Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa lega


__ADS_3

Selesai mengisi perutnya yang kosong, Gane dan kedua anak buahnya kembali melanjutkan perjalanan yang jaraknya tidak jauh dari rumah Nenek Aruma.


Karena tak ingin merepotkan pemilik rumah, Gane meminta untuk istirahat sejenak untuk mengisi perutnya yang kosong.


Sedangkan di tempat lain, Nanney dan Nenek Aruma maupun sosok Danu sudah sampai di depan rumah.


Henny yang berada di dalam rumah, dirinya masih ditemani oleh salah satu tetangga agar tidak sendirian dan tidak bertindak yang ditakutkan oleh Nenek Aruma.


"Lepaskan tanganmu, kita sudah sampai rumah. Ingat pesanku, jangan membuat gadih di rumah Nenek. Kita akan menjelaskannya pada Henny, tapi tetap kita harus jaga jarak." Ucap Nanney yang tidak ingin menyakiti Henny, yakni adik perempuannya.


Meski berawal sama-sama anak asuh Nenek Aruma, keduanya tetap rukun dan saling menyayangi. Nanney dan Henny sudah seperti saudara kandungnya sendiri.


"Tapi, aku ini suami kamu." Jawabnya yang tetap pada keteguhan nya.


"Henny juga istri kamu." Ucap Nanney kembali mengingatkan.


"Istri hanya dalam status, bukan saling cinta." Jawabnya yang tetap pada pendiriannya.


"Tapi, Henny mencintaimu."


"Sedangkan aku hanya mencintaimu dan selamanya hanyalah kamu yang akan ada didalam hidupku, bukan adikmu."


"Kamu egois." Ucap Nanney dengan ketus.


"Kamu itu kenapa sih, sayang? seharusnya kamu itu bahagia setelah ingatanku kembali. Kita akan mengarungi bahtera rumah tangga, sayang."


"Jangan panggil aku dengan sebutan sayang. Aku mohon, sedikit memberi pengertian pada adikku, Henny."


"Kalian berdua mau terus berdebat atau masuk ke rumah. Jika mau terus berdebat, jangan di rumah Nenek." Ucap Nenek yang mulai geram saat mendengar perdebatan.


"Ya Nek, Nanney mau masuk kedalam rumah." Jawab Nanney dan bergegas masuk.


Sosok Danu yang tidak mempunyai pilihan, akhirnya ikut masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Nanney yang sudah tidak sabar ingin bertemu adiknya untuk menjelaskan kebenaran, ingin rasanya cepat-cepat menjelaskannya dan penjelasan nya dapat diterima dengan baik.


"Henny, ini Kakak. Tolong, buka pintunya. Kak Nanney ingin berbicara dengan mu, bukalah pintunya." Panggil Nanney sambil mengetuk pintunya.


Henny masih diam, rasa kecewa masih tersimpan dalam hatinya. Tak pernah menyangka, jika sang kakak menyimpan hubungan terlarang sama suaminya.


Karena tidak juga mendapatkan respon dari Henny. Nenek Aruma yang akhirnya ikut campur dengan permasalahan yang ada.


"Henny, ini Nenek. Tolong, buka pintunya. Kamu harus mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan oleh Kakak kamu, ayo buka pintunya." Panggil Nenek berusaha untuk merayu.


Karena takut Nenek Aruma marah, akhirnya Henny menyerah dan meminta seseorang yang menemaninya untuk membukakan pintu kamarnya.


"Terimakasih banyak karena sudah menemani putriku, sekarang kamu boleh pulang." Ucap Nenek Aruma pada seseorang yang merupakan tetangga yang diminta untuk menemani Henny ketika ditinggal sendirian di rumah.


Nenek Aruma menggandeng tangan milik Nanney dan mengajaknya untuk masuk ke kamar milik Henny.


Merasa bersalah, Nanney memilih untuk diam sebentar dan membiarkan Nenek Aruma untuk berbicara lebih dulu pada Henny.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang ini, Nak Henny? apakah sudah membaik?" tanya Nenek Aruma membuka suara.


Nanney yang merasa tidak sabar, ingin rasa secepatnya untuk menjelaskan dengan jujur agar tidak ada kesalahpahaman antara dirinya dan adik perempuannya.


Nenek langsung memberi isyarat saat melihat Nanney yang hendak berbicara.


"Ayolah berdamai dengan kakak kamu, jangan kamu simpan kekesalan mu ini hanya seorang lelaki." Ucap Nenek Aruma mencoba untuk membujuk. Tetap saja, Henny masih diam dan terasa malas untuk berucap walaupun sepatah katapun.


Nenek Aruma yang sudah membuka obrolan untuk mengajak Henny berbicara, kini memberi isyarat kepada Nanney untuk duduk di sebelah adiknya agar bisa leluasa keduanya mengobrol dan menyelesaikan masalah yang belum terungkap kebenarannya.


Nenek Aruma menggeser posisi duduknya. Kemudian, Nanney ikut duduk disebelah adiknya.


"Apakah kamu masih marah dengan Kakak? jika ya, maka Kak Nanney mau minta maaf sama kamu yang sedalam-dalamnya. Kak Nanney mengaku salah dan tidak menjelaskan semuanya padamu. Tapi, bukan berarti Kakak ingin menyakiti mu. Hanya saja, Kakak menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya." Ucap Nanney.


Kemudian, Nanney meraih tangan adiknya pertanda meminta maaf dan ingin berdamai.

__ADS_1


Henny masih diam, tak tahu harus berkata apa, pikirnya. Marah, itupun tidak akan mungkin untuk memarahi Kakaknya yang tengah hamil.


"Kalau kamu tidak keberatan, Kakak akan bercerita semuanya padamu agar kamu tidak salah paham dengan Kakak mu ini." Ucap Nanney kembali melanjutkan bicaranya.


Henny masih diam, menoleh saja pun tidak.


Nanney yang tidak mendapatkan respon dari adik perempuannya, memilih untuk tetap tenang sambil mengatur pernapasannya.


Karena tidak ingin masalah semakin rumit dan membuang-buang waktu saja, Nanney akhirnya mulai menceritakan pokok masalah yang sebenarnya hingga akhir dari sebuah masalah.


Henny masih diam dan menjadi pendengar setia tanpa ada yang terlewatkan meski satu kata sekalipun.


Alangkah terkejutnya ketika mendengar penjelasan dari Kakak perempuannya yang begitu panjang dan sangat detail, Henny langsung menoleh dan tak lupa dengan ekspresi mata yang membulat dengan sempurna pada kedua bola matanya.


Sakit, masih sakit dengan apa yang sudah dirasakan oleh Kakaknya dibandingkan dengan kebohongan status dari suaminya dan kakak perempuannya.


Justru, Henny menangis mendengarkan cerita dari sang Kakak. Saat itu juga, Henny langsung memeluk Nanney atas sikapnya barusan yang sudah mengabaikan Kakaknya.


"Maafkan aku ya, Kak ... maafkan atas semua kesalahan aku yang sudah berprasangka buruk dan menyalahkan Kakak." Ucap Henny sambil memeluk.


Entah apa yang sedang dirasakan oleh Henny, dirinya sendiri tak tahu harus berkata apa lagi dan bagaimana caranya untuk menanggapi masalah yang sebenarnya.


Nanney yang merasa sulit untuk bernapas, pelan-pelan melepaskan pelukan dari Henny dan menatapnya.


"Kakak lah yang seharusnya meminta maaf sama kamu, karena Kakak sudah menjadi pengacau dalam hidupmu." Kata Nanney yang juga tetap pada pendiriannya.


"Tidak, Kakak bukan pengacau dalam hidupku. Aku sadar, ini semua bagian ujian diantara kita masing-masing." Jawab Henny sambil menatap Nanney yang tengah tersenyum.


"Terimakasih banyak, kamu benar-benar adikku." Ucap Nanney dan mencium pipi Henny sebelah kiri.


Setelah itu, giliran Henny yang mencium pipi Nanney sebelah kanan.


Nenek Aruma yang melihat keakraban Nanney dan Henny, Beliau merasa bahagia yang sangat berlimpah.

__ADS_1


Ketika masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin, berasa tidak ada beban apapun pada kedua belah pihak, antara Henny dan Nanney.


Tidak ada lagi perdebatan yang lebih serius, Nenek Aruma bangkit dari posisinya. Kemudian, Beliau mengajak keduanya untuk keluar dari kamarnya.


__ADS_2