Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Dalam perjalanan menuju Pulau


__ADS_3

Nanney masih terdiam saat menatap pada lautan luas yang mana dirinya telah gagal untuk menyebrang. Ingatan yang masih belum dapat dilupakan, kini ia menginjakkan kembali di tempat yang sama.


Bayangan mendiang suami pertama ikut hadir dalam lamunannya. Dengan pelan, Nanney terus melangkahkan kakinya hingga ditepi Laut. Terus berjalan dan tatapannya lurus kedepan, pikirannya pun ikut kosong.


Gane yang melihat istrinya terus berjalan menuju bibir pantai, ia sangat terkejut dan berlari untuk mengejarnya.


"Nanney! Nanney!" teriak Gane memanggil istrinya.


Nanney sedikitpun tidak menghiraukan dengan suara yang memanggil namanya berkali-kali. Gane Terus berlari dan memanggil istrinya dengan perasaan yang penuh kekhawatiran.


"Apa Kau sudah gila, ha! mau cari mati." Bentak sekaligus mengagetkannya.


Saat itu juga, kesadaran Nanney terkumpul menjadi satu. Kemudian ia tertunduk sedih sambil berjongkok, air matanya pun terus mengalir dan menangis sesenggukan.


Gane yang merasa bersalah karena sudah membentak istrinya, ia ikut berjongkok.


"Ayo, kita berangkat." Ajak Gane yang memang sengaja untuk mengalihkan pembahasan tentang apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.


Gane memegangi kedua lengan istrinya dan mengajaknya untuk berdiri, kemudian memeluknya.


"Kau tidak perlu untuk menangisinya, ayo kita berangkat." Ucap Gane, kemudian ia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata sang istri. Setelah itu, ia menggandeng tangannya.


Karena takut emosi suaminya memuncak, Nanney tetap membiarkan sang suami menggandeng tangannya. Entah dari kesadarannya ataupun sedang tidak sadarkan diri atas sikap sang suami padanya, Nanney tidak melakukan penolakan apapun.


"Ayo, kita naik kapal." Ajak Gane yang masih menggandeng tangan istrinya.


Nanney sejenak terdiam, terasa berat bagi dirinya untuk menginjakkan kaki pada kapal yang akan membawanya ke Pulau terpencil.


"Kamu memikirkan apa lagi? sudahlah, ayo kita naik. Kamu tidak perlu khawatir, kita akan selamat sampai ke Pulau itu." Tanya Gane dan mencoba untuk meyakinkan istrinya.


Gane sendiri pun tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Memikirkan apa lagi kalau bukan insiden kecelakaan yang pernah dialaminya bersama orang yang dicintai.


"Sudahlah, kamu tidak perlu cemas lagi. Percayalah padaku, bahwa kita baik-baik saja dan selamat sampai tujuan." Kata Gane mencoba untuk membujuk isterinya.


Nanney masih diam, dirinya merasa bingung untuk untuk menjawabnya. Tidak cuman rasa takut atas insiden yang sudah dialami bersama suaminya yang pertama, tetapi ada sesuatu yang masih membuatnya ketakutan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya takut akan terulang kembali.


" Kamu tenang saja, kamu tidak perlu takut. Sudahlah, ayo kita naik." Kata Gane dan akhirnya menarik tangan istrinya dan mengajaknya untuk naik kapal.


Dengan detak jantung yang berdegup kencang, Nanney menggenggam tangan suaminya cukup erat karena rasa ketakutan yang belum juga hilang dari ingatannya. Gane yang mengerti apa yang tengah dirasakan oleh istrinya, ia langsung merangkul istrinya dan mengajaknya ke suatu tempat yang menurutnya dapat membuang rasa ketakutan pada sang istri.


"Kita mau kemana?" tanya Nanney dengan perasaan yang masih ketakutan.


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri, kamu akan menikmati pemandangan yang sangat indah." Kata Gane dan membawa istrinya di tempat yang menurutnya sangat cocok untuk istrinya.


"Ayo, kita naik ke atas." Ajak Gane, Nanney mendongak dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Gane.


"Aku takut." Jawab Nanney dan menggigit bibir bawahnya.


"Jangan takut, bukankah kamu itu seorang perempuan yang pemberani? ayo, naiklah."


Gane yang sedari mendengar penolakan dari istrinya, terpaksa ia harus memaksa sang istri untuk naik ke atas.


"Kak, aku takut." Ucap Nanney yang berusaha untuk menolaknya, sedangkan Gane tidak memperdulikannya dan terus memaksa istrinya.


Karena tenaga Gane jauh lebih kuat dari istrinya, Nanney pun akhirnya naik ke atas bersama sang suami.


Betapa terkejutnya setelah sampai di atas, sejenak Nanney terpukai melihatnya. Pemandangan yang benar-benar sangat menakjubkan dan tentunya membuat sepasang matanya terasa segar melihatnya.


"Bagaimana, apakah kamu masih takut?" tanya Gane sambil melihat ke arah Pulau yang akan dituju bersama istrinya. Nanney tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Gane ikut tersenyum, tetapi senyumnya tidak mengarah pada istrinya. Gane tersenyum ke sembarang arah, ia benar-benar merasabkonyol dengan perjalanannya kali ini.


Bagaimana tidak merasa konyol, pernikahan yang dia buat tetapi bukan pada seseorang yang dicintainya. Sesaat, Gane teringat pada gadis kecilnya di masa lalu, kemudian Gane tertunduk.


Tidak hanya mengingat sosok gadis kecilnya itu, tetapi juga bagian keluarganya. Gane kembali mendongak dan mengarahkan pandangannya pada Pulau terpencil itu.

__ADS_1


Meski dengan susah payah untuk melupakan kenangan-kenangan pahitnya, tetap saja akan terus diingatnya.


Nanney yang merasa heran dengan sikap suaminya itu, akhirnya ia mencoba untuk memberanikan diri bertanya.


"Kak, Kak Gane." Panggil Nanney dan menepuk punggung suaminya.


"Kenapa? jangan mengganggu konsentrasi ku, nikmatilah pemandangannya sebelum menjadi kenangan." Kata Gane, kemudian ia kembali pada pandangannya pada Pulau kecil yang tidak jauh dari pandangan.


"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Nanney memberanikan diri untuk bertanya, meski ujung-ujungnya tidak akan mendapatkan jawaban dari suaminya.


"Mau bertanya apa? tanyakan saja jika kamu ingin bertanya."


"Sebenarnya tujuan kita ke Pulau itu, apa Kak? maaf."


"Hanya liburan, itu saja."


"Oh kirain." Kata Nanney dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Gane langsung menoleh pada istrinya dan mengerutkan keningnya, setelah itu ia langsung melepaskan tangan sang istri yang tengah menutupi mulutnya.


"Memangnya apa yang kamu inginkan? hem." Tanya Gane dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, tentu saja Nanney geli sendiri melihatnya.


Nanney tersenyum pasta gigi dan menggelengkan kepalanya. Rasa malu atas pertanyaannya telah membuatnya salah tingkah.


'Nanney, tidak seharusnya kamu itu menjadi bodoh. Ingat, suami kamu itu belum membayar lunas atas membalaskan dendamnya padamu.' Batin Nanney mengingatkan dirinya sendiri.


Karena sudah bosan berdiri sambil menikmati pemandangan, Gane memilih untuk duduk yang tidak jauh dari istrinya.


Sedangkan Nanney sendiri masih dengan posisinya yang mana sedang menikmati pemandangan yang membuatnya takjub.


Berbeda di tempat lain ada Ciko yang sedang berbicara dengan anak buahnya. Tentu saja memberi perintah pada anak buahnya untuk melakukan sesuatu yang sudah direncanakannya.


"Ingat kalian semua, lakukan sesuai perintah ku. Jika kalian semua gagal, aku tidak segan segan untuk melenyapkan kalian semua, paham." Ucap Ciko memberi perintah serta memberi peringatan kepada anak buahnya.


"Siap, Bos. Kami akan melakukan segala perintah dari Bos Ciko." Jawabnya, Ciko pun mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang juga, pergilah kalian berdua. Ingat, jangan mengecewakan, ingat itu." Ucap Ciko yang kembali mengingatkan anak buahnya agar tidak gagal melakukan perintah darinya.


__ADS_2