
Nanney berjalan mendekati suaminya dan duduk disebelahnya.
"Paman, Tante, apa kabarnya?" sapa Nanney dengan ramah pada keluarga suaminya.
"Kabar Paman dan Tante baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Baik juga, Tante." Jawab Nanney dan memilih untuk diam.
"Paman, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan?" tanya Gane pada pokok intinya.
"Paman ada suatu permintaan sama Kamu, kembalilah ke rumah utama, Nak. Paman kamu, Paman Hardika sudah menyetujui bahwa rumah itu milikmu. Mau bagaimana pun, kamu tetap bagian keluarga Huttama." Ucap Tuan Pras membujuk keponakannya, berharap mau kembali lagi ke rumah.
"Paman, sebelumnya aku minta maaf. Bukannya aku tidak mau kembali pulang ke rumah utama, hanya saja aku tidak ingin menambah masalah besar kedepannya." Jawab Gane sebaik mungkin dihadapan Pamannya.
"Tidak, Nak. Percayalah sama Paman, tidak ada masalah besar apapun dari kamu. Perusahaan juga sangat membutuhkan mu, bahkan banyak karyawan yang mengundurkan diri dari Perusahaan." Kata Tuan Pras memohon.
"Aku benar-benar tidak bisa, aku lebih nyaman yang seperti saat ini. Ada yang bisa aku makan maka aku akan menikmatinya, jika tidak ada yang bisa untuk dimakan, maka aku akan bekerja keras lagi." Jawab Gane yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Nak, jika kamu tidak bisa pulang ke rumah utama, setidaknya kamu mau kembali ke Perusahaan. Kamu pasti akan segera punya anak, dan tentunya sangat membutuhkan masa depan." Ucap Tuan Pras yang terus membujuk keponakannya untuk kembali ke Perusahaan maupun pulang ke rumah utama.
Gane yang terus mendapatkan bujukan dari sang Paman, sejenak ia menoleh pada siang istri. Pandangannya begitu serius, terlihat jelas jika dirinya meminta pendapat dari sang istri.
"Bagaimana sayang, apakah kamu mengizinkan suami mu ini kembali ke Perusahaan? aku menunggu pendapatmu." Tanya Gane pada sang istri dengan panggilan sayang. Sontak saja, Nanney merasa geli dengan sebutan yang aneh itu, pikirnya.
Nanney terus berpikir, jawaban apa yang harus ia berikan pada sang suami.
'Kenapa juga mesti bertanya padaku, mana panggil sayang, lagi. Dih, benar-benar ini orang.' Batin Nanney sambil berpikir untuk memberi jawaban yang pas untuk suaminya.
"Aku tida memaksa mu untuk menolak ataupun menerima, keputusan tetap ada padamu. Karena aku percaya, setiap anak mempunyai keberhasilan sendiri dari orang tuanya maupun dari anak itu sendiri. Jadi, kamu tidak perlu khawatir untuk soal kelaparan." Jawab Nanney dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
"Maaf Paman, Tante, bukan niatku untuk memprovokasi suamiku. Tetapi aku hanya meneguhkan hatinya saja, tidak lebih." Kata Nanney sedikit ngeri jika Tuan Pras dan Bunda Sere akan membenci dirinya, pikir Nanney dengan kecemasan nya.
"Tidak apa-apa, ucapan mu tidak salah. Paman juga tidak memaksa Gane untuk tetap kembali ke Perusahaan maupun ke rumah utama, Paman hanya mengajak dan membujuk saja. Jika suami kamu menolak, itu hak nya." Ucap Tuan Pras yang akhirnya menyerah juga, Gane tersenyum lega.
"Maaf ya, Paman dan Tante. Aku percaya, bahwa David pasti bisa untuk memimpin Perusahaan. Karena keuletan nya, dia pasti berhasil." Ucap Gane sebaik mungkin, berharap Pamannya akan menerima keputusan darinya.
"Ya, semoga saja David bisa menjadi seperti mu, menjadi seorang pekerja keras dan sukses." Kata Tuan Pras.
"Paman harus percaya dengan anak Paman sendiri, karena sejatinya doa dan arahan dari orang tua yang baik akan menghasilkan yang baik juga."
"Ya, yang dikatakan kamu sangat benar. Ya sudah kalau begitu, Paman harus pamit pulang. Hari ini Paman ada penerbangan ke Perancis, jadi tidak bisa lama-lama berkunjung di rumah kamu."
"Tidak apa-apa Paman, sudah mau datang ke rumah saja aku sudah senang. Hati-hati di perjalanan, Paman. Semoga selamat sampai tujuan, Paman dan Tante."
"Ya, terimakasih banyak. Paman doakan juga untumu, semoga kamu sukses kembali." Ucap Tuan Pras, Gane mengangguk pelan. Tuan Pras dan Bunda Sere segera bangkit dari posisi duduknya, dan diikuti Gane maupun sang istri.
Setelah berpamitan, Tuan Pras dan sang istri segera pulang.
"Hem, kenapa?"
"Kenapa Kak Gane menolak ajakan Paman untuk pulang ke rumah utama? dan satu lagi, kembali kerja di Perusahaan."
Gane menghentikan langka kakinya dan menatap lekat wajah sang istri.
"Aku sudah punya pekerjaan sendiri, kau mengerti?"
"Aku sudah mengerti, tapi aku belum mengetahui pekerjaan Kakak itu apa."
"Yang jelas pekerjaan ku itu dapat menghasilkan uang. Ah sudahlah, jangan banyak tanya. Perutku sudah lapar, siapkan sarapan pagi untukku."
__ADS_1
Tanpa merespon sang suami, Nanney langsung menuju dapur.
"Yah ... sup nya jadi dingin." Gumamnya dan memanaskan kembali sup nya. Sedangkan Gane sudah duduk di kursi sambil menunggu sang istri.
Tidak ada suara apapun di antara keduanya, yang ada hanya sama diamnya. Bahkan saat melayani sang suami, Nanney tetap tidak berucap sepatah katapun.
Gane yang sedari tadi memperhatikan sang istri, ia merasa heran dengan sikapnya.
"Kau kenapa? kenapa kau terlihat lesu seperti itu? kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Gane yang akhirnya membuka suara. Nanney segera mendongak dan menatap suaminya.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak bersemangat saja, entahlah." Jawab Nanney dengan lesu.
"Apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Gane penasaran.
"Aku hanya ingin pulang Kampung, itu saja. Entah kenapa, aku ingin sekali pulang. Aku merasa bahwa Nenek sangat merindukan ku. Sejak aku meninggalkan Kampung halaman, aku jarang sekali bertemu dengan Nenek." Jawab Nanney tidak bersemangat.
"Sejak kapan kamu meninggalkan Kampung halaman mu?" tanya Gane ingin tahu.
"Sejak usiaku 12 tahun." Jawab Nanney dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Kenapa hanya ada Nenek, dimana kedua orang tuamu?" tanya Gane yang terus bertanya.
"Kedua orang tuaku? aku sudah tidak mempunyai kedua orang tua. Sejak usiaku 12 tahun, aku ikut Paman dan Tanteku. Saat selesai mengenyam pendidikan, Paman dan Tanteku meninggalkan aku untuk selama lamanya. Terus aku mendaftarkan diri untuk bekerja, saat itu juga aku mengenal Regar." Jawabnya panjang lebar, tentunya ia kembali teringat kenangan manis bersama suaminya yang dulu.
Nanney yang merasakan sesak di dadanya, ia menahan untuk tidak menangis. Sejenak ia menunduk, takut jika air matanya akan jatuh membasahi kedua pipinya.
Gane yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh sang istri, ia pindah posisi untuk mendekati istrinya serta duduk di sebelahnya. Kemudian, Gane merangkul dan mengusap lengan milik sang istri.
"Menangis lah jika kamu ingin menangis, mungkin dengan cara menangis, beban mu sedikit berkurang." Ucap Gane mencoba untuk memenangkan pikiran penat istrinya.
__ADS_1
"Aku akan usahakan untuk mengantarkan pulang ke Kampung halaman mu, tapi aku tidak berjanji dalam waktu dekat ini." Ucapnya lagi.
'Gane sadarlah, perempuan yang ada dihadapan mu itu adalah penyebab perginya adik laki-laki mu itu.' Batin Gane yang tengah gundah dengan awal tujuannya menikahi adik iparnya sendiri.