Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kedatangan tamu


__ADS_3

Nanney yang tidak mendapatkan izin dari sang suami, tiba-tiba berubah murung. Yang tadinya penuh harap, kini seakan harapannya telah sirna.


"Memangnya di Kampung halaman kamu itu, ada apa? selagi mereka baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Tanya Gane sambil membaringkan tubuhnya dengan benar.


"Entahlah, aku merasa sangat merindukan Kampung halamanku. Ditambah lagi dengan saudara perempuan ku yang akan segera menikah, ingin rasanya aku menemani hari bahagianya." Jawab Nanney dengan lesu.


"Memangnya kemarin itu, maksud aku waktu pernikahan mu dengan Regar, keluarga mu tidak datang?"


"Tidak, waktu itu Henny ada pekerjaan yang tidak bisa untuk ditinggalkan. Jadi, aku memilih setelah liburan untuk pulang ke Kampung halaman bersama Regar. Tapi kenyataannya tidak akan mungkin. Keluarga ku juga tidak tahu tentang insiden kecelakaan kapal itu."


"Jahat banget saudara kamu itu. Demi uang tidak mau menghadiri pernikahan mu."


"Tidak semudah itu tinggal di Kampung, gaji juga tidak besar. Jadi, jangan menyalahkan saudaraku." Kata Nanney mencari pembelaan.


"Ya ya ya, sekarang lebih baik kamu tidur. Lihatlah, sudah jam dua malam."


"Ya, selamat malam." Ucap Nanney dan langsung membelakangi sang suami.


Gane mengusap kening istrinya sampai di pucuk kepalanya, kemudian perlahan ia memejamkan kedua matanya dan menarik napasnya pelan-pelan.


'Kamu membuatku nyaman, seperti gadis kecilku.' Batin Gane dengan mata yang terpejam.


Nanney yang awalnya kesulitan untuk memejamkan matanya, lambat lain rasa kantuk pun menyerangnya sampai terlelap dari tidurnya,


Begitu juga dengan Gane, dirinya ikut terlekap dalam tidurnya. Entah siapa yang memulai mendekatkan diri, kini posisi Gane sudah memeluk sang istri. Bahkan keduanya terbalut dalam satu selimut yang tebal. Keduanya benar-benar nyenyak dengan tidurnya hingga pagi menyambutnya.


Gane yang sudah terbangun dari tidurnya, ia kembali mengeratkan pelukannya. Nanney yang tersadar dari tidurnya pun, ia langsung membuka kedua matanya.


Alangkah terkejutnya ketika tubuhnya sudah dalam pelukan suaminya.


"Diamlah, aku masih mengantuk." Ucap Gane yang mengetahui istrinya sudah sadarkan diri dari tidurnya.

__ADS_1


"Aku harus membuat sarapan pagi, Kak." Jawab Nanney berusaha untuk lepas dari pelukan suaminya, sedangkan Gane terus memeluknya dengan erat.


Terasa geli untuk merasakan sentuhan dari sang suami, sebisa mungkin Nanney untuk menghindar. Takut, sesuatu yang pernah terjadi akan terulang kembali. Bukan tidak mau melayani sang suami, Nanney hanya tidak ingin melakukan nya tanpa adanya cinta, tetapi hanya karena naf*su dan pelampiasannya semata, pikir Nanney.


"Kak, aku kebelet nih ... aku mau ke kamar mandi." Ucap Nanney kembali untuk beralasan, Gane langsung melepaskan pelukannya. Saat itu juga, Nanney merasa lega dan segera bergegas pergi ke kamar mandi.


"Akhirnya aku bisa bernapas lega." Gumam Nanney ketika sudah berada di depan cermin sambil berkacak pinggang. Kemudian ia segera buang air kecil dan dilanjutkan mencuci mukanya serta menggosok gigi.


Selesai ritualnya di dalam kamar mandi, cepat-cepat segera keluar dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi.


Sedangkan di Kampung halaman keluarga Nanney, kini tengah disibukkan dengan acara pernikahan saudara perempuan nya yang tinggal satu hari lagi.


"Hen, apakah Nanney benar mau pulang Kampung?" tanya seorang Nenek dengan penuh harap.


"Kurang tahu Nek, katanya sih mau pulang bersama suaminya. Prasangka baik aja dulu, Nek. Mungkin jika tidak bisa datang, suaminya Kak Nanney sedang sibuk dengan pekerjaannya. Bukankah suami Kak Nanney itu orang yang sangat kaya dan juga sangat sibuk? kita doakan saja, Nek. Semoga Kak Nanney benar-benar ada kesempatan untuk pulang ke Kampung kita ini, Nek." Ucap Henny mencoba untuk meyakinkan Beliau.


"Semoga saja, Nenek hanya bisa berdoa untuk Nanney. Entah mengapa, Nenek ingin bertemu dengannya." Kata sang Nenek, Henny segera memeluk Beliau. Kemudian mulai membereskan dan menyiapkan sesuatu yang dipergunakan pas hari pernikahannya.


Berbeda dengan Nanney, justru dirinya tengah sibuk dengan alat masaknya. Dengan telaten, Nanney menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan sang suami.


Gane yang tiba-tiba dapat menghirup aroma masakan sang istri, perutnya semakin berdendang dan ingin segera diisi. Cepat-cepat segera membersihkan diri sebelum keluar dari kamar.


Nanney yang baru saja masuk ke kamar, seakan kedua matanya terhipnotis dengan pemandangan yang dapat menggodanya.


"Cepat kau bersihkan badanmu itu, jangan pakai lama." Ucap Gane sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajah istrinya, Nanney segera sadar dari lamunannya.


"Hem, mentang-mentang sudah mandi." Gerutu Nanney sambil berjalan menuju kamar mandi, Gane sendiri memilih keluar dari kamar.


"Sudah beberapa hari ini sejak aku menikah, aku belum pernah keluar rumah." Gumam Gane saat hendak keluar dari kamar.


Saat membuka pintu rumah dengan lebar, Gane memejamkan matanya dan menghirup udara yang sangat segar dan cuaca yang cerah. Kemudian ia membuang napasnya dengan pelan-pelan dan juga membuka kedua matanya dengan sempurna.

__ADS_1


Seketika, alangkah terkejutnya saat melihat dihadapannya ada mobil datang yang baru saja berhenti.


"Paman Prasetyo, ada apa dengan Paman?" gumam Gane seperti tidak percaya.


"Gane, apa kabarmu, Nak?" sapa dari Tuan Pras dengan senyum ramah.


"Baik, Paman. Ada perlu apa Paman datang pagi-pagi sekali? Tante Sere mana? oh itu."


"Tangan kamu kenapa?"


"Gane, ada apa dengan tangan kamu, Nak? kamu baik-baik saja, 'kan?"


Bunda Sere pun ikut terkejut saat mendapati keponakan nya terluka pada lengannya.


"Paman, Tante, ayo kita masuk." Ajak Gane untuk masuk ke rumah, tentu saja untuk mengalihkan pertanyaan tentang lukanya.


"Silakan duduk, Paman dan Tante." Ucap Gane mempersilahkan untuk duduk, Tuan Pras dan Bunda Sere segera duduk.


"Jawab pertanyaan Paman, tangan kamu kenapa?" tanya Tuan Pras yang tetap bersikukuh untuk menanyakan luka yang ada di lengan keponakannya.


Gane berusaha untuk tersenyum, berharap tidak akan dicurigai serta diselidiki.


"Semalam aku mendapatkan musibah kecil dengan Ciko, tapi sudah diobati oleh istriku. Paman tidak perlu khawatir, ini hanya luka ringan." Jawab Gane yang terus tetap beralasan demi tidak diketahui apa yang sudah terjadi semalaman.


"Jangan hanya diobati sendiri, tetapi juga diobati oleh Dokter." Kata Tuan Pras mengingatkan.


"Ngomong-ngomong istri kamu dimana? perasaan, Tante tidak melihatnya." Timpal Bunda Sere menanyakan keberadaan istri dari keponakannya.


"Istriku sedang mandi, Tante. Oh ya Paman, ada perlu apa Paman Pras datang kemari?"


"Paman ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama kamu." Jawab Tuan Pras dengan tatapan yang sangat serius.

__ADS_1


"Eh, ada tamu." Dengan reflek Nanney berucap, kemudian menutup mulutnya.


"Nak Nanney, kemari lah." Ucap Bunda Sere mengajak Nanney untuk ikut duduk bersama.


__ADS_2