Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Ingin tahu


__ADS_3

Ciko yang mendengar semua cerita dari Bosnya itu, ia sangat terkejut dengan apa yang ia dengarkan.


"Bos, serius kalau orang tua Bos anak angkat? aku rasa bukan. Aku yakin, jika Orang tuanya Bos Gane adalah pewaris tunggal yang sebenarnya." Ucap Ciko seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan.


"Sudahlah Cik, percuma saja jika kita memberontak. Lagian juga kita tidak mempunyai bukti apapun yang akurar, dan yang ada kita akan dijadikan tersangka. Menghasilkan tidak, dipenjara mah ya. Lebih baik kita itu fokus dengan pekerjaan yang sudah kita tekuni ini, jangan kita sia siakan, Cik." Kata Gane yang tetap teguh pada pendiriannya.


"Tapi Bos, pekerjaan kita yang satu ini jauh lebih berbahaya dari apapun. Apa tidak sebaiknya kita sudahi saja pekerjaan kotor kita ini? diam-diam aku tuh takut, Bos. Aku takut, jika kita akan berakhir di dalam jeruji besi, Bos." Ucap Ciko berusaha untuk mengingatkan Bosnya, berharap bisa lepas dari dunia hitamnya.


Apa yang sudah digelutinya, tidak terasa sudah memakan waktu yang cukup lama. Yaitu waktu yang dimana keduanya mulai beranjak usia dua puluh lima tahun hingga saat ini mencapai titik usianya yang ke tiga puluh tujuh tahun. Begitu lamanya Gane dan Ciko bertahan dalam pekerjaan yang sudah menjadi pilihannya. Namun, tetap saja tidak membuatnya bosan dan terus berambisi untuk menggapai pada titik yang diharapkannya. Entah apa tujuan dari keduanya, hingga tetap mempertahankannya hingga sampai saat ini juga.


"Hanya ada satu yang bisa dijadikan bukti. Tetapi aku tidak bisa menjamin nya juga, Cik." Ucap Gane yang tiba-tiba teringat pada seseorang.


"Apa buktinya, Bos?" tanya Ciko penasaran.


"Bukti atas kebenaran yang ada, yakni bukti tentang keluarga Huttama. Aku hanya tertuju pada Pengacara Elyam, hanya dia orangnya."


"Pengacara Elyam? kamu yakin, Bos?"


"Tentu saja, karena aku tidak mendapati kehadirannya di rumah. Justru yang datang adalah Pengacara Willi, yang dari dulu tidak pernah dekat dengan kakek Huttama. Yang dekat dengan kakek Huttama adalah pengacara Elyam." Jawab Gane dengan segala ingatannya di masa lalunya yang terbilang cukup lama.


"Bos Gane yakin? kalau gitu, kita harus mencari keberadaan Pengacara Elyam. Kita cari buktinya, lalu kita usut sampai ke akar akarnya."


"Tapi masalahnya, kita tidak tahu dimana keberadaan Pengacara Elyam, Cik." Kata Gane setengah frustasi.


"Bos Gane bagaimana sih, kita ini punya anak buah yang cukup banyak. Kita perintahkan untuk melacak keberadaan Pengacara Elyam. Tentu saja lewat Pengacara Willi." Ucap Ciko memberi solusi, Gane langsung menoleh ke samping.


"Ide yang cukup bagus, tumben otak kamu encer. Biasanya udah kek benang kusut, semakin ruwet untuk dipikir."


"Gini gini juga didikan mu, Bos. Siapa lagi kalau bukan Bos Gane."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyuruh anak buah kita untuk segera menindak lanjuti pencarian Pengacara Elyam." Kata Gane yang mulai berpikir untuk mencari sebuah bukti.


"Nah, gitu dong. Ngomong ngomong udah malam nih, Bos."


"Memangnya kenapa kalau malam? mau mager di lampu merah sambil joged ria, begitu kah maksud kamu? mending juga tidur, Cik."


"Jangan gila kamu, Bos. Begini-begini aku ini masih waras, aku masih banyak uang. Cuman satu yang tidak aku punya, istri. Jangan aku, Bos Gane yang aku anggap aja tidak punya istri." Kata Ciko yang tidak lupa dengan tawanya.


"Diam lah, Cik. Jangan kamu bahas yang tidak aku sukai, lebih baik kamu pikirkan nasibmu kedepannya." Ucap Gane sambil melirik tajam pada Ciko, lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Ciko sendiri hanya mengangguk, meski rasanya ingin mengguncangkan tubuh Bosnya itu agar tersadar atas kenyataan yang ada. Namun, Ciko tidak berani untuk melakukannya sebelum waktunya tiba.


Karena sedari tadi sudah menahan rasa lapar, akhirnya Ciko membuka suara.


"Perut Bos Gane terbuat dari tembaga kah? sampai-sampai lupa dengan rasa lapar, hem."


"Ah ya, aku sampai lupa. Kamu lapar? ya sudah sana pergi. Jangan lupa belikan dua porsi untukku dan perempuan sial itu." Kata Gane, kemudian ia menunjuk pada kamar yang dimaksudkan.


Setelah Ciko pergi dari rumah, tiba-tiba Gane tersadar jika dirinya lupa memasukkan Nanney ke dalam kamarnya sendiri.


"Aduh! bodoh sekali aku ini, kenapa aku memasukkan perempuan sial itu ke kamarku. Ah! benar benar bodoh, aku ini. Seharusnya ke kamarnya Ciko, sial." Gumam Gane berdecak kesal setengah menggerutu.


Karena sudah merasa gerah dan juga terasa lengket, Gane menggedor gedor pintu kamarnya sendiri.


Nanney yang sedang mengganti pakaiannya, dirinya pun bingung harus mengenakan baju yang mana. Karena tidak ada satupun baju perempuan di dalam lemari tersebut, tidak mungkin juga jika dirinya mengenakan pakaian yang sudah dipakai, tentu saja tidak membuatnya merasa nyaman.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, dirinya terpaksa mengenakan baju seadanya. Yakni tidak lain baju milik Gane, kakak iparnya. Tidak peduli amarah yang seperti apa, Nanney tetap mengenakan baju milik kakak iparnya.


Suara gedoran pintu terus mengganggu indra pendengaran milik Nanney, dan akhirnya pintu dibuka dari dalam kamar.

__ADS_1


Sepasang mata Gane tertuju pada penampilan Nanney yang hanya mengenakan kaos oblong yang cukup membuatnya kedodoran, tetapi tidak mengalihkan paras ayunya.


"Siapa yang nyuruh kamu untuk mengenakan baju milikku? ha."


"Kak Gane, siapa lagi?"


"Aku, kamu bilang?" ucap Gane balik bertanya dan menunjuk pada dirinya sendiri dengan jari telunjuknya mengarah pada wajahnya.


Dengan santainya, Nanney mengangguk tanpa merasa bersalah apapun karena asal menjawab pertanyaan dari kakak iparnya. Tidak lupa juga, Nanney tersenyum mengembang pada Gane.


"Aku itu menyuruh kamu untuk mandi, tetapi tidak untuk mengenakan bajuku, paham. Kamu itu punya otak, punya mulut juga, apa susahnya untuk mikir dan bertanya, ha! bodoh ya bodoh, tetapi dipake itu otakmu itu." Ucap Gane dengan penuh kekesalan.


"Ya maaf, aku kan, tidak tahu. Lagian Kak Gane aneh, nyuruh mandi tapi tidak disediakan baju ganti."


Gane yang memang merasa salah sejak awal mengajak Nanney tanpa dipikir sebelumnya saat mengajaknya pulang, dirinya hanya diam dan langsung masuk ke kamar begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.


"Kau tunggu di luar, aku mau mandi. Awas, kalau sampai kamu berani kabur, jangan harap kamu bisa selamat." Ucap Gane yang tidak lupa memberi ancaman pada Nanney.


"Ya, paduka. Tenang saja, aku tidak akan pernah kabur sampai paduka merasa puas. Lakukanlah sesuka hati paduka, aku siap menjalaninya." Kata Nanney dibarengi ejekan. Lebih-lebih dengan nama panggilan yang baru, membuat Gane semakin geram dengan sikap Nanney yang sudah mulai berani dengan dirinya.


"Jangan banyak omong, pergilah dari hadapanku." Ucap Gane sambil mendorong tubuh Nanney untuk keluar dari kamarnya, tidak lupa juga ia langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya.


"Dasar, lelaki tengil. Sudah tua juga, masih saja sombong. Lihat saja, bakal aku balas." Gerutu Nanney sambil berkacak pinggang, tidak lupa juga ia menendang pintu kamar milik kakak iparnya.


Karena tidak tahu harus berbuat apa, Nanney hanya bisa duduk santai sambil menonton televisi.


Lagi lagi sepasang matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terpajang pada sebuah dinding dengan ukuran yang cukup besar dan sangat jelas.


Nanney yang merasa penasaran, ia mendekati foto tersebut dengan seksama.

__ADS_1


"Siapa gadis kecil ini, apakah gadis kecil ini cinta pertamanya kak Gane? jadi penasaran. Ah ya, aku tanya aja sama si ajudannya itu. Keknya sih penurut, semoga saja." Gumam Nanney sambil memperhatikan sebuah foto yang berukuran besar terpampang pads dinding.


__ADS_2