
Setelah menunggu cukup lama dalam antrian mengambil nomor. Akhirnya untuk semua peserta untuk lomba renang, kini tengah menunggu gilirannya masing-masing setelah menerima nomor urut undian.
Nanney dan Henny ditemani Nenek Aruma, kini tengah menyaksikan langsung acara lomba lari yang sudah dimulai. Semua yang menonton lomba tersebut, memberinya support untuk yang ikut lomba.
Saat para peserta lomba sudah berbaris dengan rapi, rupanya sosok Danu tengah mencuri perhatian oleh semua perempuan yang ikut menonton. Bahkan, peserta perempuan yang lainnya terkesima saat wajan tampan dan tubuh yang bagus, bagaikan hipnotis.
Tidak hanya perempuan yang lainnya, Henny sendiri merasa kagum dengan suaminya sendiri.
"Nak Henny, ayo maju. Itu loh, suami kamu butuh penyemangat darimu. Bukankah kamu itu istrinya? buruan maju kedepan." Ucap Nenek Aruma.
"Ya, benar. Kamu kan, istrinya. Jadi, kamu harus memberi semangat untuknya." Timpal Nanney ikut memberi saran pada adiknya.
"Tapi Kak, aku malu. Mas Danu saja tidak pernah bersikap hangat padaku, selalu dingin yang ada." Jawab Henny yang merasa ragu.
"Terus, kamu rela gitu. Kalau suami kamu di semangatin oleh perempuan lain, tuh lihat. Bukankah mereka semua mengarahkan pandangannya pada suami kamu? cepat maju ke depan untuk memberinya semangat." Ucap Nanney sambil menunjuk pada perempuan yang tengah memperhatikan suami adiknya.
Henny yang mendapatkan saran dari Nenek Aruma dan Nanney sang kakak, Henny mengangguk dan mengikuti sarannya.
Sedangkan sosok Danu yang tengah berbaris dengan peserta lainnya, pandangannya justru mengarah pada Nanney.
"Aku harus memenangkan demi kamu, Nanney. Aku yakin jika kamu adalah istriku, aku akan memperjuangkannya sampai ingatanku kembali." Gumamnya yang terus mengharapkan apa yang sudah menjadi tujuannya.
Berbeda dengan Gane dan kedua sahabatnya, yakni Ciko dan Doin yang sedang dalam perjalanan menuju Kampung halaman istrinya.
"Cik, masih jauh ya?" tanya Gane sambil mengamati jalanan yang ia lewati.
"Lumayan jauh, Bos. Kita ini belum melewati kebon kopi dan juga persawahan. Jadi, Bos Gane harus menyiapkan kesabaran yang banyak." Jawab Ciko sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Cie ... yang mau bertemu dengan istri tercinta, asik ...." Goda Doin ikut berbicara.
"Diam lah, kamu Doin. Aku pastikan, kamu akan merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini."
"Jangan Tuan, jangan. Aku tak sanggup jika harus berpisah." Kata Doin.
"Makanya, lebih baik kamu diam." Ucap Gane.
__ADS_1
Sedangkan Ciko merasa terganggu mendengar obrolan dari Doin dan Gane, ingin rasanya menutup telinganya agar tidak mendengar obrolan dan bisa memikirkan sesuatu yang harus ditangani saat sampai di Kampung halaman adiknya.
'Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti, bayangan itu terus muncul dalam pikiranku. Semoga saja, setelah pertemuan nanti tidak akan ada konflik selanjutnya.' Batin Ciko yang berusaha untuk terus berpikir mencari cara.
Tidak hanya Ciko saja yang gelisah, rupanya di tempat lain ada yang lebih gelisah lagi.
Nanney mulai khawatir, jika sosok Danu akan kembali ingatannya saat berenang. Karena insiden kecelakaan kapal tidak jauh berbeda dengan berenang, pikirnya. Tentu saja, masalah akan bertambah rumit. Tidak hanya itu saja, ada seorang perempuan yang akan merasa sakit hati karena kebohongan yang sudah ditutupi.
Nanney tidak dapat mengelak, jika suatu saat nanti kebenaran akan terungkap. Ditambah lagi sang suami yang akan datang dalam waktu yang dekat, membuat pikiran Nanney mulai tidak karuan.
Sosok Danu yang sudah siap menunggu gilirannya, berkali-kali menggerakkan badannya agar tidak terasa kaku ketika dirinya terjun ke kolam renang.
Satu persatu, peserta telah berkurang. Kini semua penonton dibuatnya heboh saat nama Danu dipanggil.
Nanney mulai khawatir dan detak jantungnya mulai berdegup sangat kencang. Berbeda dengan Henny, kini dengan terang-terangan menyemangati suaminya.
"Mas Danu, Mas Danu, Mas Danu." Teriak Henny cukup kencang dan dibarengi Nenek Aruma.
Begitu juga dengan penonton perempuan yang lainnya, semua ikut menyemangati Danu. Tapi, tidak untuk Nanney. Justru dirinya hanya diam dengan sejuta ketakutan yang sudah bersemayam dalam benaknya.
"Kamu kenapa melamun, Nak?" tanya Nenek Aruma memergoki.
Nanney yang tersadar dari lamunannya, langsung menoleh pada Nenek Aruma dan berusaha untuk tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nek. Nanney hanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suami Nanney, serius. Oh ya, sudah mau dimulai lagi ya Nek." Jawab Nanney yang selalu beralasan ketika dipergoki saat dirinya tengah melamun.
"Ya, ayo kita maju ke depan. Jangan takut, masih longgar. Ayo ikut Nenek, kita harus menyemangati Danu. Kasihan adik kamu tuh, sendirian didepan." Ajak Nenek Aruma, sedangkan Nanney tidak bisa untuk menolaknya.
Takut, Nenek Aruma akan mencurigai dirinya.
Saat sudah berdiri didepan yang bersebelahan dengan Henny, Nanney bingung untuk ikut menyemangati suami adiknya.
Sosok Danu yang sudah siap untuk ikut lomba berenang, tak lupa melemparkan senyumnya pada Nanney.
Saat itu juga, hitungan mundur akan segera didengar oleh peserta lomba dan para penonton yang lainnya.
__ADS_1
Dengan perasaan cemas, Nanney begitu gusar jika sesuatu yang tidak diinginkannya akan terjadi.
"Tiga, dua, sat--tu!"
Semua peserta sudah terjun ke kolam renang dengan aksinya masing-masing untuk sampai pada titik finish.
Henny yang menyaksikan suaminya langsung, ia terus berteriak untuk menyemangati sangat suami. Begitu juga dengan Nenek Aruma yang ikut menyemangati sosok Danu agar menjadi sang juara.
Sedangkan Nanney sendiri justru berdoa, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Naas, sampai di tengah-tengah kolam renang. Tiba-tiba sosok Danu merasakan sesuatu yang membuat napasnya tak terkendalikan.
Seketika, ketakutan yang pernah dialaminya kini kembali diingatnya. Tentu saja, sebuah insiden yang begitu sangat menakutkan.
Dewan juri maupun yang lainnya berubah menjadi panik saat ada peserta yang kualahan ketika berenang.
Henny maupun Nenek Aruma seketika terkejut saat nomor urut Danu tetap berada di tengah-tengah seperti meminta tolong.
Nanney yang melihatnya, dengan reflek ia menceburkan diri ke kolam renang tanpa ingat jika dirinya tengah hamil.
Semua sangat terkejut ketika melihat aksi Nanney dengan beraninya menceburkan diri ke kolam renang. Tak peduli dengan tanggapan orang lain maupun adiknya dan Nenek Aruma, yang terpenting dirinya dapat menyelamatkan.
Karena takut terjadi sesuatu, salah satu pengurus lomba langsung ikut menyusul Nanney ke kolam renang.
Dengan lihainya, Nanney dapat menyelamatkan suami adiknya dan kini sudah tergeletak dan salah satu orang mencoba untuk mengeluarkan air yang masuk ke tubuh Danu.
Dengan napasnya yang terasa berat, sebisa mungkin untuk mengatur pernapasan nya.
Henny yang berstatus istrinya, masih diam. Saat itu juga, sosok Danu terkejut ketika melihat disekelilingnya. Tentu saja, ia menatap Nanney sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
Apa yang dilihatnya seakan semua berputar, sebisa mungkin untuk mengembalikan kesadarannya. Nanney sendiri masih bingung dengan sekujur badannya yang basah akibat menolong sosok Danu yang terjebak di tengah-tengah kolam renang.
Masih memegangi kepalanya, tentu saja mssih terasa sakit. Dengan seksama dan menatap Nanney begitu lekat, terasa berat ketika bibirnya untuk berucap.
"Sa--sayang." Ucapnya sambil memegangi kepalanya dan langsung memeluk tubuh Nanney yang sama-sama basah kuyup.
__ADS_1