Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Penasaran


__ADS_3

Selesai melakukan panggilan lewat video, Nanney merasa lega saat kekhawatirannya sedikit berkurang.


Sedangkan di rumah sakit, Gane sudah dapat diizinkan untuk kembali ke lapas. Begitu berat untuk berpisah, tetapi Ciko dan Doin tidak bisa berbuat apa-apa untuk Bosnya selain mengikuti peraturan hukum.


Dalam perjalanan, Ciko dan Doin masih diberi kesempatan untuk mengantarkan Bosnya kembali ke tempat semula.


Senda gurau tak menjadi masalah ketika berada dalam perjalanan menuju lapas.


Sampai didalam, Ciko dan Gane berhadapan.


"Cik, jangan sampai kamu lupa dengan semua pesanku. Lakukan tindakan secepatnya, waktu kita tidak banyak. Jika sampai kamu gagal, aku akan kabur dari lapas ini." Ucap Gane memberi pesan pada Ciko.


"Tenang saja, Bos. Aku sudah menambahkan anak buah dan memintanya untuk segera memperketat melakukan penyelidikan. Tidak hanya itu saja, untuk pengacara Willi sudah aku lakukan penyelidikan. Kalau pencarian pengacara Elyam, sedikit aku mulai mendapatkan titik terang. Tentu saja, sudah ada yang mengatur semuanya." Jawab Ciko menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu, aku percayakan pada kalian berdua untuk mengupas tuntas semuanya. Aku tidak akan memandang bulu. Siapa orangnya yang berani berurusan denganku, maka aku tidak akan memberi ampun pada siapapun." Ucap Gane sambil memegangi kedua pundak milik Ciko.


"Tuan Gane tidak perlu khawatir, semua akan tertangkap dalam perangkap kita." Timpal Doin ikut angkat bicara.


Gane mengangguk, kemudian melepaskan tangannya.


"Kalau begitu, kita berdua pamit pulang. Untuk soal istrimu, kita akan menjemputnya setelah urusan kita selesai. Bos Gane tidak keberatan, 'kan? aku berharap nya sih tidak."


"Sepertinya memang lebih aman untuk di Kampung halamannya. Tapi, yang kamu lakukan waktu mengantarkan istriku sesuai yang aku perintahkan, 'kan?"


"Tenang saja, aku sudah menjebak lawan kita ke Kampung yang lain. Tentu saja, mereka semua akan tertipu dan tidak bisa menemukan keberadaan istrimu."


"Kalian berdua benar-benar sangat bisa diandalkan, aku percaya sama kalian berdua. Sekarang juga, pergilah. Lakukan tugas kalian seperti yang aku katakan."


"Siap, kalau begitu kita pulang." Kata Ciko berpamitan.


Gane mengangguk, Ciko dan Doin langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Saat bayangan Ciko dan Doin tidak lagi terlihat, Gane kembali masuk kedalam sel tahanan.


"Bagaimana keadaan mu, Bro?" sapa Iswan teman dekatnya dalam sel tahanan.

__ADS_1


"Kabar aku sudah lebih baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kabar kamu sendiri bagaimana? semoga selalu dalam keadaan baik, kamu dan yang lainnya." Jawab Gane, kemudian memeluk Iswan dan yang lainnya bergantian.


Sejak berada dalam sel tahanan, Gane berteman baik dengan yang lainnya. Tidak ada yang sok jagoan atau apapun, tetap berteman baik satu sama lain.


Setelah itu, Gane duduk dan bersandar pada tembok dengan kaki yang menyilang. Gane merogoh gelang milik istrinya dalam saku celananya. Kemudian, ia mencium gelang itu. Ingatannya kembali dimana istrinya ketika berusia sembilan tahun. Saat dimana dirinya tengah memberikan gelang padanya, dan mengikat janji dengan satu kelingkingnya.


Gane tersenyum bahagia ketika mengingatnya, hal yang sangat lucu dan sangat konyol pikirnya. Bagaimana tidak merasa konyol, menyukai gadis kecil yang jarak usianya terpait separuh usianya.


"Aku tidak tahu, aku harus bahagia atau bersedih." Gumam Gane disela-sela lamunannya.


Iswan yang dapat menangkap apa yang diucapkan oleh Gane, ia menepuk pundaknya.


"Kamu kenapa lagi, Bro?" tanya Iswan.


"Ya nih, perasaan kamu sering bergumam dan mengigau. Apakah kamu ada sesuatu yang kamu pendam? ceritakan saja pada kita, siapa tahu kita ini bisa memberikan solusi kepada kamu." Timpal salah satu temannya.


"Ya Bro, kita semua adalah teman. Jangan ragu, yang ada nanti menjadi beban." Ucap yang satunya lagi.


Iswan yang tidak ingin banyak permintaan dari yang lainnya, ia memberi kode untuk kembali ke tempatnya masing-masing.


"Kenapa kalian semua menyingkir? sini, kita makan bersama. Sebentar lagi pesanan dari temanku datang, ayo kita lanjutkan obrolan kita."


Saat itu juga, teman-teman yang lainnya kembali berkumpul dan melanjutkan obrolan. Tetapi, tidak untuk membicarakan soal Gane. Melainkan pembahasan yang lainnya.


Tidak lama kemudian, datanglah anggota polisi membawakan sesuatu yang dipesan oleh Gane.


"Ini, pesanan mu sudah sampai." Ucap Pak Polisi.


"Terimakasih banyak ya Pak, ini untuk Bapak bersama yang lainnya." Jawab Gane dan menyodorkan dua kantong plastik berisi makanan.


"Terimakasih." Ucap Pak Polisi.


Setelah itu, Gane bersama teman-teman yang lainnya tengah menikmati makan siangnya.


Sedangkan Ciko dan Doin mulai beraksi untuk melakukan sebuah rencana yang sudah disusun sangat rapi. Bahkan, cara kerjanya sudah mulai diperketat.

__ADS_1


"Cik," panggil Doin sambil menyalakan laptopnya.


Ciko yang tengah beroperasi dengan ponselnya, ia menoleh pada Doin.


"Ada apa lagi, Do?" tanya Ciko.


Kemudian, pandangan Ciko kembali pada layar ponselnya.


"Besok, kita benar-benar akan terjun ke lapangan? apa tidak bahaya untuk diri kita?"


Doin yang sedikit ragu, ia kembali bertanya pada Ciko untuk memastikannya.


"Ya, kita akan terjun ke lapangan langsung. Aku tidak mempunyai cara lain selain meminta bantuan polisi untuk melakukan penyerangan. Tapi, kita juga membutuhkan keberanian yang cukup kuat untuk melawan mereka dan menangkapnya." Kata Ciko sambil memainkan ponselnya.


"Kamu yakin, jika pengacara Willi bisa kita tangkap untuk mengakui kemana perginya pengacara Elyam."


"Aku tidak bisa menjamin nya, karena untuk bertemu dengannya saja sangat sulit." Jawab Ciko sambil mengunyah buah anggur.


Tiba-tiba Ciko tersadar, jika dirinya lupa untuk membeli makan siang untuk dirinya sendiri setelah memesan makanan untuk Bosnya.


"Doin, kamu itu lupa atau mendadak amnesia sih. Kamu tahu, kita ini belum makan siang."


"Ah! ya, aku sampai lupa saat kita memesan makanan untuk Tuan Gane. Ya sudah, biar aku saja yang akan keluar untuk membeli makanan." Kata Doin.


"Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu, biar aku saja yang akan keluar membeli makanan. Tugasmu harus segera diselesaikan, karena pencarian pengacara Elyam lah yang diutamakan." Ucap Ciko, kemudian ia langsung menyambar kontak mobilnya dan bergegas keluar dari rumah.


Dengan kecepatan sedang, Ciko mencari warung makan yang tempatnya tidak begitu ramai. Alasannya, Ciko paling tidak suka dengan sesuatu yang menunggu.


Saat sudah cukup jauh jaraknya dengan rumah yang ditempati, akhirnya Ciko menemukan warung yang tidak begitu ramai. Hanya segelintir beberapa orang yang ada didalamnya.


Meski sepi, tidak menjamin makanan itu tidak enak, pikir Ciko dengan pikirannya yang positif.


Saat berada didalam warung, Ciko langsung memesan makanan. Sambil menunggu, Ciko mencari tempat duduk yang kiranya nyaman untuk ditempati.


Tiba-tiba pandangan Ciko tertuju pada seseorang yang tidak begitu asing dalam ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2