan Ciko yang sudah berkali-kali dihubungi tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Kemana lagi itu anak, dan kenapa juga tidak mau mengangkat panggilan dariku. Apa yang sebenarnya terjadi, benar benar meresahkan." Gerutu Gane saat panggilan telpon darinya tidak mendapat respon dari Ciko, seseorang yang sudah menjadi kepercayaannya sejak kecil.


Karena tidak ada hasil apapun saat menghubungi Ciko dan Langga, akhirnya Gane meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Kemana perginya bocah tengil itu, awas aja kalau berani kabur dariku." Gumamnya saat tidak menemukan keberadaan istrinya.


Saat itu juga, pandangannya tertuju pada kursi kecil yang letaknya di dekat pintu kamar mandi terdapat tas kecil kepunyaan istrinya.


Ide pun langsung muncul begitu saja di kepalanya, Gane langsung menuju kamar mandi.

__ADS_1


BRAK BRAK BRAK


Dengan sengaja, Gane menggedor gedor pintu kamar mandi cukup berisik untuk didengarkan nya.


"Buruan gantian, cepetan keluar." Ucap Gane setelah menggedor pintunya.Tetap saja, Nanney tidak peduli apa kata suaminya.


BRAK BRAK BRAK


Lagi-lagi Gane mengulanginya lagi untuk menggedor gedor pintunya.


"Kalau kamu tidak mau membuka pintunya juga, jangan salahkan aku jika aku dobrak pintunya." Ancam Gane.


"Satu! dua! ti----"


Pintu pun langsung terbuka oleh Nanney. Tentu saja, keduanya saling menatap tanpa berkedip sekalipun.


"Kamu itu tidur atau buang angin, ha."


"Buang angin." Jawab Nanney dan tersenyum pasta gigi.


"Tidak ada yang lucu, minggir." Kata Gane dan menarik istrinya, kemudian ia langsung masuk ke kamar mandi begitu saja. Tidak hanya itu saja, Gane langsung mengunci pintunya.


Alih-alih Nanney mengamati setiap sudut ruangan tersebut, tidak lupa juga untuk memikirkan dimana dirinya akan tidur di malam hari nantinya. Serasa bosan berada didalam kamar, perutnya pun ikut berdendang karena rasa lapar yang sudah mengundang.


Gane yang sudah mencuci mukanya, ia segera keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang istri yang tengah berbaring diatas tempat tidur dengan pose yang membuatnya travelling kemana mana.


Untuk menepis pikiran kotornya, Gane langsung membuang napasnya dengan kasar. Kemudian ia langsung menuju tempat tidur, yang mana dirinya ikutan berbaring di dekat istrinya. Tentu saja membuat Nanney terkejut saat suaminya sudah berbaring di dekatnya.


"Kak Gane." Panggil Nanney tanpa menoleh pada suaminya, pandangannya lurus ke langit-langit kamar tersebut.


"Hem, kenapa?" tanya Gane yang juga tidak menoleh pada istrinya.


"Perutku keroncongan, aku lapar." Jawab Nanney dengan berani.


"Bersiap siaplah, aku akan mengajakmu keluar untuk mencari makanan." Kata Gane, saat itu juga Nanney langsung menoleh pada suaminya.


"Serius?" tanya Nanney memastikan, Gane langsung menoleh padanya.

__ADS_1


"Ya," jawabnya singkat sambil memajukan jaraknya.


"Aku sudah siap dari tadi, ayo kita berangkat." Jawab Nanney bersemangat dan mengajak suaminya untuk segera keluar dari kamar.


Bagi Nanney tidak ada untungnya untuk bersikap dingin dan menunjukkan kekesalannya di depan sang suami. Nanney sendiri tidak begitu peduli jika suaminya masih ingin membalaskan dendamnya.


Gane males banyak bicara, ia langsung menyambar dompet dan ponselnya. Setelah itu segera keluar dari kamar dan diikuti istrinya dari belakang.


"Kak," lagi lagi Nanney kembali memanggil suaminya.


"Hem, ada apa?"


"Tidak jadi, lain kali aja." Jawab Nanney yang mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Hem, kurang kerjaan." Kata Gane dan langsung menggandeng tangan istrinya. Nanney sendiri merasa bingung dengan sikap suaminya itu, kadang baik, kadang juga bikin naik darah, pikirnya.


"Jangan kepedean, aku hanya tidak ingin kamu kabur dariku." Kata Gane di sela-sela dirinya berjalan sambil menggandeng tangan istrinya.


Saat sudah berada di depan Villa, datanglah mobil dihadapannya. Seorang sopir telah membukakan pintu mobil, kemudian keduanya masuk secara bergantian.


Nanney yang tidak tahu harus berkata apa, ia memilih kembali bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun. Sedangkan Gane tengah disibukkan dengan ponselnya.


Sesekali ia memeriksa benda pipih nya, dan berharap ada pesan yang masuk ke nomor ponselnya. Benar saja, ada pesan masuk dari seseorang yang sedari tadi sudah ditunggu kabarnya. Setelah membaca pesan yang masuk, Gane memasukkan kembali ponselnya di balik jaketnya.


"Pak, kita pergi ke Restoran yang tidak jauh dari Villa." Pinta Gane.


"Baik, Tuan." Jawabnya sambil menatap lurus ke depan, tentu saja fokus dengan setir nya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya sampai juga di Restoran yang tidak jauh dari Villa.


"Bos, kita sudah sampai." Ucap Pak Sopir.


"Sudah sampai?" gumam Nanney sambil memperhatikan di sekitaran mobil.


"Ya, kita sudah sampai. Ayo kita turun, waktu kita tidak lama." Sahut Gane sambil melepas sabuk pengamannya dan segera turun.


Naas, Nanney kesulitan untuk melepaskannya sendiri. Gane yang melihatnya pun, ia langsung membantu istrinya untuk melepaskan sabuk pengaman.

__ADS_1


Sambil membusungkan badannya, Gane terus berusaha untuk melepaskannya.


__ADS_2