Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mengerjai


__ADS_3

Dan benar saja, Nanney terbangun dari tidurnya. Pelan-pelan Nanney menyempurnakan penglihatannya sambil meraba sisi kanan dan kirinya. Rupanya sang suami tengah memeluknya dengan tidur pulas.


'Yang benar saja, bangun jam tiga pagi seperti ini. Benarkah aku harus melayaninya di waktu jam segini? oh tidak.' Batin Nanney sambil memperhatikan suaminya tengah tidur pulas sambil memeluk dirinya.


Berkali-kali Nanney mencoba untuk berpikir lagi, Ia berusaha untuk melepaskan tangan suaminya yang tengah memeluk tubuhnya.


"Kau mau kemana? tidurlah, ini masih gelap." Tanya dengan mata yang terpejam dan semakin mengeratkan pelukannya.


Nanney sendiri pun sangat terkejut saat mendapati suaminya yang sudah bangun. Tentunya kegugupan itu dirasakan oleh Nanney sendiri, yang mana dirinya teringat dengan apa yang sudah dijanjikan pada suaminya.


"Aku mau ke kamar mandi, Kak." Jawab Nanney berusaha untuk melepaskan pelukan dari suaminya yang terasa sulit untuk bernapas karena begitu erat saat memeluk tubuhnya.


"Cepat sana pergi, jangan lama-lama. Awas saja kalau sampai tidur di kamar mandi, aku akan mengajakmu mandi bareng." Ucap Gane yang mulai menyempurnakan kesadarannya.


"I-ii--iya Kak, ya." Jawab Nanney dan segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Gane mengubah posisinya dan memilih untuk bersandar sambil menunggu istrinya keluar.


Nanney yang berada didalam kamar mandi, bukannya segera buang air kecil, justru dirinya sibuk didepan cermin.


"Yang benar saja, jika aku harus melayaninya. Waktu itu kan, aku dibawah pengaruh obat perang*sang. Tentu saja, aku menginginkan itu meski tanpa rasa cinta sekalipun. Sedangkan lelaki jika menginginkan nya bisa melakukannya tanpa cinta, sedangkan aku ini perempuan. Orang lain mungkin bisa, tapi aku? ah kenapa pikiranku jadi kotor begini sh." Gumamnya sambil berdiri didepan cermin.


Gane yang tidak mendapati istrinya keluar dari kamar mandi, semakin mencurigainya.


"Kau mandi atau tidur?" tanya Gane sambil menggedor pintunya, Nanney terperanjat dan cepat-cepat untuk membuka pintunya.


"Aku tidak mandi maupun tidur. Tadi perutku mules banget, serius." Jawab Nanney sambil menatap suaminya dengan gugup, takut dengan apa yang dipikirkan nya itu benar-benar nyata, pikirnya sambil memainkan tangannya agar tidak gugup.


"Sudah sana kembali ke tempat tidur, minggir." Ucapnya dan langsung masuk ke kamar mandi.


Nanney seperti menang lotre. Pasalnya, jika dirinya tengah diminta untuk tidur. Yang berarti, bahwa dirinya tidak diminta untuk melayani suaminya sebagaimana hubungan suami-istri.

__ADS_1


"Akhirnya aku disuruh tidur lagi, yang berarti aku tidak diminta untuk melayaninya." Gumamnya dengan penuh kemenangan, kemudian ia langsung menyelimuti tubuhnya dan kembali untuk tidur dengan posisi miring ke kanan, alias membelakangi suaminya.


Saat itu juga, Nanney tidak menyadarinya jika sang suami sudah duduk bersandar disebelahnya karena sedari tadi ia tidur dengan posisi miring.


"Siapa yang menyuruh kamu untuk tidur? aku menyuruh kamu itu untuk kembali ke tempat tidur. Jadi, punya telinga dan otak itu harus di sinkronkan."


Seketika, Nanney langsung terbangun dari posisinya dan menatap pada suaminya.


"Jadi, Kak Gane serius?" tanya Nanney dengan detak jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan napasnya tiba-tiba terasa panas, serasa ada sesuatu yang membuatnya kesulitan untuk bernapas.


Saat itu juga, Gane langsung mengubah pencahayaan lampunya menjadi redup dan membuat Nanney maupun Gane teringat dengan apa yang sudah pernah dilakukan oleh keduanya.


Tatapan Gane semakin mendalam saat menatap istrinya dengan pencahayaan yang redup, Nanney semakin bingung harus memulainya darimana.


'Bagaimana ini? apakah Kak Gane benar-benar serius memintanya? aku tidak yakin jika aku bisa melayaninya. Mana aku bisa, aku sendiri belum siap.' Batinnya yang dihantui dengan kegugupan, bahkan tatapan diantara keduanya tidak ada yang berkedip sama sekali dan netra nya saling bertemu bak terhipnotis.


Gane mulai mendekati istrinya dengan jarak yang sangat dekat, Nanney sendiri dapat merasakan napas hangat milik suaminya.


Gane tersenyum, kemudian ia berpikir sejenak.


CTAK!


"Aw! sakit, tau." Pekik Nanney merasakan sakit pada bagian keningnya.


Bukannya mendapatkan ciuman hangat seperti yang sudah-sudah, justru ia mendapatkan sentilan dari sang suami.


Susah payah Nanney membayangkan dan agar bisa terbawa suasana yang sudah tercipta dengan romantisnya, tiba-tiba bak mimpi buruk.


"Belum saatnya kita melakukan itu, ayo tidur." Ucap Gane dan membaringkan tubuhnya, sedangkan Nanney tengah mengusap keningnya yang mendapat sentilan dari suami.

__ADS_1


Nanney tersenyum lega, rupanya sang suami tidak memaksa dirinya untuk melayaninya.


"Kak Gane serius tidak mau aku layani?" tanya Nanney dengan berani untuk memastikannya.


"Pertanyaan macam apa itu? sudahlah cepetan tidur, makin lama makin ngelantur omongan mu itu." Jawab Gane dan menarik tubuh istrinya, kemudian langsung memeluknya.


"Jangan banyak bertanya, waktunya untuk tidur itu ya tidur." Kata Gane sambil menyelimuti tubuh istrinya, Nanney pun tersenyum tanpa sepengetahuan suaminya.


'Apakah ini pertanda Kak Gane tidak akan membalaskan dendamnya padaku? semoga saja tidak.' Batin Nanney penuh harap, yakni sang suami tidak akan membalaskan dendamnya atas kematian sang adik.


Karena ada sedikit rasa kelegaan karena tidak jadi untuk melayani sang suami, Nanney memilih untuk memejamkan kedua matanya dan tertidur lelap.


Gane masih dengan posisinya dan juga belum tidur. 'Ada apa denganku, kenapa aku begitu lemah dihadapan perempuan ini. Padahal peluang nya sangat bagus untuk membuatnya jatuh cinta padaku, setelah itu aku tinggalkan. Tapi ... aku merasakan adanya sesuatu yang terus mengganggu konsentrasi ku.' Batin Gane yang kembali dilema atas rencananya sendiri.


Karena sulit untuk memejamkan matanya, Gane memilih untuk bangkit dari tempat tidur dan memilih berada di kamar Ciko.


Untuk membuang rasa penat yang ada dikepalanya, Gane membuka laptopnya dan berharap ada kabar bagus untuk diterima.


Benar saja, saat membuka laptopnya dan menyalakan nya, sebuah pesan telah masuk ke alamat @mail nya. Senyum mengembang tengah menghiasi kedua sudut bibirnya.


"Semoga saja ada kabar baru yang dapat mengurangi kepenatan dalam otakku ini." Gumamnya sambil membuka pesan masuk.


Dengan sangat teliti, Gane membuka pesan masuk ke alamat @mail nya. Tanpa ada satu katapun yang ia lewati, kalimat demi kalimat ia baca dengan seksama.


"Apa! hanya tertukar? tidak, aku tidak percaya jika hanya tertukar. Aku yakin, jika ada yang merencanakan nya." Gumamnya masih merasa dongkol, Gane kembali membuka pesan yang kedua dan membacanya dengan lebih teliti lagi.


"Ciko, cih! kirain pesan tentang Pengacara Elyam." Gumamnya lagi dan memilih untuk membuka video kenangannya bersama keluarganya dimasa lalu.


Didalam video tersebut ada sebuah cerita dirinya dengan gadis kecil masa lalunya, Gane langsung mematikan laptopnya.

__ADS_1


Entah kenapa, sejak dirinya melakukan kesalahan bersama istrinya, Gane merasa tidak pantas untuk mengingat gadis kecilnya dulu.


__ADS_2