Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa kehilangan


__ADS_3

Ciko terperanjat dari tempat duduknya saat melihat Gane melemparkan piringnya.


"Bos! sadar, Bos! apa yang Bos Gane lakukan?" Ciko yang begitu khawatir, ia langsung memegangi kedua pundak milik Gane. Sedangkan Gane segera melepaskan tangan milik Ciko, kemudian ia langsung berdiri dan menyingkirkan kursi yang dijadikan tempat duduknya.


"Aaaaaa!" teriak Gane sangat kencang. Gane tidak lupa mengepalkan kedua tangannya dan ia pukul kan di atas meja makan, Ciko dan Vandu masih dibuatnya bingung atas apa yang terjadi pada diri Gane.


"Kak Gane," panggil Vandu dengan reflek. Sedangkan Ciko sendiri segera memberi isyarat kepada Vandu untuk diam dengan cara menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya, Vandu pun mengiyakan.


Ciko yang tidak ingin melihat Bos nya bertambah emosi, segera ia meminta kepada Vandu untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf, bila Tuan Muda berkenan, silahkan untuk keluar dari ruangan ini." Pinta Ciko sambil mengatupkan kedua tangannya seraya meminta Vandu untuk segera keluar.


"Baik kalau begitu, aku titip kak Gane sama kamu. Karena yang aku tahu kak Gane sangat dekat dengan mu." Kata Vandu, sedangkan Ciko hanya mengangguk.


Karena tidak ingin masalah bertambah runyam jika Gane sudah berada pada titik emosinya Vandu memilih untuk segera keluar meninggal saudara sepupunya itu.


Ciko yang tidak ingin Bosnya terganggu, ia menutup pintu dan juga menguncinya.


Gane yang sedang dikuasai emosinya, sebisa mungkin untuk mengatur pernapasan nya agar tidak semakin terasa sesak. Ciko sendiri sudah berada di dekat Bosnya.


"Bos, minumlah." Ucap Ciko sambil menyodorkan satu gelas air putih pada Gane.


"Aku tidak haus, letakkan saja minumannya." Kata Gane menolak, sedangkan Ciko tetap menyodorkan minumannya pada Gane.

__ADS_1


"Minumlah, ini hanya air putih saja. Tenanglah, tidak ada racun apapun pada minimum ini." Ucap Ciko yang tidak pernah bosan ketika Gane selalu menolak saran darinya.


"Aku tidak haus, apakah kamu tuli? ha! letakkan minumannya sekarang juga."


"Apa salahnya untuk minum, Bos. Jugaan tidak akan mengurangi kecerdasan kamu, Bos Gane." Ucap Ciko yang tidak sedikit pun takut pada Gane saat tengah meluapkan emosinya.


"Tangan kamu luka itu, Bos. Mau sampai kapan seorang Bos Gane hanya mengandalkan emosinya? ha."


Gane masih diam, kedua tangannya masih dengan posisinya. Badan yang sedikit membusung, kedua tangannya masih mengepal kuat dan tidak peduli jika kedua tangannya tengah terluka akibat ulahnya sendiri.


Ciko yang tidak mempunyai cara lain, akhirnya ia memilih untuk menarik kursi yang ada di dekatnya.


"Bos, silahkan duduk." Ucap Ciko sambil menggeser kursinya, Gane akhirnya nurut dan duduk bersebelahan dengan Ciko.


"Minumlah, walau hanya seteguk saja." Ucap Ciko, sedangkan Gane yang sudah bosan saat Ciko terus membujuknya, akhirnya mau tidak mau Gane menghabiskan minumannya hingga tandas dan tidak tersisa. Ciko yang merasa usahanya berhasil dan tidak sia-sia, akhirnya senyum nya berubah mengembang.


"Bos Gane," panggil Ciko mencoba untuk memastikan tingkat emosi Bosnya.


Gane segera menoleh ke samping, tepatnya pada Ciko. "Tidak apa-apa, hanya memanggil." Kata Ciko setelah Bos nya menoleh pada dirinya, Gane langsung menatap tajam pada Ciko.


"Bukan niat untuk mengerjai, takutnya Bos Gane akan terhanyut dalam lamunan." Kata Ciko lagi, tidak lupa untuk memberi sedikit senyuman tipis kepada Bosnya.


Bukan untuk melupakan kesedihan, Ciko hanya tidak ingin jika Bosnya akan semakin dalam ikut terhanyut dalam kesedihannya itu. Yang mana dirinya tengah mendapatkan musibah pada diri saudara laki lakinya yang belum juga ditemukan keberadaannya. Jadi, sebisa mungkin Ciko dapat menghalangi Bosnya agar tidak melakukan sesuatu hal buruk diluar dugaannya.

__ADS_1


"Hem, gitu ya."


"Ya, Bos. Kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika takdir sudah ditentukan. Aku yakin jika Bos Gane mampu untuk melewatinya, Bos Gane orang kuat dan juga sabar." Kata Ciko mencoba untuk menguatkan hati Bosnya yang tengah dirundung kesedihan yang cukup menyayat hatinya.


"Sakitnya dikhianati, masih lebih sakit lagi ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan yang kita miliki." Ucap Gane, Ciko menepuk punggung milik Bosnya.


"Cukuplah doa untuk menjadikan kekuatan, Bos." Kata Ciko, sedangkan Gane hanya mengangguk. Entah setuju atau tidaknya atas ucapan dari Ciko, Gane hanya mengiyakan untuk memberi jawaban pada Ciko.


'Kasihan sekali nasib kamu, Bos. Aku benar benar tidak tega melihat Bos Gane yang harus kehilangan adik kesayangannya setelah kehilangan kedua orang tuanya.' Batin Ciko saat memperhatikan Bosnya.


"Tidak usah menatap ku seperti itu juga kali, Cik." Kata Gane yang kini balik membuyarkan lamunannya Ciko.


"Habisnya Bos Gane itu aneh, bukannya berdoa dan berusaha untuk keselamatan Tuan Regar, eh pakai emosi segala. Mana makanan disangka darah, lagi. Sebenarnya yang ada dalam pikirannya Bos Gane itu apa sih? ha."


"Aku kembali teringat dengan insiden kapal yang dulu pernah tenggelam, Cik. Kapal yang pernah kita naiki bersama saat kita hendak berlibur di pulau terpencil itu, dan rupanya itu musibah yang sangat menyakitkan untukku. Aku harus kehilangan kedua orang tuaku, dan kini aku sendiri tidak tahu dengan nasib adikku sendiri." Jawab Gane sambil menceritakan masa lalunya yang sudah cukup lama, yakni dimasa kecilnya.


"Tidak hanya kamu saja yang kehilangan kedua orang tua, Bos. Bahkan aku pun tidak hanya kehilangan kedua orang tuaku, tapi ikut kehilangan adik perempuan ku. Tapi aku bisa apa? aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima takdir, Bos." Ucap Ciko yang juga merasa kehilangan orang yang disayanginya.


Gane tertunduk lemas saat apa yang ia curahkan pada Ciko, dan rupanya tidak ada perbedaan apapun antara dirinya dengan Ciko sahabat kecilnya. Meski keduanya memiliki perbedaan, tetapi tidak membuat Gane enggan untuk berteman dengan Ciko. Bahkan keduanya sudah seperti saudara kandung sendiri.


Ayah Ciko menjadi orang kepercayaan keluarga Huttama sejak Beliau masih muda, bahkan sesudah menikah hingga memeliki putra dan putri pun masih menjadi orang kepercayaannya kedua orang tua Gane. Tidak hanya itu saja, Beliau sendiri sudah dianggapnya bagian keluarga Huttama. Naas, saat kebahagiaan dan keharmonisan benar benar terjaga dengan baik, tiba-tiba musibah besar tengah merenggut kedua orang tua Gane dan Ciko bersamaan saat akan berlibur di pulau terpencil. Dan kini insiden itu pun terulang kembali pada Regar Huttama, yang tidak lain adik dari Gane.


Gane dan Ciko sama sama sibuk dengan pikirannya masing-masing, tidak terasa juga sudah memakan waktu yang cukup lama di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2