Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mengobati kerinduan


__ADS_3

Gane yang tidak tahu harus berkata apa, dirinya sendiri merasa bingung apa yang harus dilakukannya. Tidak hanya itu saja, Gane masih dilema untuk mengungkapkan kebenarannya pada sang adik.


Sejenak dirinya mencoba untuk berpikir, berusaha untuk mencari jalan keluarnya.


Penyesalan memang ada, tapi tidak untuk menghukum diri sendiri.


Sambil memikirkan sesuatu, Gane tertunduk sedih dengan posisi duduknya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Seakan dunianya begitu terasa gelap dan sulit untuk menyempurnakan pandangannya.


Rasa penat yang menguasai pikirannya, Gane mengusap wajahnya yang terlihat kusut itu. Kemudian, dengan pelan menarik napasnya dalam dan membuangnya dengan kasar. Berharap, masalah akan segera terselesaikan tanpa harus mengulur waktu.


Doin yang sedari tadi memperhatikan Tuannya terlihat gelisah. Dengan tekadnya, Doin langsung membuka suara untuk memanasi Gane.


"Tuan, mau tunggu apa lagi coba. Sudah buruan ketuk pintunya, kasihan Nona Nanney yang tidur sendirian di kamar." Ucap Doin yang tak pernah puas untuk menggoda Gane. Tentu saja membuat api kompor agar meletup-meletup api cintanya, pikir Doin dengan segala kekonyolan nya itu.


"Aw!" pekik Doin kembali merasa nyeri saat telinganya dijewer oleh Ciko.


"Bisa diam atau tidak ini mulut ember mu, kasihan Bos Gane yang sedari tadi itu merasa dilema. Biarkan Bos Gane menenangkan pikirannya sejenak, Bro."


"Ya maaf, aku hanya tidak tega aja melihatnya tertunduk sedih begitu, Cik. Setidaknya Tuan Gane bisa mengobati rasa rindunya itu sama istrinya, Bro."


"Tapi bukan seperti itu caranya, In. Kita bisa membujuknya dengan pelan dan juga dengan cara yang baik-baik." Ucap Ciko memberi penjelasan kepada Doin.


"Hem, ya ya ya." Jawab Doin sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Sedangkan Gane yang tidak mau ambil pusing, secepatnya ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju kamar milik istrinya. Ciko dan Doin hanya menatapnya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh sepasang matanya ketika mendapati pada diri Bosnya yang tengah berjalan menuju salah satu pintu kamar, tentu saja kamar milik istrinya sendiri.


Dengan berani, Gane mengetuk pintunya dengan pelan. Takut, suara ketukan pintu akan didengar oleh adiknya sendiri ataupun oleh Nenek Aruma dan Henny.


Nanney yang tidak bisa tidur dan hanya bersandar di tempat tidurnya dengan posisi kaki yang diluruskan sambil memeluk guling. Saat itu juga, dirinya tengah dikagetkan dengan suara ketukan pintu kamarnya.

__ADS_1


Untuk menghindari sesuatu yang tidak-tidak, Nanney memilih untuk diam dan tidak meresponnya karena ada sedikit rasa takut tentunya.


Tetap saja, suara ketukan pintu terus memaksakan dirinya untuk membuka pintu.


Karena takut jika sebenarnya Regar lah yang mengetuk pintunya, Nanney memilih untuk tetap diam dan tidak menghiraukannya.


Gane yang tidak mengenal dengan kata menyerah, dirinya terus mengetuk nya hingga pintu pun terbuka dari dalam kamar, pikirnya.


Dan benar saja, pintu pun terbuka dari dalam kamar istrinya. Nanney yang melihat sosok suaminya yang sudah berada di hadapannya itu, detak jantungnya saja terasa sulit untuk dikontrol karena gugup ketika sang suami dengan nekad mengetuk pintu kamarnya dengan berani.


Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Gane langsung masuk kedalam kamar milik istrinya sendiri dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Dengan pelan, Gane mendorong tubuh istrinya hingga berhenti tepat pada tempat tidurnya.


"Kak Gane mau ngapain? kalau kita ketahuan berada dalam satu kamar, bagaimana?" tanya Nanney dengan gugup dan juga takut tentunya. Pasalnya, sudah lama tidak pernah mendapatkan sent*uhan dari suaminya sendiri selama perpisahan.


Bahkan, belaian lembut dari suaminya saja tidak ia dapatkan sama sekali selama suaminya berada dibalik jeruji besi karena keadaan yang sudah memisahkan keduanya.


Naas, saat mulai dekat, mereka berdua harus terpisah karena waktu dan keadaan.


"Aku ingin tidur bersamamu dan juga memelukmu. Tidak hanya itu saja, aku sangat menginginkan kehangatan bersamamu seperti waktu yang sudah kita lewati bersama." Jawab Gane berterus terang tanpa bermain drama apapun di hadapan istrinya.


Dengan pelan, Gane mendekatkan wajahnya pada wajah milik istrinya.


"Tat-tap-tapi ..." ucap Nanney terbata-bata.


Belum juga mengucapkan sesuatu, Gane langsung membungkam mulut istrinya dengan bibirnya sendiri.


Nanney sungguh terkejut dengan perbuatan nekad dari suaminya itu.


Tidak hanya sampai disitu saja, Gane menikmatinya. Sedangkan Nanney yang tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya hanya bisa mengikuti apa yang dilakukan suaminya.

__ADS_1


Akal sehatnya mengalahkan sesuatu yang memburu, sesuatu yang sangat dibutuhkan sebab kerinduannya. Tak dapat dipungkiri, Gane lelaki normal yang mana dirinya pun pernah melakukannya tidak hanya satu kali maupun dua kali dengan istrinya.


Setelah merasa cukup, Gane melepaskan ciu*mannya. Lalu, ia menatap wajah istrinya dan mencium keningnya.


"Tenang, aku tidak akan melakukannya sekarang. Aku hanya ingin memelukmu dan menyapa calon anak kita, kamu tidak perlu khawatir." Ucap Gane sambil menatap istrinya.


"Aku hanya takut saja, jika kita ketahuan dalam keadaan yang belum siap." Jawab Nanney dengan cemas.


Gane tersenyum, kemudian diraihnya tangan sang istri dan diletakkannya di bagian dada bidangnya.


"Aku sudah siap dengan segala resikonya, aku tidak takut dengan apapun yang akan terjadi. Hanya satu, kamu akan tetap bersamaku, itu akan memperkuat hubungan kita ini." Ucap Gane meyakinkan istrinya.


Bagaimana Gane mau melepaskan istrinya, yang jelas-jelas istrinya itu adalah perempuan yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun lamanya.


Ditambah lagi, Nanney tengah mengandung darah dagingnya. Tentunya, Gane semakin sulit dan tidak akan pernah melepaskannya.


Nanney yang juga tidak ingin terjadi sesuatu pada nasib calon anaknya dikemudian hari nanti, sebisa mungkin untuk tidak bermain dengan egonya.


Nanney mengangguk pelan, pertanda mengikuti apa kata suaminya. Gane yang sudah tidak sabar, langsung memeluk istrinya sebagai penebus kerinduannya selama ini.


"Aku berjanji, aku akan merubah sikap buruk ku padamu selama ini. Sebisa mungkin untuk tidak mengecewakan mu." Ucap Gane sambil memeluk istrinya.


"Aku tidak membutuhkan pengucapan ataupun pengakuan, yang aku inginkan hanyalah sebuah bukti, itu saja." Jawab Nanney dalam posisi ikut memeluk suaminya.


Tidak dapat dipungkiri juga, jika Nanney sama halnya merindukan suaminya. Meski sering mendapatkan bentakan dan hinaan, sedikitpun Nanney tidak memasukkannya kedalam hati.


Bagi Nanney, segala perbuatan ada sebab dan akibatnya. Apabila tidak berlanjut dengan serius luka maupun kondisi jiwanya, bagi Nanney tidak perlu untuk membalasnya.


Bukan berarti lemah, tetapi tidak akan ada untungnya jika membalasnya dengan hal yang sama maupun serupa. Bukankah akan terlihat sama buruknya jika dirinya ikut membalasnya, begitulah pikir Nanney setelah menimbang segalanya sejak menjalani hubungan sebuah pernikahan dengan suami keduanya yang terbilang hanya sebuah balas dendam.

__ADS_1


__ADS_2