
Saat sudah didepan mobil, perasaannya kini berubah campur aduk.
"Ayo, mau menunggu apa lagi? masuklah." Ucap Gane saat sudah membuka pintu mobilnya bagian depan.
"I--iya, Kak." Jawabnya sedikit gugup, lalu segera masuk ke dalam mobil.
Saat dalam perjalanan, Gane melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nanney terus menatap luar lewat jendala kaca disebelah nya. Sedangkan Gane sendiri, dia fokus dengan setir mobilnya dan menatap lurus ke depan.
"Kak, kita mau pergi kemana?" tanya Nanney yang akhirnya membuka suara dan menoleh pada suamnya.
"Jangan banyak bertanya, kita mau makan malam. Satu lagi, jangan kau panggil aku Kakak, panggil yang lainnya. Karena aku bukan Kakakmu, paham." Jawab Gane sambil menatap lurus ke depan.
"Memangnya aku harus memanggil siapa?" tanya Nanney yang tidak tahu harus memanggil siapa pada suaminya.
"Terserah kau saja, yang jelas jangan kau panggil aku Kakak, ngerti." Kata Gane yang tidak menoleh sedikitpun pada sang istri.
"Ya udah, aku panggilnya Om saja kalau gitu." Kata Nanney tidak kalah juteknya dan ja juga tidak menoleh sedikitpun pada suaminya.
Sssstttttt
Gane langsung menghentikan mobilnya begitu saja, tentu saja secara mendadak. Kemudian ia menoleh pada istrinya, lalu mendekatkan nya lagi didekat wajah istrinya.
"Kau bukan gadis kecil lagi. Jadi, jangan kau panggil aku Om." Ucap Gane dengan jarak yang begitu dekat.
"Baik, baiklah. Kalau begitu aku akan memanggil mu Abang." Kata Nanney sambil angkat tangan, Gane segera mundur kebelakang.
"Terserah kau saja, lama-lama tensi ku naik drastis jika harus meladeni mu." Ucapnya, kemudian ia langsung melajukan kembali mobilnya dengan menambahkan kecepatannya.
"Dasar aneh, yang tensi nya naik itu ya aku. Kenapa dia yang ngaku ngaku, yang selalu di bentak juga aku, yang selalu kena omel juga aku. Lantas, kenapa mesti aku yang disalahkan." Gerutu Nanney tanpa sadar jika suaminya dapat menangkap suara yang ia ucapkan.
__ADS_1
Lagi-lagi Gane mengerem mobilnya sedara mendadak, dan menyerong kan badannya dan kini wajahnya sudah menatap lekat pada istrinya dengan satu tangannya masih memegangi setir mobilnya dan cepat kikat, Gane menutup mulut istrinya dengan bibirnya.
Saat itu juga, Nanney sangat terkejut atas apa yang dilakukan suaminya.
"Ulangi lagi ucapan mu itu yang sudah membuat telingaku panas, apa perlu aku melakukan hal yang lebih. Kau ini sudah sah menjadi istriku, dan aku berhak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mencium mu." Ucap Gane setengah mengancam. Bukannya ketakutan, justru Nanney tersenyum pada suaminya.
"Benarkah aku ini istrimu yang sah? kalau iya, berarti aku pun sama status nya seperti Abang." Kata Nanney dan mengedipkan matanya sedikit genitx tidak lupa juga ia memegangi dagu milik suaminya dengan keberaniannya dan tersenyum menggoda. Gane yang melihat keanehan pada istrinya, justru dirinya bergidik ngeri melihatnya. Bukannya tergoda, yang ada merasa geli, pikir Gane yang akhirnya ia membenarkan posisi duduknya.
"Jangan macam macam denganku, ngerti."
"Ya, ya, Bang." Kata Nanney.
"Kau ngira aku ini Abang bakso, Abang somay."
"Habisnya dipanggil Kakak, tidak mau. Dipanggil Om juga tidak mau, ya udah terima aja jika aku panggilnya Abang." Jawab Nanney sambil melirik pada suaminya yang sedang menyetir.
"Terserah, mulut mulut kamu sendiri." Ucap Gane yang tetap bersikap kaku dan juga keras.
"Kita sudah sampai, ayo turun."
"Sampai?" tanya Nanney sambil memperhatikan disekitarnya.
"Ya, kita sudah sampai. Jangan banyak tanya dan jangan memancing emosiku, kalau kau ingin baik-baik saja." Kata Gane sambil melepas sabuk pengaman.
Nanney yang juga sudah merasa lapar dan perutnya minta diisi, ia segera turun dari mobil.
Gane yang merasa diikuti oleh seseorang, ia berusaha untuk waspada. Takut terjadi sesuatu hal buruk pada istrinya, Gane langsung menggandengnya.
Nanney merasa bingung saat sang suami menggandeng tangannya layaknya pasangan suami istri beneran yang ia lihat pada umumnya.
__ADS_1
'Suamiku ini sedang berakting kah? atau ... mau mengambil kesempatan emas, lagi.' Batinnya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan milik suaminya, tentunya rasa ingin tahu kenapa dan kenapa, pikirnya.
Bukannya di lepas, justru Gane mempererat genggaman nya dan membuat jari-jari tangan istrinya terasa mau patah.
"Jangan banyak tingkah kalau kau ingin selamat, kita ini sedang diincar masa." Ucap Gane berbisik didekat telinganya dan diakhiri ciuman lembut di bagian pipi kirinya.
Nanney membulatkan kedua bola matanya karena terkejut, lagi-lagi dirinya harus kecolongan.
'Sialan! enak banget dia, dari tadi nyium terus. Dia pikir aku ini boneka, main cium cium segala. Awas aja, sampai rumah bakal aku kerjain lagi. Tentu saja tidak sebodoh dan teledor seperti tadi.' Batin Nanney berdecak kesal atas sikap suaminya yang mulai berani, pikirnya.
Tanpa merasa berdosa, Gane berjalan masuk kedalam Restoran. Tanpa ada rasa malu dan canggung, Gane terus menggandeng tangan istrinya sampai di tempat duduk yang sudah dipesankan sedari dirinya sebelum berangkat. Sepasang matanya terus memperhatikan di sekeliling nya, tentu saja dengan jarak yang jauh sekalipun.
Seperti sepasang suami-istri yang lainnya, Gane menarik kursi untuk istrinya. "Duduklah," kata Gane pada sang istri. Sedangkan Nanney merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Ingin bertanya, takut suaminya akan besar kepala, pikirnya.
Karena malas untuk ingin tahu dengan sikap suaminya, Nanney hanya mengikuti perintah dari suaminya. Entah apa yang akan dilakukan suaminya sendiri itu, Nanney tidak begitu pusing untuk memikirkannya. Selagi masih tidak menyiksa fisiknya, Nanney tidak begitu peduli.
Saat keduanya sudah duduk dan saling berhadapan, kini datanglah dua orang pelayan tengah membawakan pesanan yang sudah dipesan sebelumnya dengan nomor mejanya.
Nanney memperhatikan menu makanan yang ada di hadapannya itu, yang tidak lain menu makanan kesukaannya. Senyum berbinar telah menghias kedua sudut bibirnya, justru Gane mengernyitkan keningnya merasa aneh melihat ekspresi istrinya itu.
Nanney yang tersadar diperhatikan suaminya, pikirannya kembali saat dirinya diminta untuk menghabiskan sisa makanan suaminya.
"Kenapa kau tersenyum? ada yang lucu kah?"
"Ah, tidak ada." Jawab Nanney beralasan.
"Ayo kita makan, aku tidak mempunyai waktu banyak di Restoran ini. Kita harus segera pulang, aku ada urusan bersama Ciko. Jadi, jangan banyak bertanya, apalagi memancing emosiku, kau akan mendapatkan akibatnya." Ucap Gane, sang istri hanya mengangguk dan meraih gelas yang berisi air putih.
Tidak ada yang bersuara diantara keduanya, sama-sama hening dan sibuk dengan porsinya masing masing. Sesekali Gane memperhatikan istrinya saat mengunyah makanannya, kemudian ia melanjutkan kembali untuk menyuapi mulutnya sendiri.
__ADS_1
Setiap mengunyah makanannya, sepasang matanya terus mengawasi disekitarnya.