
Tidak cuman Regar saja yang terkejut saat mendengar pengakuan dari Nanney, tetapi juga suaminya sendiri. Bahkan, semua yang ada di ruang makan terkejut mendengarkannya.
Regar yang masih belum percaya, ia menoleh pada sang Kakak.
Gane sendiri segera bangkit dari posisinya untuk mendekati adik dan istrinya. Begitu juga dengan Ciko dan Doin berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu pada kedua majikannya itu.
Tidak hanya Gane yang bangkit dari posisinya, Regar dan Nanney pun ikut berdiri.
Nanney yang tersadar dengan pengakuannya sendiri, benar-benar diluar kesadarannya. Tidak lupa untuk menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya seraya menyesalinya ketika berterus terang bukan pada tempatnya.
Regar yang mulai dikuasai emosinya, napasnya saja memburu dan terasa panas. Bahkan, perasaan dongkol yang tengah dirasakannya saat ini.
Saat Gane sudah berada di dekatnya, Regar tengah menata kalimatnya untuk membuka suara. Sedangkan yang lainnya memilih untuk diam serta melihat dan ingin mengetahui tentang keputusan dari Regar sendiri.
Saat itu juga, bukannya marah atau bagaimana, justru Regar tertawa lepas saat sang kakak dan Nanney tengah berdiri didekatnya.
"Tidak lucu, tau. Percuma saja kalian berdua bersandiwara di hadapanku, karena aku tidak akan pernah mempercayainya. Apa lagi kamu, dan Kak Gane. Sangat terlihat jelas jika kalian berdua ini jago bermain drama, karena Kak Ciko lah dalang dari semua ini." Ucap Regar yang tetap pada pendiriannya.
Gane sendiri merasa tersayat hatinya saat sang adik tidak mau mempercayainya, justru menganggap pengakuan dari istrinya itu hanyalah sebuah lelucon saja.
Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi, Gane sendiri masih bingung untuk meyakinkan adiknya agar percaya atas ucapan istrinya itu.
Karena tidak ingin masalah terus berlanjut, Gane tetap angkat bicara untuk berterus terang. Apapun yang terjadi, akan berkata jujur. Soal emosi, itu sudah pasti akan muncul dari sosok. Regar, pikirnya yang sudah bulat dengan keputusannya sendiri.
Setengah menunduk, Gane menepuk punggungnya. Kemudian menarik napasnya dalam, dan membuangnya dengan kasar.
__ADS_1
"Maafkan Kakak, Regar. Maafkan atas segala kesalahan yang sudah mengecewakan kamu. Yang dikatakan Nanney semuanya itu benar adanya, tidak ada kebohongan apapun dariku maupun Nanney atas kebenaran yang sudah diucapkannya padamu." Jawab Gane yang pada akhirnya berterus terang atas kebenaran dan juga kejujurannya.
Gane pasrah apa yang akan dilakukan adiknya sendiri, karena kesalahan berawal dari keegoisannya sendiri untuk membalaskan dendamnya.
Seketika, Regar menoleh pada sang kakak dengan tatapan menyelidik.
Bukannya marah atau emosi dan yang lainnya karena sebuah pengakuan dari sang kakak, lagi-lagi Regar kembali tertawa lepas ketika mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya sendiri.
Semua yang ada didalam ruang makan merasa sedih ketika Regar belum juga mempercayainya.
Begitu juga dengan Nanney sendiri, sebisa mungkin untuk menepis pikiran buruknya. Takut, akan menganggu kesehatan janin yang ada dalam kandungannya.
Ciko yang melihatnya, ia segera menarik Regar untuk mengatakannya dengan jujur atas kebenaran. Tentunya mengulang kembali pengakuan dari Nanney maupun Gane suaminya.
"Kak Ciko, apa-apaan sih. Lepaskan tanganku, aku bisa jalan sendiri. Jangan mengerjai ku yang tidak-tidak. Sudahi saja drama kalian, aku sudah mengetahuinya." Ucap Regar sambil mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman seorang Ciko.
Gane meraih tangan istrinya dan menggenggamnya sangat erat, itu pertanda bukti jika Regar balik badan dan mau mempercayainya.
Ketika jarak di antara Regar dan Gane tidak begitu dekat, Ciko memberanikan diri untuk memberi penjelasan kepada Regar atas semua kebenaran yang ada.
"Maaf, Tuan. Jika saya diperbolehkan untuk bercerita, saya akan melanjutkan ceritanya." Ucap Ciko berusaha untuk tetap tenang dan juga santai, meski sebenarnya di penuhi dengan perasaan takut dan juga cemas.
"Maafkan saya, Tuan. Jika ucapan saya nanti kedengaran sangat lancang. Saya hanya ingin memperjelas apa yang diucapkan oleh Nona Nanney dan Bos Gane." Ucapnya lagi.
Regar yang sudah tidak sabar, hanya mengangguk pertanda mengiyakan.
__ADS_1
Dengan perasaan takut dan cemas, pelan-pelan menarik napasnya dalam dan membuangnya kasar. Kemudian, Ciko mengusap wajahnya dengan pikirannya yang tidak karuan.
"Tuan, yang dikatakan Nona Nanney itu benar ucapannya tanpa rekaya maupun drama lainnya. Bos Gane memang benar suaminya Nona Nanney setelah lewat empat puluh hari Tuan Regar tidak ditemukan. Pernikahannya berawal ajang balas dendam karena Nona Nanney dianggap pembawa sial." Ucap Ciko dengan jujur, sejenak untuk diam.
Karena tidak mendapatkan respon dari Regar, Ciko kembali melanjutkan omongannya dengan sangat detail. Tidak ada satu kalimat yang tertinggal, semua begitu jelas untuk ditangkap ucapan dari Ciko ketika menjelaskan semuanya.
Sedangkan Regar yang mendengarkannya pun, sungguh tidak menyangka jika kakaknya sendiri berani berbuat semaunya. Kedua tangannya pun mengepal kuat dan dengan rahangnya yang tiba-tiba mendadak mengeras. Bahkan, sorot matanya terlihat begitu tajam setajam mata elang yang siap untuk menangkap mangsanya.
Napas yang tiba-tiba terasa sesak, kini berubah menjadi sangat panas beserta amarah yang terkumpul menjadi satu.
Saat itu juga, Regar membalikkan badannya, Dilihatnya Gane dan Nanney tengah berpegangan tangan. Apa yang diucapkan dari mulut Nanney bener adanya, bahwa keduanya sudah menjadi suami istri seperti yang dikatakan oleh Ciko.
Dengan amarahnya yang memuncak dan sudah tidak dapat untuk dikendalikan lagi, Regar berjalan dengan kedua tangannya mengepal kuat, seraya ingin melayangkan tinjuan kepada sang kakak.
Henny yang melihat suaminya tengah dikuasai emosi, cepat-cepat untuk mendekati agar tidak menyakiti suami kakaknya. Begitu juga dengan Nanney yang merasa takut jika terjadi sesuatu pada suaminya sendiri.
Gane memilih untuk pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Regar, adiknya. Merasa bersalah besar, lebih memilih memberi kesempatan kepada untuk melampiaskan segala kekesalannya serta emosinya.
"Kak, pergilah. Aku takut, jika suami adikku akan melukai Kakak." Usir Nanney yang merasa takut jika terjadi hal buruk pada suaminya.
"Tidak, biarkan Regar meluapkan segala emosinya padaku. Karena ini murni kesalahanku, biarkan untuk melakukan apapun terhadap ku. Kamu tidak perlu takut, aku akan baik-baik saja.
Jarak yang sudah dekat antara adik dan kakak, keduanya saling menatap satu sama lainnya. Kakak yang dianggapnya sebagai pengganti orang tua, justru sekarang ini menjadi musuh asmara dalam selimut.
Regar menelan ludahnya dengan kasar, dirinya masih dikuasai segala emosinya. Sedangkan Gane memilih untuk tetap tenang, walau ada rasa takut. Tapi, sebisa mungkin Gane mampu untuk menyelesaikan masalah yang sudah ia buat di selesaikan dengan baik.
__ADS_1
Regar menatap kakaknya dengan penuh kebencian, bahkan ingin rasanya menghabisinya.