
Sendirian di rumah seorang diri tanpa ada satu orang pun yang menemaninya, Nanney merasa seakan-seakan terpenjara dalam sangkar.
Karena bosan harus menunggu suami pulang, Nanney mencoba untuk menghubungi keluarga di kampung halamannya.
"Aku coba menghubungi Hennyta saja apa ya, semoga saja Henny sudah mengaktifkan nomornya." Gumamnya dan meraih ponsel miliknya.
Dengan penuh harap, Nanney dapat menghubungi keluarganya yang berada di kampung halaman. Setidaknya menjadi obat rindu untuknya.
Dengan santai, Nanney mencari nomor kontak. Saat muncul nama Henny, segera ia menghubunginya.
Alangkah terkejutnya saat nomor saudara tersambung dengan mudahnya. Senyum merekah terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya dan mata yang berbinar bak menang lotre.
"Henny, kamu kemana saja selama ini? bagaimana kabarnya? Nenek, bagaimana dengan Nenek?" tanya Nanney yang benar-benar sangat bahagia saat dirinya mendengar suara saudara perempuannya.
"Syukurlah kalau Nenek baik-baik saja, ingin berbicara sama Nenek. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu alasannya. Kenapa nomor kamu tidak aktif saat itu? kamu tahu? aku sangat bersedih."
"Apa! kamu mau menikah? dengan siapa? serius? wah ... selamat ya, aku akan usahakan untuk segera pulang. Tapi ... aku tidak bisa janji, yang pasti aku akan pulang." Ucap Nanney seperti tidak percaya ketika mendengar kabar bahagia jika saudara perempuannya akan segera menikah.
"Ya, aku akan pulang bersama suamiku. Tapi aku mohon, berikan ponselnya pada Nenek. Aku ingin mendengarkan suaranya." Jawabnya dengan meyakinkan, takut jika harus berkata jujur jika dirinya telah menikah yang kedua kalinya.
"Nenek, Nenek apa kabarnya? Nanney sangat rindu Nek ... maafin Nanney yang belum bisa pulang." Sapa Nanney dengan penuh kerinduan, bahkan ingin sekali memeluk neneknya dan mencurahkan segala keluh kesahnya.
"Nek, Nanney janji. Nanney akan segera pulang secepatnya, Nenek di jaga kesehatannya ya Nek. Sebisa mungkin, Nanney akan pulang."
Setelah mendapatkan kabar baik dari keluarganya di kampung, Nanney benar-benar merasa lega dan tidak khawatir lagi. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah cukup lama banyak bertukar cerita, Nanney menyudahi obrolannya dan berpamitan.
Setelah itu, Nanney mematikan ponselnya. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa khawatir bercampur aduk rasanya, kini seakan sudah tidak ada lagi kekhawatiran.
__ADS_1
"Jadi pingin cepat-cepat pulang, ingin sekali menemani Henny saat menikah. Jadi penasaran dengan suaminya, selama ini Henny juga tidak pernah pacaran. Semoga saja aku bisa pulang dan menyaksikan pernikahannya Henny yang sakral." Gumam Nanney sambil membayangkan saat dirinya pulang ke kampung halaman.
Rasa kantuk yang juga tidak kunjung datang, kini berubah dengan rasa penasaran. Nanney yang bingung mau ngapain, tiba-tiba dirinya teringat dengan sebuah pesan dari suaminya dengan sebuah ponsel yang ada di dalam laci
Karena rasa penasaran dengan ponsel milik suaminya, Nanney segera mengambilnya.
Betapa terkejutnya saat apa yang ia lihat seperti tidak percaya. "Pistol, untuk apa?" ucapnya lirih saat mendapati sebuah pistol yang ada disebelah ponsel yang dimaksudkan suaminya.
"Apakah semua cowok itu sama, yakni menyimpan senjata? untuk apa? apakah takut rumahnya akan dimasukin maling? ribet amat jadi orang kaya itu." Gumamnya tanpa mencurigai yang mendalam tentang suaminya, bahkan sampai lupa untuk memeriksa ponsel suaminya itu.
Rasa bosan yang tidak tahu harus berbuat apa, Nanney akhirnya memilih untuk beristirahat. Percuma jika harus bergadang malam-malam hingga jam satu malam.
Sedangkan di tempat lain, Gane dan Ciko tengah bersiap-siap menuju tempat yang dijadikan gudang untuk menampung barang dagangan nya.
"Bos, siapkan pistol mu. Kita dalam perjalanan cukup panjang. Nyawa kita akan menjadi taruhannya jika polisi mengintai kita." Ucap Ciko mengingatkan.
"Pistol, dimana pistol ku. Sial! aku lupa membawanya, Cik. Bagaimana ini, aku benar-benar tidak membawa pistol. Berikan padaku pistol cadangan mu, aku benar-benar lupa." Kata Gane dengan panik saat dirinya lupa untuk membawa pistolnya.
"Hem, ini pistolnya. Lain kali itu diperiksa dulu kalau mau keluar, Bos. Apa karena ... tidak jadi."
"Karena apa? karena istriku? maksudku perempuan sialan itu, ya! perempuan sialan itu selalu bikin aku sial."
"Cie ... istriku, bagus itu." Ledek Ciko sambil menyetir mobilnya.
"Tidak usah meledek ku, karena sama sekali tidak ada yang lucu untuk ditertawakan." Kata Gane tanpa menoleh pada Ciko.
Ciko yang malas berdebat dengan Gane, dirinya memilih fokus pada setir mobilnya. Saat berada di tengah-tengah perjalanan yang cukup sepi, tiba-tiba keduanya merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Gane yang penasaran, ia menoleh kebelakang untuk melihatnya.
__ADS_1
Ciko yang juga merasa gelisah dan khawatir, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tetap saja, Ciko terus berjaga-jaga jika sewaktu-waktu mobil dari belakang mengejarnya. Tidak lupa juga, Gane maupun Ciko sudah menyiapkan pistolnya masing-masing. Takut, jika musuh atau polisi yang sengaja mengejarnya.
"Siapa yang mengikuti kita, Bos?" tanya Ciko sambil fokus dengan setir mobilnya.
"Sepertinya polisi, Cik. Sini, biar aku saja yang menyetir mobilnya." Jawab Gane dan meminta untuk bertukar posisi.
"Jangan, Bos. Nanti bisa berbahaya, polisi akan bertambah mencurigai kita." Kata Ciko yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
"Aku tidak percaya denganmu, Cik. Lihatlah, mobil belakang menambahkan kecepatannya." Ucap Gane yang mulai gelisah dan khawatir jika sewaktu waktu dirinya tertangkap basah oleh polisi, pikirnya yang terus menerus berdebat dengan Ciko.
Karena kecepatan mobil dari belakang semakin laju dengan cepat, Gane terus memaksa Ciko untuk menyingkir dari kursi pengemudi.
Tidak ada cara lain, akhirnya Ciko menyerah dan berpindah posisi dengan Bosnya.
Dengan lihai, Gane sudah duduk dan mengoperasikan setir mobilnya. Dengan kelihaian nya, Gane menambah kecepatannya. Begitu juga dengan mobil dari belakang yang tidak mau kalah untuk menambah kecepatan laju kendaraannya.
Aksi tembak menembak pun, belum ada yang memulai. Gane maupun dengan mobil yang mengikutinya dari belakang yang masih fokus dengan laju kecepatannya masing-masing.
"Bos! jangan gila, kamu. Bisa mati mendadak kita ini. Cari celah, Bos."
"Diam! kau Ciko. Nyawa kita sudah ada di ujung tanduk, tau." Bentak Gane yang terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
DOR! DOR!
Suara tembakan yang benar-benar membuat detak jantung keduanya mendadak seperti mau copot, Gane terus melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi lagi. Bahkan, Gane tidak peduli dengan nyawanya. Antara mati dan selamat, itu sudah menjadi keputusan Gane dan Ciko sejak pertama terjun di dunia kerjanya yang digelutinya.
"Mana pistolnya, berikan padaku." Pinta Gane sambil menengadahkan tangan kirinya untuk meminta pistol pada Ciko.
__ADS_1