
Selesai menghabiskan makanan sisa dari Gane, segera ia membereskannya kembali. Dengan perut yang terasa sangat kekenyangan, Nanney sendiri ingin rasanya memuntahkan semua isi yang ada didalam perutnya.
"Silakan keluar sekarang juga. Ingat, semua belum berakhir." Usir Gane dan tidak lupa memberi peringatan pada adik iparnya.
"Ya, Kak." Jawab Nanney dengan singkat tanpa menatap kakak iparnya.
"Bagus, keluarlah." Ucapnya, Nanney sendiri segera keluar dari kamar yang menurutnya sangat terkutuk itu.
Gane yang seperti menang lotre, tidak lupa untuk tertawa dengan puas.
"Aku tidak mengabaikan kesempatan emas ini, aku akan membalaskan dendam ku atas kepergian Regar." Gumam Gane sambil mengepalkan kedua tangannya.
Karena masih ada urusan mengenai pekerjaan di luaran sana, Gane masuk ke ruang kerjanya. Kemudian ia membuka layar ponselnya dan juga laptop yang sudah menjadi bagian alat kerjanya.
Berulang kali Gane mengusap wajahnya dengan kasar, apa yang sedang dihadapinya seakan menambah emosinya. Lebih lagi harus kehilangan adik kesayangannya, amarah yang terus meluap tanpa henti.
BRAK!!
Gane menggebrak meja kerjanya cukup kuat.
"Sial! kenapa juga aku harus teledor seperti ini. Mana salah kirim barang, lagi." Gerutu Gane sambil mengacak rambutnya terus menerus.
Dengan cepat kilat, Gane segera menghubungi Ciko. Berharap apa pengirimannya dapat dikejar dan untuk mengganti barang pengirimannya.
"Apa! sudah jauh, bodoh sekali kamu ini. Cepat kau hubungi sopirnya, hentikan juga pengirimannya." Perintah Gane sambil menyorot tajam pada kedua matanya.
Setelah memberi perintah pada Ciko, Gane langsung mematikan panggilannya telponnya. Kemudian ia bersandar pada kursi sambil menatap langit langit ruang kerjanya.
Saat itu juga, Gane menoleh pada sebuah kenangan yang sudah bertahun tahun ia jaga. Kenangan apa lagi kalau bukan kenangan dimasa kecilnya, masa yang penuh kebahagiaan serta impian.
Gane bangkit dari posisi duduknya, lalu mendekati sebuah kenangan yang berada di sudut lemari yang berisi dengan penuh kenangannya.
__ADS_1
"Kini tinggal aku dan Ciko, semuanya telah pergi meninggalkan aku satu persatu. Apakah Ciko juga akan meninggalkan aku? tidak, aku tidak akan membiarkan orang di dekatku pergi meninggalkan aku kembali." Gumam Gane, kemudian ia mengambil sebuah bingkai kecil yang terdapat foto bersama kedua orang tuanya dan adik laki lakinya yang bernama Regar. Tidak hanya itu saja, didalam foto tersebut juga ada kedua orang Ciko dan juga Ciko serta adik perempuannya yang begitu terlihat sangat cantik.
"Bodoh sekali aku ini, kenapa aku tidak mencari tahu tentang kecelakaan pada kapal yang dinaiki Regar. Ya! aku harus menyelidiki kapal itu, aku harus mencari tahu atas kebenarannya." Batin Gane yang mulai terpikir atas musibah yang hampir sama kejadiannya.
Karena merasa semakin pusing untuk memikirkannya, Gane segera matikan laptopnya dan kembali ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Baginya percuma dan tidak ada manfaatnya bila dirinya harus bersedih yang berkepanjangan, baginya hanya membuang waktu yang tidak berguna.
Merasa sudah cukup berada di ruang kerjanya, Gane segera bergegas keluar. Saat berada di depan ruang kerjanya, tiba-tiba Gane merasa haus. Mau tidak mau, Gane pergi ke dapur.
Saat menuruni anak tangga, Gane berpapasan dengan Nanney yang tengah menapaki anak tangga. Kamar diantara keduanya satu arah, yang mana harus melewati tangga yang sama.
"Berikan padaku," pinta Gane sambil menunjuk pada sebuah gelas yang berisi air minum di tangan Nanney.
"Kak Gane haus?" tanya Nanney dengan hati hati.
"Jangan banyak tanya, berikan padaku." Ucap Gane tetap memaksanya, Nanney sendiri masih berpikir.
"Aku tidak menanyakan itu, cepat berikan padaku." Ucap Gane yang terus memaksa, Nanney sendiri langsung menyodorkan nya pada kakak iparnya.
"Kau ambil sendiri minumannya, mengerti." Kata Gane sambil meraih gelas tersebut dan segera kembali ke dalam kamarnya.
Nanney yang merasa geram dan juga kesal, ia hanya bisa mengalah dan memilih untuk mengambil air minumnya kembali.
"Kamu harus sabar, Nanney." Gumam Nanney dan kembali pergi ke dapur.
"Ada apa lagi, Nona?" tanya mbak Lina.
"Tidak ada apa-apa kok, Mbak. Aku mau ambil air minum, itu saja." Jawab Nanney yang tidak lupa tersenyum.
"Bukannya Nona sudah mengambil air minum?" tanya mbak Lina lagi karena merasa heran, Nanney sendiri justru kembali tersenyum pada mbak Lina.
__ADS_1
"Terserah Nona sajalah, saya tidak tahu apa-apa." Kata mbak Lina yang pada akhirnya memilih untuk membuang rasa penasarannya.
"Tadi itu, air minum ku diminta sama kak Gane. Jadi, aku harus mengambilnya kembali." Ucap Nanney yang pada akhirnya berterus terang pada mbak Lina.
"Oh, kirain buat siapa. Ya sudah kalau begitu, saya permisi, Nona." Kata mbak Lina yang sekaligus berpamitan.
"Ya, Mbak Lina." Ucap Nanney dan segera mengambil air minum. Setelah itu, Nanney kembali masuk ke kamarnya.
Sedangkan Gane yang berada di dalam kamarnya pun, begitu sulit baginya untuk memejamkan kedua matanya. Pikirannya kembali tertuju pada Nanney, begitu rumit untuknya memberi sebuah hukuman pada adik iparnya.
Sambil menatap langit-langit kamarnya, Gane terus berpikir. Karena sedari tadi tidak ia temukan ide yang pas, Gane meraih ponselnya dan segera menghubungi Ciko.
"Sepertinya Ciko bisa dimintai untuk memberi ide, aku akan memintanya berpikir." Gumam Game sambil menghubungi Ciko.
Berulang kali Gane menghubungi Ciko, tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Justru nomor yang sedari tadi ia hubungi pun, sama sekali tidak ada jawabannya.
"Sial! kemana itu anak, kenapa tidak menjawab telpon ku." Gerutu Gane sambil berdecak kesal, pasalnya sedari tadi tidak ia dapatkan jawaban.
Saat mau meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya mengeluarkan suara. Senyum merekah tengah menghiasi kedua sudut bibirnya itu.
"Akhirnya, takut juga itu anak." Gumam Gane, kemudian ia langsung menerima panggilan dari Ciko.
"Kemana saja, kamu. Dari tadi dihubungi tidak juga angkat telpon dariku." Ucap Gane dengan nada penuh geram.
Dengan serius, Gane mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ciko dari sebrang telpon. Seketika, Gane terkejut mendengarkannya.
"Apa! hampir saja ketahuan? kamu tidak sedang bercanda, 'kan? bagaimana kondisinya sekarang? ha."
"Lain kali itu, kamu harus tegas saat memberi perintah sama anak buah kamu. Untung saja, kalau sampai kita ketahuan polisi, habislah nyawa kita." Ucap Gane dengan napas yang terasa panas dan membara, rasa ingin memarahi satu persatu dari anak buahnya sendiri.
Setelah merasa sudah cukup dan tidak ada lagi yang mau dibicarakan, Gane langsung mematikan panggilan telpon dari Ciko. Gane yang hampir saja frustasi, ia langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Berharap ia tidak lagi merasa ketakutan atas pekerjaannya itu di luar jam kantornya.
__ADS_1