Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Terasa sakit


__ADS_3

Saat berada didalam kamar, Nanney celingukan dan memperhatikan pada setiap sudutnya.


Saat hendak duduk di tepi ranjang, sepasang matanya tertuju pada sebuah bingkai yang tidak jauh beda dengan milik kakak iparnya. Karena rasa penasaran, Nanney meraihnya dan memperhatikan foto tersebut dengan seksama.


"Tunggu tunggu, bukankah gadis kecil ini yang ada di foto bersama kak Gane?" gumamnya sambil bertanya tanya.


"Ah ya, mungkinkah foto gadis kecil ini adalah foto adiknya? mungkin saja begitu." Ucapnya lirih sambil menebaknya.


Karena merasa jenuh dan juga mengantuk, Nanney memilih untuk berbaring di tempat tidur. Sambil menatap langit-langit kamar, saat itu juga Nanney teringat pada suaminya yang juga tidak kunjung ditemukan jasadnya.


Kerinduan yang ia lalui seakan mengisahkan sebuah kenangan yang cukup pahit untuk diingatnya kembali. Sambil mengganti posisinya yang miring ke kanan, tak sadarkan diri jika ia menitikkan air matanya dan membasahi kedua pipinya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Begitu tersiksa nya aku harus menanggung semua ini. Yakinkah aku mampu melewati semua ini? aku sendiri pun tak tahu. Apa yang sebenarnya terjadi, sayang ... benarkah kamu sudah pergi untuk selama lamanya? ataukah kamu masih hidup, aku pun tidak tahu. Aku hanya berharap, semua ini hanyalah mimpi. Mimpi, ya! mimpi burukku." Ucapnya lirih sambil mengusap air matanya.


Pahit, sakit, kecewa, rindu, semua membeku menjadi satu didalam relung hatinya. Berteriak, itupun tidak akan pernah mengubahnya. Sesenggukan ia terus menangis, menangisi segala kisah pilunya harus ia lewati dengan sendiri.


Jangankan penyemangat hidupnya, jejak hidupnya sendiri tak mampu untuk ia ingat kembali. Kenangan seperti apa, tak ada sepintas dalam ingatan kebahagiaannya dengan sempurna.


"Masih adakah sisa bahagia untukku yang rapuh ini? mungkinkah? mungkinkah sudah tidak ada lagi luang sedikitpun untukku?"

__ADS_1


Napas yang terasa sesak karena menangis sesenggukan, Nanney mencoba untuk menepis kegundahannya. Kemudian sebisa mungkin untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, esok pagi kan ia temui bahagia. Hanya khayalan yang dibarengi harapan bagi Nanney untuk temui kebahagiaan dikemudian hari.


Sepasang matanya pun terpejam, ingatannya seakan mulai melemah. Rasa kantuk mulai menguasainya dan tidak sadarkan diri telah menidurkan nya dengan pulas berasa di alam mimpinya.


Sedangkan di kamar sebelah, Gane merasakan sesuatu yang terasa sakit untuk ia tahan. Bahkan napasnya mulai terasa sesak dan sulit untuk mengatur pernapasannya sendiri. Untuk berteriak saja terasa berat dan juga sulit. Sambil menahan rasa sakit pada bagian dadanya, Gane berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Naas, ia tidak mampu meraih tombol yang ada didekatnya itu. Seketika, Gane menjatuhkan gelas yang bisa ia lakukan.


Ciko yang mendengarkannya pun, ia segera bangkit dari posisinya yang tengah tiduran di atas sofa. Cepat-cepat ia berlari menuju kamar milik Bosnya, dan tentu saja tidak peduli jika harus mendobrak pintu kamarnya.


"Bos!" teriak Ciko cukup keras dengan suaranya dan ia langsung menangkap tubuh Gane yang hampir saja jatuh ke lantai. Setelah itu, Ciko membantu Gane untuk membenarkan posisi duduknya. Diambilkan nya obat untuk menghilangkan rasa sakitnya itu beserta air minumnya.


"Bos, ini obatnya diminum dulu." Ucap Ciko sambil menyodorkan obat serta air minumnya. Bukannya menerimanya, justru Gane langsung menepis nya hingga terlempar cukup jauh karena ulahnya.


Gane masih tersengal atas napasnya yang terasa begitu sesak, dan tentu saja dengan segala banyaknya yang sedang ia pikirkan hingga mengakibatkan rasa sakit yang begitu dalam.


"Kenapa tidak aku saja yang mati, Cik. Kenapa mesti Regar, kenapa Cik. Seharusnya yang mati itu aku, bukan Regar, Cik. Regar yang harusnya bahagia, dan aku mati menyusul Clara." Ucap Gane dengan segala emosinya sambil menyalahkan dirinya sendiri.


Ciko masih diam, ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa, pikirnya.


"Aku sendiri pun tidak tahu, Bos. Mungkin semua akan ada jawabannya, tapi aku tidak tahu waktunya itu kapan. Aku mohon sama kamu, Bos. Jagalah kesehatan kamu, Bos. Jangan terlalu banyak berpikir, dan hentikanlah balas dendam nya terhadap Nona Nanney." Ucap Ciko yang berusaha untuk mengingatkan Bosnya agar tidak jatuh semakin dalam, yakni mengenai masalahnya sendiri serta masalah dendam yang diambil dari idenya yang tidak ia pikirkan sebab dan akibatnya.

__ADS_1


"Tidak, selagi aku belum puas, aku akan membalaskan dendam ku pada perempuan sial itu. Aku tidak akan pernah terima dengan kematian adikku, ingat itu, Ciko." Kata Gane masih pada pendiriannya yang tidak bisa untuk digoyahkan sedikitpun. Tidak peduli kesehatannya sendiri yang sedang menahan rasa sakitnya untuk bernapas.


"Terserah Bos Gane saja, yang terpenting aku sudah mengingatkan Bos Gane berulang kali tanpa bosan. Dan sekarang aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, aku angkat tangan." Ucap Ciko yang mana dirinya juga memberi tantangan pada Bosnya, tentunya untuk tidak ikut campur atas balas dendamnya pada adik iparnya sendiri.


"Aku mau tidur, ambilkan obatnya untukku. Ingat, besok pagi kau harus menjemput Dokter kepercayaan ku." Perintah Gane dengan sebuah pesan untuk Ciko yang sudah menjadi kaki tangannya, bahkan remot kontrolnya.


Ciko pun mengangguk dan mengambilkan nya lagi air minum serta obat yang harus dikonsumsi oleh Gane dengan rutin, sebagaimana nyawanya yang kapan saja bisa berada di ujung tanduknya.


Bukan karena tidak mampu untuk mensejajarkan statusnya, Ciko tidak akan pernah lupa pada sebuah pesan yang ia terimanya sebagai pesan yang sangat berarti untuknya.


"Ini obatnya, Bos." Ucap Ciko sambil menyodorkan obat beserta air minumnya.


Pelan pelan Gane menarik napasnya meski terasa sesak, sebisa mungkin untuk bisa melakukannya. Sehabis mengatur pernapasan nya, Gane meminum obatnya satu persatu hingga tidak lagi tersisa ditangannya.


Selesai meminum obatnya, Gane meminta pada Ciko untuk tidur bareng berada di dalam kamarnya. Ciko yang masih merasa takut jika terjadi sesuatu pada Bosnya, ia akhirnya menerima ajakan dari Gane.


"Aku tahu, kamu pasti menyuruh perempuan sial itu untuk tidur di kamar kamu, 'kan?"


"Entah kenapa, aku tidak tega melihatnya jika harus tidur di atas sofa. Apalagi aku juga mempunyai seorang adik perempuan dan juga seorang Ibu yang harus dihormati serta diperlakukan dengan baik."

__ADS_1


Gane yang mendengarkan penuturan dari Ciko, ia sendiri tidak bisa berkomentar apapun jika sudah mengenai adik perempuannya yang pernah ia sukai sejak dulu. Meski dibilang cinta monyet oleh banyak orang yang beranggapan, tetap saja cinta yang indah tanpa beban, pikir Gane.


Malam semakin larut, sebisa mungkin Gane dapat memejamkan kedua matanya dan bermimpi indah yang penuh warna. Tidak lupa dengan hadirnya perempuan yang selama ini ia rindukan.


__ADS_2