
Terasa lega karena dapat terlepas dari pelukan suaminya, kemudian ia menyingkir ke tempat lain. Berharap dirinya tidak mendapatkan drama aneh dari sang suami.
Sambil menikmati suasana di pagi hari ketika menyebrang lautan untuk pulang, tidak terasa kapal telah bersandar di Dermaga.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Gane yang tidak lupa untuk menggandeng tangan milik istrinya.
"Kakak takut ya, jika aku kabur." Sindir Nanney sambil berjalan beriringan.
"Ya, karena aku belum puas untuk membalaskan dendam ku padamu. Jadi, jangan harap kamu bisa lepas dari genggaman ku." Jawab Gane dan mempercepat langkah kakinya dan menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.
Setelah keluar dari kapal, Gane dan Nanney terasa lega. Merasa lega karena telah selamat sampai tujuan pulang. Tetap saja, Nanney masih menyisakan kenangan yang sudah pernah dilaluinya.
Sepintas, Nanney menoleh ke belakang. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatap pulau yang begitu terlihat kecil karena jarak yang sangat jauh.
Gane yang lepas genggamannya dengan tangan istrinya, ia membalikkan badannya. Dilihatnya sang istri yang tengah berdiri dan terdiam sambil menatap pulau kecil yang sudah menjadi saksi hubungan tanpa cinta bersamanya.
"Kamu sedang menunggu apa lagi?" tanya Gane yang kini tengah berdiri disebelahnya. Nanney menoleh pada suaminya, kemudian menatapnya.
"Aku sedang tidak menunggu siapa-siapa, aku hanya memperhatikan Pulau kecil itu."
"Ada apa dengan Pulau kecil itu? apakah kamu sedang mengutuk perbuatan terkutuk ku itu?"
"Ya! aku sedang mengutuk mu." Jawab Nanney ketus. Setelah itu, Nanney langsung mekbuang muka dan segera pergi dari hadapan suaminya.
Naas, Gane lebih cepat untuk meraih lengan istrinya dan menariknya dengan paksa.
"Jaga ucapan mu itu."
"Kenapa? Kak Gane takut? bukankah Kak Gane selalu berani untuk menindas ku? bahkan atas kematian Regar, Kak Gane berani untuk membalaskan dendam padaku. Lucu sekali, jika kali ini aku mengutuk Kakak."
__ADS_1
"Cukup! hentikan perdebatan ini, ayo kita pulang." Bentak Gane dan menarik paksa lengan istrinya sampai di didepan mobil, kemudian memaksanya untuk masuk ke dalam mobil bersamanya.
Masih dalam perjalanan untuk pulang, Nanney masih memasang muka masamnya. Bahkan, dirinya tetap menunjukkan kekesalannya. Sedangkan Gane hanya diam sambil menatap luar lewat jendela kaca mobil.
Rasa bosan dengan posisi yang tidak berubah. Gane mengubah posisinya sambil bersandar dan menatap lurus ke depan, tak lupa dengan kedua tangannya yang menyilang di dada bidangnya. Bosan, Gane memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, ketika bangun semua akan baik-baik saja, termasuk pada istrinya sendiri yang terlihat tengah dikuasai oleh emosinya.
Nanney yang juga merasa bosan menatap luar, sekilas menoleh pada sang suami.
'Enak banget dia, tidur dengan nyenyak. Bahkan, dengan entengnya sampai lupa dengan kesalahannya sendiri.' Batin Nanney diakhiri membuang napasnya dengan kasar.
Gane yang memang merasa sulit untuk tidur, ia membuka kedua matanya dan menoleh ke samping.
"Kamu kenapa? tidurlah, perjalanan kita masih jauh." Tanya Gane dan mengajaknya untuk tidur.
"Aku tidak bisa tidur, kepalaku sedikit migren." Jawab Nanney dan menatap lurus kedepan, Gane sendiri segera membenarkan posisi duduknya.
"Sini, tidurlah dipangkuan ku." Ucap Gane sambil menepuk pa*hanya, sedangkan Nanney menggelengkan kepalanya.
"Kak, ini sangat sakit." Kata Nanney berusaha tidak tidur dipangkuan suaminya.
"Diam lah, lebih baik kamu tidur saja." Ucap Gane sambil menahan tubuh istrinya agar tidak memberontak dan lepas begitu saja. Nanney yang merasa sedikit pusing, ia menyerah dan memilih untuk tidur dipangkuan suaminya.
Gane yang mendapati istrinya sudah tidur pulas, dirinya ikut memejamkan kedua matanya dan tak sadarkan diri ikut tertidur.
Cukup lama dalam perjalanan menuju rumah yang sederhana miliknya, kini telah sampai di depan rumahnya. Keduanya masih sama-sama tertidur dengan pulas nya.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai." Ucap Pak Sopir mencoba untuk membangunkan Gane maupun Nanney.
Terdengar suara yang memanggil, pelan-pelan Gane membuka kedua matanya dan menyempurnakan penglihatannya.
__ADS_1
"Sudah sampai ya, Pak."
"Ya, Tuan. Kita sudah sampai di depan rumah Tuan, lihatlah." Jawab Pak Sopir, Gane memeriksa di sekelilingnya.
"Terimakasih sudah mengantarkan kami berdua sampai di depan rumah dengan selamat." Ucap Gane.
Kemudian, ia melepaskan sabuk pengamannya. Merasa tidak ingin mengganggu tidur istrinya, Gane menggendong sang istri sampai didalam kamar.
Saat sudah berada di dalam kamar, dengan hati-hati Gane membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Dipandangi lah wajah ayu milik istrinya.
"Aku tidak tahu, apa yang harus aku pilih. Membalaskan dendam ku padamu, atau aku akan gila karena mu." Gumamnya, kemudian menyelimuti tubuh istrinya setengah badan.
Setelah itu, Gane mendaratkan ciu*mannya tepat pada kening milik istrinya dengan lembut. Kemudian ia meraih kursi dan duduk didekat istrinya. Diusapnya pucuk kepala istrinya, lalu menyelipkan rambutnya dibalik daun telinganya.
Pelan-pelan, Gane menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Sesekali ia memijat bagian pelipisnya karena rasa penat yang tengah dirasakannya setelah melewati malamnya bersama sang istri
Karena tidak ingin larut dalam dilemanya, Gane beranjak pergi dari kamar. Masalah yang satu belum diselesaikan, kini datang lagi masalah baru. Gane benar-benar terasa penat untuk memikirkannya.
Sebuah penyelidikan kini semakin bertambah masalahnya, satu persatu berdatangan. Dengan pikirannya yang terasa penat, Gane mengusap wajahnya dengan kasar dan menuju ruang privasinya.
Gane menyalakan laptopnya, kemudian memeriksanya kembali. Sambil mengacak-ngacak rambutnya, Gane memilih untuk menyelesaikan masalah yang mana untuk diselesaikan terlebih dulu.
"Insiden masa lalu, insiden Regar, persaingan dunia kerjaku, dan pesanan makanan itu. Satu lagi, sekretaris Elyam. Benar-benar membuat kepalaku terasa ingin meledak, aaaaa! sial." Gumam Gane dan berteriak didalam ruangan privasinya yang terdapat penyadap suara.
Ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya, Gane segera menghubungi Ciko. Berharap, orang kepercayaannya segera datang dan menyelesaikannya dalam kurun waktu yang singkat.
Lupa, Gane lupa jika di rumah tidak ada makanan apapun untuk dimakan. Karena hampir waktunya makan siang, Gane pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang istrinya.
Sampainya di dapur, Gane membuka freezer untuk mengambil sesuatu yang bisa untuk diolah menjadi makan siang bersama sang istri. Kemudian, Gane mengolahnya untuk menjadi makanan yang bisa dinikmati.
__ADS_1
Sudah terbiasa karena hidup tanpa dampingan orang tua, Gane dan Ciko mampu mengerjakan tugas apapun, termasuk tugas di dapur sekalipun.
Nanney yang masih tertidur pulas, tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya. Pelan-pelan membuka kedua matanya dan menyempurnakan pandangannya pada sekeliling tempat tidur yang yang ia tempati.