
Dalam perjalanan pulang, Ciko masih kepikiran dengan pesan dari istri Bosnya. Takut, ia akan lupa dengan pesannya itu.
"Cik, kamu kenapa? perasaan dari tadi kamu seperti sedang banyak pikiran." Tanya Doin sambil menyetir mobilnya.
Ciko menoleh, lalu mengusap wajahnya.
"Aku sedang memikirkan pesan dari Nona Nanney, kalau tidak dapat ditemukan, bagaimana?"
"Jawab saja dengan jujur, kalau kita tidak bisa menemukan barang yang dimaksudkan oleh Nona Nanney. Masa ya, kita mau berbohong."
"Bukannya tidak mau berkata jujur, Doin. Tadi kamu sudah melihatnya sendiri, 'kan? Nona Nanney seperti ketakutan gitu."
"Ya, aku juga penasaran. Ah sudahlah, kita pikirkan nanti saja. Lebih baik kita cari dulu barang yang dimaksudkan, baru kita berpikir untuk mencari alasan jika tidak tidak ditemukannya barang itu." Kata Doin memberi solusi.
"Benar juga apa yang kamu bilang, baiklah kalau begitu." Jawab Ciko dan menganggukkan kepala.
Karena masih memakan waktu yang cukup lama, Ciko memilih untuk bersandar dan memejamkan matanya agar bisa tidur walaupun hanya beberapa menit saja.
Sedangkan dalam tahanan, Gane tengah berpikir untuk mencari solusi. Berulang kali ia mencoba untuk mengingat sesuatu, akhirnya menemukan sebuah ide yang cukup cemerlang, pikirnya.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menemukan titik terangnya?" tanya Iswan yang juga ikut membantu mencari solusi untuk menyelesaikan masalahnya.
Sebelumnya, Gane menceritakan semua kejadian awal mula masalah mulai menimpanya. Kini, sedikit demi sedikit, Gane menemukan ide.
"Ya, aku sudah menemukan idenya. Setelah Ciko datang kesini, aku akan memberinya tugas yang cukup berat." Jawab Gane.
"Kamu yakin jka Ciko bisa melakukannya?"
"Aku yakin itu, Ciko cukup handal untuk melakukannya. Hanya saja, kadang dia tidak konsentrasi."
__ADS_1
"Semoga saja Ciko segera datang, dan masalah yang akan kamu tangani, kamu dapat menyelesaikan nya dengan baik."
"Hanya itu yang bisa aku harapkan untuk bisa lepas dari tempat terkutuk ini. Aku benar-benar ingin menebus semua kesalahanku selama ini dengan istriku."
"Baguslah, jika tujuan kamu adalah pada calon anak dan istrimu. Aku mendukung mu, dan aku akan membantumu lewat beberapa anak buah ku. Jumlahnya tidak banyak, tapi cukup handal juga."
"Terus, kenapa kamu tidak berusaha untuk keluar dari tempat terkutuk ini?"
"Sudah aku bilang, aku tidak ada gunanya keluar dari tempat ini. Anak dan istriku sudah tiada, aku memilih ditempat ini karena aku banyak menemukan teman."
"Begitukah cara berpikir mu, Bro? salah besar kalau begitu. Bagaimana kalau kita keluar bersama, walaupun waktunya berbeda."
"Kamu tidak usah memikirkan aku, karena aku baik-baik saja. Lebih baik kamu perjuangkan istrimu beserta calon anak mu, kamu harus menuntaskan semua masalah mu."
"Tetap saja, aku akan membebaskan kamu setelah aku bebas nanti."
.
.
.
Sedangkan Ciko, kini dirinya sudah memasuki daerah perkotaan. Tidak perlu memakan satu jam atau dua jam, keduanya akan segera sampai ditempat tujuan. Yakni, tempat dimana yang dijadikan tempat tinggal bersama Bosnya selama pekerjaan berlangsung.
Dilain tempat, Nanney tengah duduk santai di belakang rumah menemani Nenek Aruma yang tengah memberi makanan untuk ternaknya.
"Nek, Henny masih lama kah, pulangnya?" tanya Nanney di sela-sela Nenek Aruma tengah disibukkan dengan wadah pakan ayam.
Nenek Aruma menoleh, kemudian meletakkan wadah pakannya dan mencuci tangannya.
__ADS_1
Sambil tersenyum, Nenek Aruma menghampiri Nanney yang sedang duduk santai.
"Dua hari lagi, Nak. Kamu sudah kangen, ya? sabar. Besoknya juga sudah pulang, kamu bisa sepuasnya untuk melepas rindumu pada Henny."
"Ya Nek, tidak tahu kenapa rasanya itu ingin sekali cepat-cepat bertemu dengannya. Habisnya, sudah lama Nanney tidak pulang ke rumah Nenek."
"Jangan-jangan bawaan si orok ini, kangennya kelewat. Jangan khawatir, Henny pasti pulang. Mau dihubungi saja, bagaimana?"
"Namanya bukan kejutan, Nek. Nanti pulangnya buru-buru, kasihan kalau terjadi apa-apa dijalan."
"Yang kamu katakan itu ada benarnya."
"Kata Nenek, Henny selalu menjaga jarak sama suaminya. Memangnya kenapa Nek? apakah mereka berdua itu dijodohkan?" tanya Nanney memberondong banyak pertanyaan.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Nanney, Nenek Aruma tersenyum padanya.
Saat itu juga, Nanney dan Nenek Aruma dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari ruang tamu. Terdengar jelas suara sosok perempuan memanggil Nenek Aruma untuk membukakan pintunya.
"Nek, sepertinya ada yang memanggil Nenek deh. Nanney bukakan pintunya tidak apa-apa kan, Nek?"
"Ya, buka saja pintunya. Palingan juga Mak Eros yang datang." Jawab Nenek Aruma.
"Mak Eros emaknya Arka?"
"Ya, Mak Eros emaknya Arka. Cepetan kamu buka pintunya. Nenek mau melanjutkan kasih makan ayam dulu." Kata Nenek Aruma.
"Ya Nek, Nanney masuk dulu."
Jreng jreng jreng... siapa siapa oh siapa ya... bab selanjutnya kejutan. 😅😅😆
__ADS_1