Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Terungkap kebenarannya


__ADS_3

Ciko segera melepaskan pelukannya. Kemudian menyodorkan tissue kepada seorang kepada Beliau.


"Bapak sudah mengingat saya?"


"Ya, Bapak sudah mengingatmu. Bapak malu bertemu denganmu, sangat malu." Ucap Beliau, Ciko masih menatap wajah yang tidak lagi muda. Tentunya, usia yang tidak jauh dari orang tuanya maupun orang tua Gane.


"Kenapa Bapak menjadi seperti ini? siapa orangnya yang sudah membuat Bapak sengsara? saya mohon, ceritakan dengan sedetail mungkin. Saya sangat membutuhkan kebenarannya dari Bapak." Ucap Ciko memohon.


Sebelum Beliau menceritakan sesuatu padanya, Ciko menyodorkan air minum.


"Silakan minum dulu, Pak." Ucap Ciko berusaha untuk ramah.


"Terimakasih Nak, kebaikan kamu tidak pernah berubah dari dulu. Kalau boleh tahu, bagaimana keadaan Nak Regar dan Nak Gane? Bapak sangat merindukannya."


"Tuan Regar sudah nyatakan meninggal, Pak."


"Apa! meninggal? kamu jangan bohongi Bapak, Nak."


"Saya tidak berbohong, saya mengatakan kebenarannya. Tuan Regar mengalami kecelakaan pada kapal saat mau berbulan madu ke Pulau terpencil, Pak. Sampai sekarang saja, tak ada kabar apapun mengenai jasadnya."


Beliau yang mendengar penjelasan dari Ciko, hatinya terasa terenyuh ketika mendapatkan kabar yang sangat buruk.


"Kalau Nak Gane, bagaimana kabarnya? kamu jangan bilang, nasib yang sama seperti orang tuanya."


"Tidak, Pak. Bos Gane masih hidup. Hanya saja, sekarang sedang menjalani masa tahanannya."


"Apa! jadi, Nak Gane di penjara maksud kamu?"

__ADS_1


"Ya Pak Elyam, ya. Kami sedang melakukan penyelidikan, tapi sangat sulit untuk mendapatkan titik temu. Karena saya yakin, titik temunya itu ada sama Bapak."


Dengan tubuh yang gemetaran, Pak Elyam seakan kehilangan keseimbangannya walau hanya dengan posisi duduk sekalipun.


"Bed*ebah! Kau Prasetyo." Umpat Pak Elyam dengan segala emosinya.


Saat itu juga, Ciko benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Justru yang menjadi sasarannya rupanya salah besar.


"Tuan Prasetyo?" tanya Ciko yang masih tidak percaya.


"Benar sekali, Prasetyo lah dalang dari segala dalang. Kamu pasti mengira, Tuan Hardika yang menjadi dalangnya, bukan?"


"Ya, Pak. Karena Tuan Hardika yang paling cuek dan tidak peduli dengan Bos Gane. Begitu juga dengan putranya yang bernama Vandu. Bahkan, saya dan anak buah saya tengah menyelidiki Tuan Hardika yang kami targetkan menjadi tersangka."


"Nak Gane masuk penjara, itu sudah jelas dari perbuatan Tuan Prasetyo. Dari dulu dirinya sudah mengincar harta dari keluarga Huttama."


"Benar, adikku Willi yang tergoda dengan iming-iming segala pendapatan tanpa memikirkan akibatnya." Kata Pak Elyam yang terus menceritakan atas kebenarannya.


"Apakah Tuan Huttama adalah anak asuh?" tanya Ciko dengan rasa penasarannya sejak mendengar penuturan dari Gane.


"Bukan, penerus dari keluarga Huttama adalah Tuan Riko, ayah dari Nak Gane dan Nak Regar. Sedangkan Tuan Hardika adalah keponakan yang dijadikan anak dari keluarga Huttama. Sedangkan Tuan Prasetyo adalah yang sebenarnya anak asuh diambil dari Panti asuhan." Jawab Pak Elyam kembali meneruskan ceritanya.


Ciko merasa sedikit lega ketika mendengar penjelasan dari Pak Elyam. Sedikit demi sedikit, kebenaran mulai terungkap.


"Lalu, bagaimana caranya kita untuk menangkap Tuan Prasetyo?"


Ciko yang kehabisan cara, ia sendiri merasa bingung untuk menangkap pelaku nya.

__ADS_1


"Apakah kamu dan Nak Gane ada sebuah bukti?"


Ciko menggelengkan kepalanya pelan. Bukti, dirinya sendiri belum membicarakan nya pada Bosnya.


"Aku yang akan menjadi buktinya. Berkas yang asli masih ada pada Bapak, kamu jangan khawatir. Bahkan rekaman yang sudah aku kumpulkan, masih Bapak simpan dengan baik." Ucap Pak Elyam meyakinkan Ciko.


"Meski bukti ada sama Bapak. Tetap saja, nyawa Bapak sekarang ini terancam. Aku sendiri selalu berjaga-jaga untuk menghindari orang yang menjadi mata-mata."


"Kamu tidak perlu takut, karena Bapak sudah menyerahkannya semua bukti kepada polisi saat keluar dari tempat penyekapan."


"Bapak serius?"


"Ya, Bapak Serius. Bapak mempunyai teman yang sangat dipercaya. Jika Bapak terbunuh, setidaknya Bukti itu akan berbicara sendiri. Karena Bapak Yakin, kalian berempat masih hidup." Ucap Pak Elyam yang seakan mengetahuinya.


"Maksud Bapak? Tuan Regar masih hidup? jangankan hidup, jasadnya saja tidak ditemukan."


Lagi-lagi Ciko seakan mendengar kalimat omong kosong yang dijadikan penyemangat untuk dirinya.


"Adikmu, Bapak yang menyelamatkan nya, dia berada di Pulau bersebelahan yang banyak penduduknya. Bapak menitipkannya pada sepasang suami-istri, sepertinya nelayan."


Ciko semakin yakin dengan sosok yang menjadi istri Bosnya.


"Kenapa kamu diam? apakah kamu merindukan nya? carilah orang itu, yang perempuan bernama Aruma, suaminya bernama Dulangga.


Seketika, Ciko benar-benar terkejut mendengarkan nya. Tidak salah lagi, perempuan yang menjadi istri Bosnya adalah adik perempuan nya. Ditambah lagi dengan bukti gelang, Ciko semakin yakin untuk menduganya.


"Jadi, Bapak sempat menyelamatkan adikku?"

__ADS_1


"Ya, Bapak dapat menyelamatkannya. Dan karena Bapak masih hidup, disitulah Bapak diasingkan di luar Negri dan Bapak sempat kabur." Jawab Pak Elyam menceritakan begitu detail.


__ADS_2